Happy reading_
•••
Tidak setiap masalah bisa diceritakan, ada kalanya kita harus memendamnya.
—Tirta Amarta.
•••
Dari keluar kelas sampai depan perpustakaan Alayya terus mendumel perihal tugas yang diberikan guru pendidikan kewarganegaraannya. "Presentasi oh presentasi!!"
Rambut gadis itu ia biarkan terurai lebat dengan ia kuncir sedikit di tengah dengan pita berwarna hijau. "Kak Tirta!"
Alayya menyapa laki-laki yang mengenakan kaca mata sedang duduk sendirian seraya membaca sebuah buku, Tirta menoleh pandangannya langsung kepada Alayya. "Hai, Ay."
"Kak Tirta selalu ke perpus?" tanya Alayya sembari mendaratkan pantat di kursi, dia duduk di samping Tirta. Bukan tanpa alasan Alayya mengatakan hal itu, pasalnya dia sering menjumpai Tirta di perpustakaan menyendiri.
"Enggak, tadi mau di kantin, tapi anak-anak nggak ada."
"Lha emang mereka ke mana?" Alayya penasaran, perasaan tadi dia berpas-pasan dengan Valdrin di tangga, dia naik Valdrin turun. "Nggak tau, kamu ngapain ke sini? Mau nyari buku?"
Tirta cukup hafal dengan kebiasaan Alayya, kalau ke sini alasannya kalau tidak mencari buku, ya mengembalikan buku karena untuk membaca Alayya lebih senang di ruang terbuka. Namun, cukup sunyi.
"Huft, iya mau nyari buku paket pendidikan kewarganegaraan kelas X dan kamus bahasa Indonesia. Buat entar presentasi," gerutunya mendadak berwajah lesu. "Pak Toni?"
"Iya, Kak. Capek banget tau nggak selalu saja presentasi, presentasi, dan presentasi kayak bapaknya jelasinnya dikit. Terus minggu kemarin temen-temen debat dibiarin aja," keluh Alayya mengutarakan isi hatinya. "Nggak papa buat latihan."
Alayya menggeleng. "Latihan sih latihan, tapi ... ah, sudahlah, Kak."
Dia beranjak dan mencari buku yang ia inginkan, tak lama setelah menyelesaikan bacaan Tirta membantunya. "Kok kesel?"
"Lha habisnya presentasi ngebosenin!" Pendapat Alayya sembari melihat buku yang berjejer di rak-rak yang menjulang tinggi, untuk mengambil buku di rak yang paling atas sudah disediakan kursi kecil.
"Kamu tahu bagaimana caranya presentasi biar nggak ngebosenin?" Tirta menyodorkan kamus bahasa Indonesia kepada Alayya, kemudian pandangannya belum teralihkan pada buku-buku di rak. "gimana?"
"Sebentar!" Tirta setengah menjinjit mengambil buku, dia menyerahkan kepada Alayya. "Coba pakai metode yang bisa menciptakan interaksi dengan audiens karena aku lihat di kelasku dan mungkin saja di kelasmu saat presentasi masih kayak baca dan kamu tahu sendiri sebanyak apa bacaan PKN."
"Makasih, Kak. Makanya temen-temen dan kadang aku juga sih suka ngantuk," katanya berterus terang. "Terus kalau bisa sebelum menjelaskan catat poin-poin pentingnya terus jelasin sepahaman dan gaya bahasamu!"
"Jadi harus menguasai materi, ya, Kak?" Tirta mengangguk, karena kebanyakan presentasi yang dilakukan di SMA ini dadakan. Kurangnya persiapan dan kebiasaan hanya membaca apa yang ada di buku lks mereka tanpa ada referensi dari luar. "Ini juga perlu, Ay. Biar nanti kalau ditanya nggak kelabakan sendiri apalagi kalau banyak yang berpikiran kritis bisa mati kutu di depan kalau nggak bisa jawab."
"Tapi, Kak. Kan jawab tugasnya guru," sahut Alayya seraya duduk disusul Tirta. "Iya, tapi kita orang yang presentasi apa salahnya menjawab? Toh, nanti bisa jadi poin plus, 'kan?"
Alayya mangut-mangut mengerti, tak lama dia membuka buku paket dan mencari bab yang nanti akan ia bahas. "Kamu presentasi sendiri atau kelompok?"
"Alone," balasnya menghela napas, ini nih kalau ada pertanyaan tidak ada yang diajak diskusi kalau nggak tahu cengo di depan sendiri. "Tirta, bisa bantu bapak sebentar? Tolong lanjutin input data-data ini, bapak mau ke kantor ada tamu soalnya!"
KAMU SEDANG MEMBACA
RECAKA [END]
Ficção Adolescente"Syarat hidup cuma satu, Ay." -Aegir Bhairavi. "Apa, Bang?" -Alayya Nalani. "Bernafas." -Aegir Bhairavi. Mereka kakak beradik yang tidak pernah tahu keberadaan orang tua dan dijadikan mesin penghasil uang pamannya. Melodi lautan dan ketenangan langi...
![RECAKA [END]](https://img.wattpad.com/cover/302848331-64-k422298.jpg)