Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Ola masih syok dibuat dengan kejadian barusan. Ini pertama kalinya ia melihat pembunuhan tepat di depan matanya. Kejadian itu benar-benar membuatnya takut bukan main.
“La, minum dulu.”
Karena suara itu berhasil menyadarkan Ola. Ia sejenak memerhatikan air putih di depannya lalu mendongak memerhatikan Keen yang baru saja mendaratkan bokongnya.
Jika saja Keen tidak datang pada saat itu mungkin saja ia juga sudah ikut terbunuh.
“Jangan cuman diem.”
Seakan tersadar dengan cepat Ola meneguk air itu hingga tandas dengan napas memburunya itu
“Ternyata lo keras kepala.”
Mendengarnya membuat Ola menunduk merasa bersalah. Ia menyesal tidak mendengar ucapan Keen.
“Maaf. Gue ... gue nggak tau kejadiannya bakal kayak gini,” sahutnya masih menunduk.
Terlihat Keen menghela napas panjang. “Lain kali jangan diulangi,” ucapnya yang berhasil membuat Ola mengangguk cepat.
“Em ... Keen, lo ngikuti gue?”
“Iya. Gue takut lo kenapa-napa.”
Sesaat Ola terhanyut mendengar ucapan Keen. “Jadi ... lo liat di hutan?”
“Liat apa? Gue cuman liat lo lari ketakutan.”
Keen berarti tidak melihat pembunuhan itu membuat Ola menghela napas lega. Berarti hanya ia melihatnya.
“Gue anter lo pulang.”
***
“Pelaku pembunuhan di hutan Blora masih belum ditemukan dan kini saksi atas kejadian pembunuhan tersebut secara mengejutkan ditemukan tewas di hutan Blora. Ditemukan luka tusuk pada perut korban sebanyak tujuh kali tusukan hingga mengakibatkan korban tewas di tempat. Diduga korban dibunuh dengan menggunakan senjata tajam berupa pisau.”
Ola yang baru saja turun dari tangga, tiba-tiba mematung begitu mendengar dan melihat berita terkini yang memperlihatkan jenazah sosok pria di hutan Blora yang ia lihat kemarin.
Begitu melihat salah satu sosok yang ia kenal muncul di televisi membuat Ola secepat kilat mendekat untuk memastikan bahwa sosok itu adalah orang yang ia kenal.
Cindy yang tadinya sibuk menonton di sofa sontak langsung turun begitu melihat Ola.
“Dek Ola.”
Ola tidak menggubris masih menatap televisi di hadapannya itu. “Om Pram?”
***
“Sekarang tinggal dua saksi lagi. Saksi pertama sampai sekarang belum ditemukan, saksi kedua masih belum mau angkat bicara, dan saksi ketiga tewas terbunuh.”