Happy reading_
•••
Karena tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan.
—Valdrin Sagara
•••
Setelah melewati serangkaian test bahkan ada soal hot akhirnya Valdrin masuk sepuluh IPA 1, langsung kelas unggulan karena melihat kemampuannya yang mumpuni.
Sebenarnya keluarga pengen Valdrin menjadi dokter, tapi saat Valdrin memilih jalan lain mereka pun tidak masalah dulu sewaktu ia mengambil jurusan IPS karena mau terus bersama sahabatnya. Kini impian keluarganya terasa begitu dekat.
"Selain buat Aya, gue juga mau wujudin impian Uncle dan Aunty," kata Valdrin kepada Aegir. "Tapi lo nggak papa, 'kan?"
"Iya, entar kalau otak lo nggak nyampe gimana?" goda Nuha menertawakan sahabatnya. "Heh, nggak ada filter tuh mulut! Lo kira otak lo sama otak Valdrin sama? Beda tingkatan brodi!"
"Heleh lo juga nggak di filter tuh mulut!" Nuha dan Jovan malah ribut sendiri, tak ayal mereka jadi pusat perhatian.
"Udah nggak usah terlalu dipikirin," jawabnya enteng sekaligus mengakhiri perdebatan mereka, saat bel masuk mereka segera masuk ke kelas masing-masing.
Hal pertama saat Valdrin menginjakkan kaki di kelas ini adalah canggung. Bagaimana tidak yang biasanya masuk kelas disambut oleh kegaduhan, kini suasana kedamaian begitu terasa.
Tidak ada yang mencurigakan sejak tadi, bahkan sepertinya kelas ini tidak tahu menahu soal Alayya. Mereka terkesan biasa, seolah tidak mengerti atau mungkin saja tidak mau ikut campur urusan.
Pandangan Valdrin tidak pernah terlepas dari seorang perempuan yang sejak awal dia masuk selalu tertawa, bahkan menurutnya berlebihan.
"Sinting tuh bocah!" serunya berniat meninggalkan kelas, karena bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit yang lalu.
"Aku duluan, ya Valdrin!" seru Chana sedikit berteriak, seorang gadis yang menurut Valdrin hiperaktif. Teriakannya membuat laki-laki itu terus mengusap dadanya. "Untung gue nggak punya penyakit jantung!"
Di belakang sekolah, lebih tepatnya di sebelah parkiran dia langsung bergabung bersama teman-temannya, meski sudah berbeda kelas tetap saja circle pertemanannya tidak berubah.
"Gimana? Lo udah nemuin bukti Aya nggak bersalah?" tanya Nuha langsung to the poin, tidak mikir kalau memecahkan masalah yang sensitif ini juga memerlukan waktu. "Sabar, Nyet."
"Jangan keras-keras!" seru Aegir menggelengkan kepala. "Lha kenapa? Kan di sini sepi!"
"Tahu peribahasa kalau tembok saja mempunyai telinga," sahut Jovan mengerti apa maksud Aegir.
"Ya ya ya, terus pihak sekolah gimana?" tanya Nuha sekali lagi, dia ingat katanya pihak sekolah akan mencari tahu kebenarannya. Namun, sampai sekarang masih belum diketahui adanya tindakan lebih lanjut. "Nunggu pihak sekolah jamuran gue!"
Valdrin mengeluarkan kertas, dia sudah mencatat beberapa orang yang ia rasa mencurigakan. "Pertama Zoey karena dia nggak suka sama Aya."
"Lo bisa nyimpulin dari mana, orang lo juga baru kelasnya Aya?" tanya Nuha langsung dapat hadiah pukulan manis darinya. "Dari matanya, saat gue nanya bangku Aya di mana dia kayak kesel gitu bahasnya, terus juga saat pak Asfi nyinggung masalah ini dia terlihat kek senang aja gitu denger Aya di skors."
"Wait, matanya?" Valdrin mengembuskan napas berat. "Iya, Ha."
"Okay, next!" seru Aegir tidak sabaran. "Yang kedua Champa. Kalau kata Aya, Champa kemarin baik, tapi sebelum-belumnya dia suka nyari masalah ke Aya."
KAMU SEDANG MEMBACA
RECAKA [END]
Teen Fiction"Syarat hidup cuma satu, Ay." -Aegir Bhairavi. "Apa, Bang?" -Alayya Nalani. "Bernafas." -Aegir Bhairavi. Mereka kakak beradik yang tidak pernah tahu keberadaan orang tua dan dijadikan mesin penghasil uang pamannya. Melodi lautan dan ketenangan langi...
![RECAKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/302848331-64-k422298.jpg)