Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
“Keen!”
Tak sia-sia Ola ke parkiran begitu melihat Keen yang hendak menaiki motor merahnya itu. Bukannya apa-apa hanya saja ia sangat mengkhawatirkan keadaan Keen bahkan ia menjadi tak fokus belajar hanya karena mengingat wajah kesakitan cowok itu.
“Ola?”
“Gimana keadaan lo? Tangan lo gimana?”
Tanpa menunggu izin dari pemilik Ola langsung saja memegang tangan kiri Esa yang terlihat luka memanjang yang tadinya mengeluarkan cahaya kemerahan mengering. Lantas ia mengernyit bingung. Jika pun luka baru pasti mengeringnya akan lama, sedangkan yang ia lihat luka itu seperti luka lama.
Keen tiba-tiba saja menurunkan tangannya dari tangan Ola dengan berdeham menetralkan raut wajahnya.
“Gue nggak pa-pa. Oh, ya lo pulang sendiri?” tanya Keen mengalihkan pembicaraan membuat Ola sempat curiga meski seperti itu ia tetap menganggapnya biasa-biasa saja.
“Biasa. Gue pulang naik angkot aja soalnya mobil yang biasa dipakai pak Tio masih di bengkel.”
“Mau bareng gue?” tawar Keen membuat Ola hampir saja membuka suara jika tidak ada suara lain.
“Dia pulangnya sama gue.” Tampak Esa datang dengan tas berada di sebelah bahunya. Ia menatap Keen dengan tajam sebelum akhirnya menoleh menatap Ola. “Ayo!”
Namun, sayangnya Ola tak bergerak meninggalkan tempatnya.
“Ayo, La!”
“Gue pulangnya bareng Keen aja,” tolak Ola tak mau menatap lawan bicara.
Mendengarnya berhasil membuat Esa yang tadinya sudah menaiki motornya kini kembali turun.
“Gue bertugas buat jagain lo asal lo lupa,” ucapnya mengingatkan Ola.
Sebenarnya Ola akan langsung naik ke motor Esa, tetapi jika diingat dengan perlakuan kasar cowok itu ia urung saja. Ia masih marah dan Esa malah tak pernah meminta maaf atas kesalahannya itu.
“Ayo, Keen!” ajaknya mendekati Keen.
“Maksudnya jagain lo?” Tiba-tiba Keen bertanya merasa tidak mengerti dengan ucapan Esa barusan.
“Nggak usah peduli sama omongan dia.”
Hampir Esa berniat menarik Ola jika saja tak mendengar teriakkan Via yang memanggilnya di belakang.
Di sepanjang perjalanan hanya keheningan yang melanda keduanya. Keen yang sibuk mengendarai motornya dan Ola yang berada di job belakang hanya bisa terdiam dengan pikiran di mana-mana.
Keen yang sesekali menatap kaca spion seketika dibuat heran begitu pengendara motor warna hitam di belakangnya terus-menerus mengikutinya. Dari ia belok ke kiri terus belok ke kiri lagi sosok pengendara itu terus mengikutinya di belakang tanpa mau menyalipnya padahal kecepatan motornya bisa dikatakan lambat.