048 - Perubahan Itu Nyata

256 33 7
                                        

Happy reading_

•••

Perubahan itu nyata adanya, terima atau tidak itu akan tetap ada.
Recaka

•••


Kebetulan kursi Aegir tidak jauh dari Tirta saat melihatnya Tirta hanya menggelengkan kepala pelan, pagi tadi keduanya sudah bertemu dan saat Tirta menanyakan banyak hal dengan santai Aegir menjawabnya.

"Pak Airlangga membatalkan semuanya dan masalah gue nggak ngasih kabar ke elo ya karena nomer lo hilang. Udahlah nggak penting juga, 'kan?" Kemudian dia berlalu menemui adiknya di ruang make up.

"Benarkah itu Aegir? Kenapa ceroboh sekali," dumel Tirta seraya melihat Alayya berada di sisi panggung, dia sedang memainkan tangan sembari menggigit bibir bawahnya.

Tirta pun menghampirinya. "Ada apa, Ay. Kamu grogi?"

Sontak gadis itu mengangguk, dia menatap beberapa tamu undangan dan semua murid SMA Sky Light sedang berkumpul di aula ini.

"Sama Abang tadi ...."

Sadar bahwa perubahan Aegir pasti sedikit banyak mempengaruhinya, apalagi tadi mereka sempat bertemu.

"Jangan mikirin Aegir dulu fokus ke depan dan kalau udah di panggung terus kalau kamu takut jangan tatap mata audiens," sarannya membuat Alayya menatapnya. "Lalu?"

"Tatap dahinya karena ada beberapa tatapan mata yang takutnya buat down okay?" Setelah menghampiri Alayya, Rafaela memanggilnya melalui handy talking.

"Ketua yayasan udah datang, segera siapkan penyambutan. Ta?"

"Sebentar, Fel," sahut Tirta kemudian meninggalkan Alayya. "Good job, Ay."

" ... Kepada yang terhormat bapak Drs. Fahmi Amiruddin selaku ketua yayasan SMA Sky Light yang saya hormati ...."

Mulai dari awal hingga saat ini pidato Alayya sangat lancar, bahkan rasa groginya tertutup dengan kefasihannya dalam mengucapkan kata dan kepercayaan diri.

"Woah, bau-bau duit nih! Gue culik keluarganya terus gue porotin sabi lha," celetuk Nuha yang kebetulan di samping Valdrin. "Kakek gue, Nyet!"

"Nggak usah macem-macem, Ha. Bisa-bisa lo digampar sama cucunya," sahut Jovan tertawa renyah. "Kalau digampar pakai duit sih malah candu!"

Bugh!

Satu pukulan mendarat dengan sempurna di punggung Nuha. "Ngomong sekali lagi gue pastiin lo nggak bisa bangun dari tempat tidur."

"Njir, emang gue apaan g*blok!" Mereka malah membuat kegaduhan, tak sengaja Valdrin melakukan kontak mata dengan Alayya. Seakan tatapannya mengisyaratkan agar mereka jangan membuat kegaduhan. "Sorry, Ay!"

"Ayang!!" seru Nuha melihat Lyora yang baru saja datang ke aula, gadis itu menoleh ke kanan dan kiri saat dirasa aman Lyora menghampirinya sebentar. "Ayang selamat, ya atas kemenangan di turnamen bola basket beberapa hari yang lalu. Maaf, banget baru ngucapin sekarang."

Nuha mengangguk mengerti, hampir seminggu Lyora liburan bersama keluarganya. "Lha kan udah WA."

"Nggak afdhol, lha enaknya langsung," katanya meringis. Lyora memberikan beberapa bingkisan kepada Nuha. "Ini oleh-olehnya buat kalian dan ini buat ...."

Lyora melihat Alayya yang masih di atas panggung. " ... Alayya."

Dia sengaja memberikan gantungan kunci dan gatcher dream cantik buat Alayya. "Makasih, Ayang!!"

RECAKA [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang