Happy reading_
•••
Karena baginya keluarga tidak hanya yang ada ikatan darah, tapi lebih dari itu.
—Recaka
•••
Keberanian pria yang hendak menusuk Alayya membuat Aegir mau tak mau mau harus berlari cepat agar pisau itu tidak sampai melukainya.
Aegir mencekal pisau itu agar tidak sampai menyentuh tubuh adiknya, kini cairan berwarna merah kental mengucur dengan deras bahkan tetesannya mengenai tangan Alayya. Semakin erat olehnya menggenggam, semakin dalam pula lukanya.
"Lepasin, Gir!" timpal Valdrin sembari mengakhiri baku hantam tersebut, tapi begitu melihat tangan sahabatnya yang sudah mengucurkan darah dirinya terkejut bisa-bisanya menahan sesakit itu.
Jovan menghajar pria itu agar tangan Aegir terlepas dari genggaman pisau, agar tidak semakin melukainya sedangkan Valdrin berusaha mengeluarkan Nuha dari dalam mobil. Ya Nuha El-Fatih yang sejak tadi menjadi pemeran pantomim bertukar baju dengan teman lama yang Alayya hubungi kemarin, tapi sayangnya Alayya tidak sadar dan masih menganggap jika itu adalah teman lamanya.
"Lo nggak papa, Ha?" Nuha menggeleng seraya menghampiri Aegir yang membopong Alayya menepi dengan darah yang terus mengucur dari tangannya, masa bodoh dengan gerombolan pria yang meloloskan diri.
"Aya ... Bubble ... Alayyya Nalani ...," kata Aegir berusaha menyadarkan adiknya dengan menepuk kedua pipinya.
Keempat remaja itu panik melihat Alayya tak sadarkan diri juga.
"Aya!" Bahkan Valdrin, Jovan, dan Nuha pun berusaha untuk mengembalikan kesadaran Alayya. "Gue cari air dulu, siapa tahu entar bisa bangun kalau diciprati air."
"Gue ikut!" Nuha menyusul langkah Valdrin.
Tangan kiri Aegir yang terluka digunakan untuk menopang kepala adiknya, sedang tangan kanan masih sibuk menepuk halus pipi Alayya.
"Gir, tangan lo obati dulu sana," saran Jovan membuat Aegir menggeleng dengan cepat, prioritasnya saat ini hanyalah kesadaran Alayya. Selain itu semua bisa dikerjakan nanti, dia tidak bisa membayangkan jika adiknya pergi.
"Ayo dong, Ay. Bangun, jangan bikin gue khawatir ...," lirih Aegir tidak mengalihkan pandangan dari wajah Alayya, saking khawatirnya sudut mata Aegir sampai berair.
"Kita bawa ke rumah sakit gimana?" Aegir menggeleng. "Jauh, Jon. Mau naik apa?"
"Gue cariin taksi online dulu," saran Jovan langsung mengeluarkan ponsel kemudian membuka sebuah aplikasi.
Melihat sudah berhasil memesan taksi Jovan berkata, "Segera ke sini, Gir."
Meski begitu, masih belum mengurangi rasa kekhawatiran Aegir seolah ucapan Jovan hanya angin lalu yang tak digubris.
******
Setelah berkendara beberapa meter akhirnya mereka menemukan sebuah toko yang menyediakan air, tapi ada suatu kejanggalan kenapa tokonya ditutup padahal ia lihat dari pintu kaca yang transparan masih ada pembeli.
Apa perasaan gue aja kali, ya, batin Aegir tetap nekat untuk berniat masuk, tapi saat Valdrin di depan pintu seorang karyawan toko menghentikannya dari dalam.
"Pasti kamu yang habis berantem tadi, 'kan? Mau apa kamu ke sini, mau bikin rusuh? Saya tidak akan membiarkan itu terjadi," ucapnya memberikan peringatan dengan tegas. Valdrin dan Nuha sampai heran sendiri.
Karyawan laki-laki dengan seragam berwarna biru tua tidak membukakan pintu, justru dia mengusir keduanya.
"Mau beli minum buat temen gue yang pingsan, gue nggak mau ngerusuh." Sepertinya karyawan itu tidak mengerti dengan bahasa Valdrin atau apa mereka hanya pura-pura.
KAMU SEDANG MEMBACA
RECAKA [END]
Teen Fiction"Syarat hidup cuma satu, Ay." -Aegir Bhairavi. "Apa, Bang?" -Alayya Nalani. "Bernafas." -Aegir Bhairavi. Mereka kakak beradik yang tidak pernah tahu keberadaan orang tua dan dijadikan mesin penghasil uang pamannya. Melodi lautan dan ketenangan langi...
![RECAKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/302848331-64-k422298.jpg)