Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan komen, ya. Hargai penulisnya juga harus💤
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Suara bising memasuki indra pendengaran Ola membuatnya perlahan membuka kedua netranya yang sedari tadi tertutup rapat. Sejenak menelisik ruangan serba putih yang ia tempati sekarang dengan kerutan kening terpancar jelas di wajahnya berusaha mengingat apa yang terjadi dengan dirinya.
“Syukurlah, akhirnya kamu sadar juga.”
Sontak Ola menoleh menatap sosok perempuan yang mengenakkan seragam putih khas suster.
“S–us, saya di UKS?” tanyanya sedikit terbata-bata mengingat tenggorokannya terasa kering.
Tentu saja ia masih tahu bahwa dirinya berada di ruang UKS yang berada di sekolahnya begitu melihat beberapa poster tertera nama UKS di sana, tetapi yang menjadi heran mengapa bisa ia terbaring di sini lebih-lebih ada sekitaran tiga petugas kesehatan menemaninya?
“Kamu lupa?” Suster di hadapannya malah balik bertanya. “Hari ini ada aksi pendonoran darah dan ….”
“Saya sudah tau!” potong Ola dengan cepat begitu mengingat kejadian di mana giliran dirinya untuk melakukan pendonoran darah, tetapi malah pingsan begitu melihat sebuah jarum suntik.
Tak hanya itu saja, ia sempat berteriak-teriak tak jelas bahkan beberapa kali berusaha melakukan aksi melarikan diri yang sayangnya tetap harus terbaring di atas brankar.
Mengingatnya saja sudah membuat Ola malu terlebih-lebih suster di hadapannya itu sedari tadi senyam-senyum tak jelas yang pastinya sedang mengejek dirinya.
Suara itu berhasil menarik Ola dari kenyataan yang dari tadi terus-menerus bergerutu dengan batinnya sendiri.
Sontak saja Ola menggelengkan kepalanya keras tak enak merepotkan suster di hadapannya itu. “Nggak usah, Sus. Saya bisa sendiri.”
“Ya, udah kalau gitu hati-hati, ya.”
Hanya anggukan kepala yang ditanggapi Ola sebelum gadis itu memutuskan untuk beranjak turun dari atas brankar dengan sesekali mengedarkan pandangannya dari segala arah. Bukan tanpa alasan dirinya seperti itu, ia sedang mencari dua sosok yang begitu berarti baginya. Namun, tak kunjung menampakkan batang hidungnya sedikitpun.
“Via sama Esa ke mana, sih?! Seharusnya disaat-saat seperti ini mereka berdua temenin gue.” Sepanjang menyusuri koridor tak henti-hentinya Ola mengeluarkan kata kesal kepada sahabat serta pacarnya yang tiba-tiba saja menghilang. “Awas aja kalau ketemu!” lanjutnya dengan mata melotot marah.
Pasalnya tak biasanya mereka berdua tidak ada padahal baik Via maupun Esa tak akan meninggalkan ia sedetik pun apalagi disaat-saat dirinya tak sadarkan diri. Mereka berdua begitu posesif kepadanya, tetapi kali ini, jangankan menemani menghubunginya saja tidak. Huh, benar-benar keterlaluan!