Part 2 Bukan Dunia Ola

1.4K 55 9
                                        

Hai semua! Aku kembali lagi ... jangan lupa tinggalkan jejak. Oh, iya ini cerita buat kesenangan saja, ya jadi mohon maaf aja ceritanya yang nggak masuk akal. Ini murni hasil pemikiran author sendiri.

 Ini murni hasil pemikiran author sendiri

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Memandang televisi di depannya tanpa ada niatan untuk menyalakan, hal itulah yang sekarang sedang dilakukan Ola. Sedari tadi gadis itu hanya bisa diam membisu dengan beberapa kali menguap karena rasa kantuk mulai menguasai dirinya, tetapi sekuat tenaga ia tahan agar kedua netranya ini tetap terjaga.

Entah sudah berapa lama dirinya duduk di sofa dengan seragam melekat di tubuhnya yang pasti ia sudah sangat bosan menunggu orang rumah pulang atau kamarnya yang sudah selesai dirapikan seperti kamarnya dulu.

Sesekali Ola menggerakkan tubuhnya yang terasa pegal bahkan tak ayal mulai membaringkan diri di atas sofa panjang, tetapi tetap saja rasa pegal tubuhnya masih ada.

Disaat ia mulai merasa tenang dengan posisi terbaringnya sekarang, tiba-tiba saja kedua telinganya menangkap suara derap langkah yang beradu dengan lantai menandakan ada orang yang berjalan mendekat ke arahnya dan benar saja dari arah berlawanan tak jauh darinya tampak sosok cowok yang kisaran umurnya tak jauh dari Ola.

"Abang!" pekik Ola beringsut turun dari sofa berlari kecil ke arah abangnya dengan wajah penuh suntuknya itu sirna digantikan wajah sumringah. "Bang Farel, Ola mau curhat dong!" ucapnya menatap sosok yang disebut 'bang Farel' itu dengan mata berbinar.

Sayang sekali Ola tak mendapatkan respons apapun dari Farel yang memilih melangkah begitu saja melewati sang adik yang tentu saja membuat senyum Ola luntur. Kembali lagi gadis itu menghentakkan kakinya begitu dicuekin oleh abangnya sendiri.

"Bang Farel nggak seru, mah!" rajuk Ola bersedekap dada yang hanya bisa tercengang begitu melihat abangnya yang satu itu terus-menerus berjalan tanpa memedulikan adiknya yang sedang merajuk ini.

Ola yang tak terima hampir saja berteriak heboh jika tidak melihat keberadaan sosok cowok lain yang seumuran dengan Farel.

"Bang Ferel!" pekiknya yang melupakan kekesalannya begitu melihat satu abangnya lagi yang sudah pulang. Setidaknya ia masih mempunyai satu teman lagi di rumah. "Bang, Ola malam ini nginep di kamar Abang, ya? Boleh, 'kan?" Langsung saja ia mengeluarkan jurusan andalannya berupa puppy eyes. Biasanya jika ia sedang memohon seperti ini abangnya yang satu itu akan setuju lantaran tak tega.

Dari pada memilih Farel, Ola lebih suka dengan abang keduanya, Ferel yang memang sudah seperti dua orang sahabat saja bahkan ia suka sekali tidur kamar Ferel yang begitu nyaman apalagi pemandangan di balko kamar abangnya itu sangat indah.

"Atau nggak kita tukeran kamar aja?" Ola kembali bersuara sambil mengikuti langkah Ferel di samping. "Kamar Abang, kan ba—”

"Bisa diam nggak?"

Tiba-tiba saja langkah Ola terhenti begitu mendapatkan suara dingin dari Ferel yang pertama kali memperlakukannya seperti itu. Semenyebalkan apapun dirinya mana pernah abangnya itu mengeluarkan nada dingin yang kentara sekali tak menyukai keberadaannya.

Bukan Antagonis! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang