Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Berjalan sendirian di tengah mereka yang berjalan secara kelompok dengan sesekali tertawa atau melemparkan cerita memanglah menyenangkan sayangnya hal itu tidak berlaku baginya.
Lagi-lagi ia ditinggalkan olah Nayya disibukkan dengan kegiatan jurnalistik. Memang susah kalau hanya punya satu sahabat saja.
"Nyokap lo dulu pengacara bokapnya Abimanyu. Karena ngerasa nggak adil keluarga Beben laporin semua tindakan bokap Abimanyu, tapi karena nyokap lo lebih cerdik makanya keluarga Abimanyu bisa menang di pengadilan. Itu, ngebuat Beben juga punya dendam ke nyokap lo, La."
Mendengar tadi ucapan Nayya berhasil membuatnya lagi-lagi ketakutan. Ia kira semuanya sudah selesai, tetapi belum nyatanya semakin parah saja.
"Malik?" gumamnya begitu melihat gerak-gerik Malik yang sesekali menatap sekitarnya lalu berjalan ke belakang kelas.
Karena merasa curiga akhirnya Ola mengikuti cowok itu diam-diam. Sampai di belakang kelas X IPA 1 ia dibuat mengernyit bingung melihat Malik dengan santainya duduk dengan mengisap sebatang rokok.
"Ola?"
Sontak Ola menoleh. "Agam?" bisiknya kaget. "Lo ngapain ke sini?" tanyanya.
"Gue dari tadi ngikutin Malik. Lo sendiri?"
"Gue liat gerak-gerik Malik yang mencurigakan. Jadi gue ngikutin dia."
Ah, sepertinya ini waktu yang tepat untuk memberitahukan Agam mengenai Malik mumpung ia bertemu. Ia pun membuka suara, "Gam, lo udah tau belum? Malik sering kunjungi Beben."
"Gue bahkan baru dengar. Pantas aja dia jarang ke basecamp."
"Selain itu juga tadi dia datang ke kelas gue buat ngasih surat ke Beben lewat Nayya yang merupakan sepupu Beben."
Hampir saja mereka ketahuan jika saja Ola tidak membekap mulut Agam yang hampir saja berteriak.
"Jangan berisik." Barulah Ola melepaskan bekapannya begitu Agam mengangguk patuh.
Agam menghela napas lega sesekali melirik Malik yang tidak terusik sama sekali.
"Ya, udah gue balik ke basecamp dulu, ya," pamitnya kepada Ola.
Setelah berjalan karena motornya memang sengaja ditinggalkan di markas Agam pun akhirnya sampai dengan langsung mencari keberadaan bosnya.
"Esa kenapa lagi?" tanyanya begitu masuk sudah disuguhkan pemandangan Esa yang melamun di pojok ruangan-tempat khusus galau katanya.
"Biasa. Lagi patah hati dia setelah cintanya ditolak sama Ola apalagi sekarang si Via udah ada gandengan baru," sahut Nabil sesekali mengunyah kerupuk di depannya.
"Siapa?"
"Yuda lah. Kemarin gue liat mereka jalan berdua. Duh, romantis banget pokoknya. Pasti nyesel Esa udah mutusin Via. Susah, ya jadi orang ganteng kisah percintaannya nggak pernah mulus. Untung gue jomblo."