Happy reading_
•••
Satu detik bersamanya akan terasa lebih berharga ketika kamu tahu detik-detik itu akan membawanya untuk pulang.
—Recaka
•••
Jovan merasa terpojok lebih-lebih ketika Aegir terus mendesaknya dengan pertanyaan ini, ia menghela napas kemudian menjawab, "Entar lo tanya sendiri aja sama kak Tirta."
Hanya satu kalimat yang ia ucapkan sebelum mengambil motor dan melesat keluar sekolah. Mendengar jawaban darinya semakin membuat Aegir yakin jika ada yang mereka sembunyikan. Namun, untuk sekarang mau tak mau Aegir pasrah. Aegir dan Nuha segera menyusul Jovan.
Awalnya begitu sampai di rumah sakit Aegir ingin langsung menanyakan hal ini ke Tirta, tetapi dia tidak setega itu apalagi melihat tawa yang terdengar renyah.
"Abang!" sapa Alayya menghentikan tawa, dia memberi tahu Aegir benda apa yang telah Tirta berikan. "Bagus, 'kan dari Kak Tirta."
Aegir hanya mengangguk, sungguh pikiran dan perasaannya sedang kacau. Dia merasakan ada yang aneh. Akan tetapi, dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti alur yang terjadi.
"Bagus, Ay. Euhm ... Kak?" panggil Aegir membuat laki-laki yang saat ini mengenakan baju rumah sakit menoleh kepadanya. "Ada apa, Gir. Kenapa mukamu tegang gitu? Oh, ya Valdrin menunggumu di kantin rumah sakit. Katanya ada yang mau ia bicarakan."
Tanpa banyak berpikir Aegir ke sana bersama Jovan, mereka takut Aegir dan Valdrin malah berantem. Makanya harus ada satu orang lagi sebagai penengah.
"Gue lihat lo udah baikan nih, Kak. Bisa dong buka bengkel lagi," canda Nuha mencomot potongan buah di meja begitu saja, tanpa seizin pemiliknya. Tirta hanya mengangguk kemudian berkata, "Kamu bisa, 'kan ngatur bengkel?"
"Cielah, gitu doang mah gampang! Kan udah makanan gue tiap hari," katanya dengan tawa renyah. "Bagus deh, inget apapun yang terjadi jangan putus sekolah, Ha."
"Iya, Kak. Gue akan simpan nasihat lo baik-baik, ya nggak, Ay." Nuha menaikkan salah satu alis, Alayya yang berada di samping kanan Tirta hanya mengiyakan. "Tadi Aya jalan-jalan ke taman sama Kak Tirta dan Kak Valdrin."
"Syukur deh setan sultan tuh udah sadar," sahut Nuha sembari memasukkan potongan buah ke mulutnya. "Lha, Kak. Itu buah buat Kak Tirta bukan buat Kak Nuha!"
"Hilih, orang Kak Tirta aja diem aja kenapa lo protes dah!" kesal Nuha saat Alayya mengambil piringnya kemudian meletakkan di meja lagi. "Nggak papa, Ay. Nanti pasti ada lagi."
"Nah, bener!" serunya sembari mengacungkan jempol ke udara. Tak lama ketiga orang kembali dan Aegir mengajak Alayya untuk pulang sebentar, untuk berganti baju begitu halnya Jovan dan Nuha.
"Aya, pulang dulu, Kak," pamit Alayya membawa bingkisan itu. "Hati-hati jangan ngebut."
"Tergantung Abang hehe, besok Aya ke sini lagi," tuturnya melambaikan tangan sebelum keluar ruangan.
******
Hari ini Tirta sudah diperbolehkan pulang, karena kondisinya sudah semakin stabil. Ditambah dia sendiri tidak ingin berlama-lama di rumah sakit.
"Eh, beneran? Syukur deh, kalau begitu kita ke rumah kak Tirta?" Aegir menggeleng sedari menyiapkan makanan di meja makan untuk keduanya. "Sekolah, Ay. Cepet lo mandi terus pakai almamater lo, udah gue setrika noh di gantungan baju."
"Makasih, Abang. Aya sarapan dulu baru mandi boleh?" tawar Alayya tidak sabar mencicipi makanan buatan Aegir setelah sekian lama, ah iya dia sangat merindukan makanan khas buatan abangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
RECAKA [END]
Ficção Adolescente"Syarat hidup cuma satu, Ay." -Aegir Bhairavi. "Apa, Bang?" -Alayya Nalani. "Bernafas." -Aegir Bhairavi. Mereka kakak beradik yang tidak pernah tahu keberadaan orang tua dan dijadikan mesin penghasil uang pamannya. Melodi lautan dan ketenangan langi...
![RECAKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/302848331-64-k422298.jpg)