Happy reading_
•••
Tetep ngode meski nggak peka, tetep berjuang meski hatinya milik orang lain. Tahu bahasa Inggrisnya pergi+blokir?
—Valdrin Sagara
•
••
"Aya harus apa?" tanya Alayya membuat Valdrin tersenyum merekah. "Minta maaf sama Aegir karena kemarin lo udah nyuekin dia."
Mendengar hal itu Alayya langsung menggeleng, "Tapi aku nggak salah, Kak. Ngapain harus minta maaf? Toh, kemarin Abang yang mulai duluan."
Valdrin menghapus jejak air mata adik sahabatnya, kemudian mengacak gemas rambut Alayya. "Lo tahu minta maaf bukan berarti kita yang salah."
"Lalu?" Matanya berbinar kala mendengar penuturan Valdrin. "Minta maaf itu menunjukkan kelapangan hati kita."
Akhirnya gadis dengan pita berwarna hijau itu mengerti. "Baiklah nanti aku akan minta maaf, eh Kak Valdrin kok bisa tahu aku di sini?"
Bagaimana Valdrin tidak tahu kalau Aegir sendiri yang memintanya untuk menemani Alayya, dia khawatir jika dia nekad menghampiri Alayya bukannya selesai malah makin panjang masalahnya. Aegir tidak bisa memaksa Alayya untuk cepat mengerti.
"Dikasih tahu sama Aegir, udah sekarang itu nggak penting. Ayo masuk kelas udah bel." Valdrin memutar badan, berjalan duluan kemudian Alayya mengekorinya.
Sekarang hari terakhirnya di sekolah, sebelum menjalani hukuman seminggu ke depan. Pasti nanti dirinya akan merindukan suasana sekolah ini.
"Aya!" seru Chana menarik tangan Alayya agar segera masuk kelas. "Kamu di skors?"
Dengan berat hati Alayya membenarkan sembari mengembuskan napas gusar, entahlah pasti dia akan ketinggalan pelajaran.
"Maaf, ya nggak bisa bantu kamu, tapi nanti kalau ada pengecekan kelas aku bantu kamu," kata Chana berharap bisa menghibur gadis itu. "Makasih, Na."
Tanpa mereka sadari seorang perempuan menghampiri mereka, tangannya masih bersedekap. Namun, segera ia turunkan kala melihat tatapan bingung dari Chana dan Alayya.
"Meski pun gue benci lo dulu, tapi bukan berarti gue mau ini terjadi sama lo. Semangat buat seminggu kedepan! Entar kalau ada tugas atau materi penting gue kirim," ujar Champa tersenyum simpul. Terkesan sederhana, tapi bagi Chana itu luar biasa bahkan dia sampai memeluk sahabatnya.
"Argrgrh, sahabatku baik banget! Mau bantuin Aya," katanya bahagia. Champa memberikan benda pipih bewarna gold miliknya. "Catet aja nomer hp lo di sini."
"Entar aku bantu share juga, Ay. Lo tenang aja dan semoga segera terbukti lo nggak bersalah," sahutnya dengan senyum sumringah.
"Aamiin makasih, ya."
*****
Jika kemarin mereka salah paham, hari ini semua telah usai. Kakak beradik itu sudah rukun kembali, bahkan sekarang mereka menikmati mentari di penghujung hari bersama Asbara full team. Tepatnya di rooftop bengkel Tirta.
Mereka semua duduk di atap bibir gedung lantai dua ini kecuali Alayya yang menjadikan paha Aegir sebagai bantal.
"Jangan sampai kita pecah!" seru Tirta memperingati karena baginya Asbara full team tidak hanya ikatan persahabatan, tapi juga keluarga.
"Gue nggak bisa bayangin kalau nanti pecah gue pasti ...." Ucapan Valdrin menggantung, seakan tidak ingin merampungkannya. Paham dengan maksud Valdrin, Nuha meneruskan. "Hancur?"
KAMU SEDANG MEMBACA
RECAKA [END]
Jugendliteratur"Syarat hidup cuma satu, Ay." -Aegir Bhairavi. "Apa, Bang?" -Alayya Nalani. "Bernafas." -Aegir Bhairavi. Mereka kakak beradik yang tidak pernah tahu keberadaan orang tua dan dijadikan mesin penghasil uang pamannya. Melodi lautan dan ketenangan langi...
![RECAKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/302848331-64-k422298.jpg)