Part 22 Kebencian

511 17 1
                                        

Terima kasih sudah mampir🥰Jangan lupa tinggalkan jejak 👣

Terima kasih sudah mampir🥰Jangan lupa tinggalkan jejak 👣

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


***

Pagi-pagi sekali Ola dikejutkan dengan suara ketukan pintu rumahnya dan saat membukanya netranya menangkap keberadaan Esa di depan rumahnya yang rapi lengkap dengan seragam sekolahnya itu.

Lebih mengejutkan lagi Esa mengatakan ingin berangkat ke sekolah bersama yang tentu saja berhasil membuat Ola senyam-senyum sepanjang ia bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.

“Jangan ge'er gue lakuin semua ini karena disuruh nyokap.”

Ucapan dingin itu berhasil membuat senyum Ola seketika menghilang. Padahal ia sudah senang, eh taunya bukan karena insiatif Esa sendiri melainkan karena tante Serena.

“Nanti pulang bareng gue. Nyokap mau ketemu sama lo.”

Usai mengatakan itu Esa melangkah duluan yang membuat Ola kembali senyam-senyum. Setidaknya ia bisa bersama dengan Esa sampai pulang sekolah.

“Eh, Lik!” Dengan cepat Ola berlari mengejar Malik yang untungnya berhenti mendengar teriakannya.

Lantas Malik menaikan satu alisnya. “Kenapa?”

“Lo satu kelas, kan sama Keen?” tanya Ola memastikan dulu agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti kemarin.

“Keen?” Terlihat Malik berpikir sejenak hingga akhirnya mengangguk. “Iya. Memangnya kenapa?”

“Nah, pas banget, nih! Gue minta tolong sama lo bilangin ke Keen kalau gue nungguin dia di kantin jam istirahat nanti.”

“Sejak kapan lo kenal cowok kulkas kayak dia?”

“Cowok kulkas?” beo Ola sebelum akhirnya mengangguk mengerti. “Ada lah! Pokoknya jangan lupa, ya bilangin dia kayak gitu. Oke, makasih, ya!” Ola kemudian berlari meninggalkan Malik yang masih mencerna semuanya.

“Ceritanya, pindah ke lain hati?”

***

Kantin begitu terlihat padat bahkan mereka harus rela berdesak-desakan atau bahkan antre demi mengisi perut keroncongan mereka. Beberapa sebagian di antara mereka ada yang memilih memakan makan siangnya di kelas karena mengingat tempat makan penuh dengan lautan manusia.

Untungnya Ola dan Nayya kebagian tempat. Sesekali Ola menoleh ke arah pintu masuk kantin menunggu sosok yang sampai sekarang belum memunculkan batang hidungnya.

“Permisi, gue boleh nggak duduk di sini?” Seorang siswi datang dengan membawa segelas es teh dan batagor.

“Bol—”

Sorry. Tempatnya udah ada yang punya,” jawab Ola tersenyum sekilas lalu kembali menatap pintu masuk kantin.

Nayya sedari tadi melihat gerak-gerik Ola merasa kesal. Ia hampir saja memperbolehkan siswi itu jika sahabatnya tidak memotong ucapannya.

Bukan Antagonis! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang