Happy reading_
•••
Karena baginya semua harus dibayar setimpal, entah bagaimana pun caranya.
—Recaka
•••
"Buka!" pinta seorang laki-laki pada satpam di depan gerbang rumah besar, dia masih belum turun.
Tidak kunjung mendapat apa yang ia mau, laki-laki yang terbalut tuxedo bewarna hitam itu keluar dengan kharisma yang begitu kentara. Berjalan santai dengan tatapan lurus ke depan, beberapa orang kemudian menunduk ketika sadar siapa yang datang.
Meski ini bukan rumahnya, dia seakan memiliki akses masuk tersendiri diikuti beberapa pria di belakangnya. Kedua tangannya tetap masuk saku celana.
"Mister Zio!" ujarnya di depan pintu kamar lantai tiga, suaranya terdengar dingin nan mencekam.
Tidak sampai semenit pria yang bernama Zio keluar dengan mengenakan piyama tidur, tidak usah basa-basi dirinya langsung digeret remaja belasan tahun itu.
Pandangan tajam itu tidak teralihkan dari objeknya.
Brak!
Tirta membenturkan tubuh Zio ke dinding, menguncinya tidak peduli dengan anak buah Zio ataupun anak buahnya yang merasa kaget dengan tindakan malam ini.
Senyuman sumbang di bibirnya seperti singa yang siap menerkam mangsanya, laki-laki itu mengeluarkan belati lalu menggores telapak tangan kirinya.
"Mas Zio! Tuan, apa yang Anda lakukan!" teriak istri Zio histeris melihat suaminya tak berdaya di hadapan Tirta. "Bukankah Anda mempercayai suami saya?"
Tirta menoleh sembari melempar pisau ke sembarang arah. "Bukankah sudah saya katakan, jangan pernah menyakiti keluarga saya apalagi adik-adik saya."
Mendengar hal itu itu Zio yang masih meringis menahan sakit di telapak tangannya menyahut, "Saya tidak melakukan apapun."
"Tapi Anda tidak bisa menjaga putri dan anak buah Anda!" seloroh Tirta duduk di kursi, melihat istri dan beberapa anak buah Zio mengobati tangannya. "Zoey?"
Tirta mengangguk, dia menepuk tangan sekali langsung muncul dua orang pria yang membawa gadis dengan rambut panjang bewarna hitam tersebut ke hadapan mereka.
"Ini hanya peringatan, jika terulang hal yang sama saya pastikan akan lebih buruk dari ini," katanya mendekati Zoey yang masih menunduk.
"Cepat minta maaf, Zoey!" titah Zio masih tidak digubris olehnya. "Tapi, Dad. I nggak salah, I nggak pernah nyakitin Jovan, adik kak Tirta."
Tirta menaikkan alis. "Kamu pikir adikku cuma Jovan?"
Dia terkekeh pelan. "Aegir, Alayya, Valdrin, dan Nuha adalah tanggung jawabku."
Mendengar hal itu Zoey menahan diri meski hatinya bergejolak. Padahal dia sudah mengenal lama keluarga Tirta dan sejak lama ingin diakui sebagai adiknya bahkan kalau bisa lebih dari itu, tapi kenapa malah manusia-manusia sialan itu yang mendapat perhatian lebih dari Tirta.
Raut wajah Zoey langsung terbaca dengan jelas. "Iri?"
Gadis itu memalingkan wajah, benar kata Tirta dia iri lebih tepatnya ke Alayya. Kenapa harus Alayya yang mendapat perhatian Tirta, mengapa bukan dirinya.
"Serahkan bukti-bukti yang menunjukkan Alayya nggak bersalah, aku tahu kamu yang bawa semuanya," kata Tirta penuh penekanan. "Aku nggak bawa, Kak. Noh, si Champa!"
KAMU SEDANG MEMBACA
RECAKA [END]
Fiksi Remaja"Syarat hidup cuma satu, Ay." -Aegir Bhairavi. "Apa, Bang?" -Alayya Nalani. "Bernafas." -Aegir Bhairavi. Mereka kakak beradik yang tidak pernah tahu keberadaan orang tua dan dijadikan mesin penghasil uang pamannya. Melodi lautan dan ketenangan langi...
![RECAKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/302848331-64-k422298.jpg)