Part 19 Tak Seperti yang Terlihat

502 16 0
                                        

Ini up terakhir mengenai masa lalu Ola mengenai Esa. Jangan lupa tinggalkan jejak 👣

 Jangan lupa tinggalkan jejak 👣

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


***

“Kali ini jadi 'kan?”

Esa yang baru saja menyampirkan tas ke pundaknya sontak menoleh menatap keberadaan Ola di ambang pintu.

“Jadi. Kita belajarnya di kafe dekat sini aja, ya?”

Lantas Ola mengangguk setuju dan baru saja keluar dari kelas, tiba-tiba dikejutkan dengan kedatangan Via.

“Kalian mau ke mana?” tanya Via. “Belajar, ya? Aku boleh ikut?”

Baru saja Ola hendak menolaknya, tetapi keduluan oleh Esa yang setuju jika Via bergabung hal itu, berhasil membuat Ola tampak kesal. Di mana-mana jika ia dan Esa selalu bersama pasti si pengganggu—Via selalu saja muncul.

“Nggak apa-apa, 'kan Ola? Kalau aku ikut.” Dengan lugunya Via menatap Ola yang terpaksa membuat Ola mengangguk setuju jika Esa saja memperbolehkan Via bergabung.

Di sinilah mereka bertiga sekarang, di kantin yang tampak sepi karena jam pulang sekolah. Mungkin ada beberapa anak-anak yang tinggal di sekolah itu pun karena ada ekskul.

“Esa, ada kecap di ujung bibir kamu.”

Seperti biasanya Via selalu menjadi orang yang pertama memecahkan keheningan saat Ola dan Esa fokus mengerjakan latihan soal.

“Bukan di situ, tapi di sebelah kiri.”

Esa mengusap ujung bibir kirinya sebelum tadi sempat ke kanan. Karena melihat tanda-tanda Esa tak bisa menghapusnya membuat Via berdecak sambil merogoh tasnya mengeluarkan selembar tisu.

“Di sini.” Tanpa ada rasa canggung Via langsung saja mengusap kecap yang berada di ujung bibir kiri Esa dengan talenta. “Kamu kalau makan kayak anak kecil aja,” kekehnya membuat Esa sesaat terdiam memandangi wajah Via yang begitu dekat dengannya.

Ola yang melihatnya langsung saja menjatuhkan pulpennya dengan keras hingga membuat keduanya tersadar dan dengan cepat kembali memperbaiki posisi duduk.

“Maaf, ganggu kalian tadi nggak sengaja jatuhin,” ucap Ola merasa tak enak lalu menunduk mengambil pulpennya yang memang dirinya sengaja jatuhkan.

Ketiganya kembali fokus ke buku masing-masing dengan sesekali Ola ataupun Esa saling melemparkan pertanyaan jika ada tak yang dimengerti dan seperti biasanya Via hanya datang duduk untuk mengganggu karena setiap Ola bertanya kepada Esa pasti langsung disela oleh Via dan Ola sudah menganggap hal itu, biasa.

“Em ... Esa, aku ke kelas dulu, ya ada buku yang ketinggalan.”

“Mau gue ambilin?”

Bukan Antagonis! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang