Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Ratu?
Terlihat jelas sekali Nana kelihatan bingung dengan situasi yang terjadi. Tiba-tiba saja datang sosok asing dengan pakaian anehnya itu terus-menerus memanggil ratu, lalu Ola baru saja keluar tiba-tiba dipanggil Ratu?
“Em ... Mbak Nana masuk dulu aja, ya. Biar Ola yang ngurus dia,” tunjuk Ola ke Pipi yang sayangnya Nana masih berada di tempatnya. “Mbak, dia tuh orang nggak waras. Dari kemarin terus ganggu Ola,” bisiknya berharap mbak Nana secepatnya pergi. Bisa gawat jika mbak mengetahuinya.
“Tapi, nggak pa-pa mbak tinggal sendiri? Atau perlu mbak panggil tugas keamanan?”
Sontak Ola menggeleng cepat. Bisa-bisa permasalahannya semakin panjang apalagi Pipi itu bukan manusia biasa.
“Tenang aja, Mbak. Ini, mah gampang buat Ola.”
Akhirnya Nana menurut perlahan berbalik masuk ke dalam rumah sesekali menoleh ke belakang merasa khawatir meninggalkan anak majikannya itu bersama sosok yang katanya tidak waras tersebut.
“Lo ngapain, sih ke sini?!” kesal Ola yang rasanya ingin memakan sosok di depannya jika tidak ingat bahwa sosok itu punya kekuatan.
“Mohon maaf, Ratu. Hamba ke sini hanya ingin mengajak Ratu kembali ke Istana Awan.”
Ola memutar bola matanya malas sembari melipatkan kedua tangannya di depan dada. “Gue bukan reinkarnasi ratu Atuna. Jadi, mending lo pergi! Lo udah salah orang.”
Sayangnya bukannya pergi Pipi malah tampak terkejut bahkan sosok itu sempat menatap Ola sejenak sebelum akhirnya menunduk kembali.
“Anda memang benar Ratu kami. Anda bahkan sudah mengetahui nama Anda, Ratu.”
Astaga! Lama-lama Ola bisa gila. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun Ola menarik tangan Pipi keluar dari gerbang rumahnya yang tiba-tiba saja melepaskan tangannya lalu tiba-tiba Pipi mundur sebanyak lima langkah.
“Maafkan saya, Ratu sudah menyentuh tangan suci Anda.”
Tangan suci? Yang benar saja!
“Gue yang nyentuh lo. Lagian gue bukan ratu lo. Gue Fayola Moira Aulia. Panggil Ola aja,” tekannya.
“Maafkan saya, Ratu. Saya tidak berhak memanggil nama Anda secara langsung. Hamba hanya tangan kanan, Ratu yang tidak berhak memanggil nama Ratu yang begitu suci.”
Karena hal itu berhasil membuat Ola cengo. Ada, ya seseorang seperti Pipi. Jika semuanya memuji dirinya sendiri, sosok itu malah merendahkan dirinya.
“Terserah lo yang penting sekarang lo pergi dan jangan pernah kembali lagi!” usir Ola membuang wajah.
“Maafkan hamba, Ratu. Hamba harus tetap membawa Ratu. Istana awan membutuhkan Anda.”
Maaf terus yang terulang dari mulut Pipi membuat Ola lama-lama bosan mendengarnya bahkan tidak melakukan kesalahan mengucapkan maaf juga benar-benar sopan sekali.