Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
“Non Ola.”
Perlahan kedua netra Ola terbuka lebar dengan napas tersengal-sengal. Livi membuatnya takut.
“Non Ola, nggak apa-apa?”
Karena suara itu berhasil membuat Ola menoleh menatap bi Siang. Seketika Ola menghela napas lega dengan langsung bangun dari tidurnya. Ia sesekali mengelap keringatnya.
“Ola kenapa, Bi?” tanyanya.
“Tadinya bibi mau manggil Non Ola buat makan, tapi pas bibi ke sini Non tidurnya kayak takut gitu. Non kayaknya mimpi. Makanya bibi berusaha banguni Non.”
Penjelasan bi Siang membuat Ola terdiam sesaat. Ia menatap kamar sekitarnya yang terlihat bukan kamarnya kemarin. Apa yang terjadi dengannya? Apa ia kembali lagi ke sini?
“Bi, apa yang terjadi saat aku nggak ada?” tanyanya membuat bi Siang tampak bingung. “Aku menghilang selama satu Minggu, ‘kan?” tanyanya lagi.
“Nggak terjadi apa-apa, Non. Non Ola cuman tidur beberapa jam setelah menyiram bunga di samping rumah.”
Tiba-tiba kepala Ola terasa pusing. Ia jadi bingung sendiri. Padahal jelas-jelas ia kembali selama satu Minggu bahkan semuanya terasa nyata, tetapi bisa-bisanya ia seharian ini hanya tidur di sini.
“Non benaran nggak pa-pa?”
“Nggak, Bi. Nanti aku turun ke bawah,” ucapnya membuat bi Siang mengangguk lalu keluar dari kamar Ola.
Jadi, selama seminggu yang ia rasakan hanya sebuah mimpi?
***
Ola mengendarai mobil merahnya dengan kecepatan sedang. Ini pertama kalinya ia mengendarai mobil menuju ke sekolah mengingat pak Tio minta libur dulu untuk pulang ke kampung halamannya. Untung saja ia sudah pintar akibat belajar dari Nayya. Sahabatnya itu banyak membantu dan bersabar menghadapinya yang dari tidak tahu mengendarai mobil menjadi bisa.
Ya, meski tak terlalu cepat setidaknya ia sudah bisa pergi ke mana-mana menggunakan mobil tak lagi diantar ataupun naik angkutan umum. Sesampainya di pelataran parkiran Starling khusus mobil ia pun turun dari sana dengan mengambil tasnya di kursi samping pengemudi.
“Keen!”
Ia berlari secepat kilat menuju sosok Keen yang baru saja turun dari motornya. Tanpa aba-aba lagi ia langsung memeluk cowok itu membuat Keen yang mendapatkan perlakuan seperti itu, tentu terkejut luar biasa bahkan jantungnya saja sudah berhasil dibuat berdetak kencang.
“Lo tau? Gue kangen banget sama lo,” jujur Ola usai melepaskan pelukannya menatap Keen yang masih terdiam. “Oh, ya Keen gue mau cerita sesuatu sama lo.”
Untungnya Keen cepat sadar lalu mengangkat sebelah alisnya begitu mendengar Ola mau menceritakan sesuatu kepadanya.
Tanpa mau berlama-lama di tempat parkiran Ola pun menarik Keen menuju ke taman tempat biasanya ia dan Keen duduk.