Part 22 Teman

460 17 0
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


***

“Gue cariin di mana-mana ternyata lo di sini.”

Ola tetap terdiam dengan tangisan yang ia tahan akhirnya pecah membuat Nayya yang menyaksikan itu bukannya merasa kasihan malah merinding. Pasalnya keduanya sedang berada di taman bunga tempo lalu yang katanya 'berhantu' itu.

“Lo nggak kesambet, 'kan La?”

“Huwa!”

Bukannya reda suara Ola semakin menjadi-jadi saja. “Gue kesel banget sama si Edgar!”

“Hah? Ada apa lagi sama cowok mulut pedas itu? Dia apain lo? Biar gue kasih pelajaran ke dia.” Siapapun yang melihat wajah galak Nayya pasti akan langsung kabur tanpa berpikir dua kali. “Nggak bisa dibiarin.” Baru saja hendak melangkah, tiba-tiba Ola mencegahnya.

“Temanin gue di sini.”

Nayya pasrah dan langsung mendaratkan bokongnya di samping Ola dengan sesekali menghela napas panjang mendengarkan cerita dari sahabatnya itu.

“Gue udah capek-capek nyiapin nasi goreng buat Keen, tapi si Edgar yang ambil. Belum sempat bekal itu sampai ke tangan Keen nasi gorengnya udah tumpah dan itu semua gara-gara mulut pedas itu!” geram Ola menendang-nendang tanah di bawahnya itu.

“Keen? Siapa lagi, La? Do'i baru lo?”

“Bukan! Dia yang nolongin gue.”

Nayya mengangguk-angguk saja. “Ya, udah tinggal lo buatin. Apa susahnya?”

“Ih! Bukan karena itu. Masalahnya ... ya, udah lupain aja,” ujar Ola melipatkan kedua tangannya semakin kesal.

Melihat mood Ola yang hancur membuat Nayya menggaruk keningnya merasa bingung.

“Ya, ampun La! Gue sampai lupa kalau hari ini ada pertemuan ekskul.” Sontak Nayya beranjak dari duduknya dengan begitu panik. “Gue duluan, ya. Oh, ya semisal gue belum balik izin ke Bu Hilmi, ya.” Nayya sudah lari terbirit-birit meninggalkan Ola sendirian yang semakin bad mood.

Karena merasa agak takut sendirian membuatnya dengan terpaksa beranjak dan berpikir menenangkan diri di kelas saja. Saat menaiki anak tangga satu persatu menuju ke kelasnya di lantai dua, tiba-tiba saja ia berpapasan dengan Shabita di anak tangga yang mau turun ke bawah.

“Bisa minggir nggak?”

Ola yang diajak berbicara pun hanya mengernyitkan keningnya. Menoleh ke kanan dan kirinya. Jelas-jelas masih banyak tempat yang luas untuk turun. Tak mau mempermasalahkannya ia lebih memilih minggir ke kiri agar Shabita bisa lewat, tetapi bukannya lewat Shabita malah ikut minggir ke kiri membuat Ola yakin bahwa ini disengaja.

“Minggir!” perintah Shabita yang kali ini diabaikan oleh Ola. “Lo tuli? Gue bilang minggir, ya minggir!”

Karena kesal apalagi moodnya belum kembali membuatnya ingin sekali merobek mulut Shabita. “Lo sengaja, ya? Jelas-jelas tempatnya luas, tapi lo malah mempersulit diri.”

Bukan Antagonis! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang