Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
“La, ini gue.”
Hal itu berhasil membuat Ola bernapas lega berbalik badan begitu melihat Nayya sedang menatapnya bingung.
“Lo kenapa, La?”
“Gu–e nggak pa-pa,” jawabnya yang tidak terlalu dipermasalahkan.
Keduanya pun berjalan bersama menuju kelas dengan melewati koridor dan beberapa kelas hingga saat mereka akan menaiki tangga, tiba-tiba saja Nayya berteriak heboh.
“La, Keen sama siapa, tu?!” tunjuk Nayya kepada Keen yang sedang berjalan berduaan dengan seorang siswi.
Ola yang melihat itu sontak menyipitkan matanya untuk memperjelas sosok yang tidak ia ketahui, itu bukan Luna karena tinggi Luna hanya sampai dada Keen, sedangkan yang bersama Keen hampir menyamai tinggi cowok itu.
“Oh, ya gue baru ingat!” teriak Nayya menepuk jidatnya sendiri. “Itu, anak baru yang kemarin.”
“Anak baru? Kok, gue baru tau?”
“Soalnya anaknya sombong banget. Mana tatapannya galak lagi. Mana ada yang mau deket sama orang kayak dia.”
Lagi-lagi Ola mengernyit. “Tau dari mana lo?”
“Kemarin dia, tuh sempat mau gabung di jurnalistik. Pas gue wawancara, beuh sombongnya minta ampun. Pengen gue geprek, tuh cewek sombong. Untung cakep. Yah, karena itu gue nolak dia buat join. Mana mau gue punya anggota kayak dia,” jelas Nayya yang membara seperti mempunyai dendam kesumat memang. “Eh, tapi punya hubungan apa dia sama si Keen? La, mending lo samperin.”
“Kok, gue?”
“Udah, sana!” usir Nayya mendorong Ola membuat Ola terpaksa mendekati Keen karena jujur saja ia merasa penasaran dengan sosok itu.
“Hai, Keen,” sapanya tersenyum tipis yang dibalas balik oleh Keen.
“Siapa?” tanya sosok cewek yang berada di samping Keen.
“Dia Ola.”
“Oh, Ola!” Tiba-tiba saja cewek itu melangkah mendekati Ola dengan mendaratkan tangannya di udara. “Kenalin gue Livina Rosa kekasih Keen Saguna,” ucap sosok Livina itu dengan menatap Ola merendahkan bahkan tak ayal Ola merasa risih dari ujung kaki sampai kepala Livi menatapnya.
“Dia sepupu gue. Sorry, orangnya emang agak rada-rada.”
Tadinya Ola agak kesal, tetapi begitu mendengar ucapan Keen membuatnya hampir saja mengeluarkan tawa.
“Keen, kau apa-apaan?!”
“Gue duluan,” pamit Keen pergi begitu saja tanpa menunggu Livi di belakang yang teriak-teriak tidak jelas.
Melihat kepergian keduanya membuat Ola akhirnya tertawa lantaran tidak bisa menahannya lagi. Kau? Kekasih? Benar-benar kaku sekali ucapan cewek itu, yang lebih membuatnya tertawa adalah menganggap mereka berdua pacaran dan Keen dengan santainya mengatakan sepupu.