Part 15 Sampul Merah

528 20 0
                                        

Halo, udah lama nggak muncul heheh, sekitar satu tahun lebih karena disibukkan dengan kegiatan di real life dan akhirnya kembali setelah sekian lama😁 In Sya Allah aku bakal fokus up cerita ini sampai selesai 🥳khusus malam ini aku dobel up. Jangan lupa tinggalkan jejak 👣



***
Rasa lega melanda sekujur tubuh Ola begitu merebahkan dirinya di atas kasur empuk kesayangannya. Sesekali menghela napas berat sambil dewa lurus langit-langit kamarnya.

Ternyata ia sudah salah. Bukan Edgar malaikat penolongnya melainkan sosok cowok yang ia lihat di taman bunga tadi. Jelas sekali dirinya melihat belas luka panjang di bagian tangan kiri cowok itu.

Sayang sekali belum mengucapkan apapun cowok itu sudah pergi begitu saja. Hampir saja Ola mengejarnya jika saja Nayya tak datang. Namun, tak apa setidaknya ia sudah tahu namanya.

Keen Saguna. Pastinya cowok itu satu sekolah dengannya, di SMA Starling. Sangat gampang mencari keberadaannya.

“Gue ngerasa pusing. Ini pasti gara-gara lagi banyak pikiran jadinya kayak gini,” gumam Ola mulai beranjak ke arah laci meja belajarnya.

Biasanya ia selalu menyimpan obat pereda pusing di sana. Bukannya menemukan obat ia malah menemukan beberapa gelang yang berpasangan serta ....

“Hp gue!” pekiknya begitu melihat benda pipih hitam kesayangannya. “Gue cari-cari ternyata lo di sini.”

Tanpa membuang waktu lagi Ola menekan tombol untuk mengaktifkan kembali ponselnya yang sayangnya tetap saja mati. Akhirnya ia memilih untuk mengisi daya terlebih dahulu sebelum kembali fokus mencari obat—tujuan utamanya.

“Buku?” Ola mengernyit begitu melihat sebuah buku bersampul merah. “Ternyata buku diary gue,” lanjutnya begitu mendapatkan namanya berada di sampul.

17 Februari 2017

Mereka lupa akan aku.
Mereka sibuk.
Mereka pergi.
Aku sendiri.

Halaman pertama hanya sebuah tulisan kecil yang cukup rapi membuat Ola bertanya-tanya. Itu memang tulisannya, tetapi sejak kapan ia menulisnya? Ia kembali membuka lembaran kedua dan isinya tak beda jauh dari lembaran pertama. Sebuah kalimat yang menyayat hati dengan kesepian yang begitu mendalam dirasakan.

10 September 2017

Papa jahat, dia nggak tepatin janjinya.
Mama jahat, dia marahin aku.
Bang twins jahat, mereka nggak peduli sama aku.

12 Januari 2018

Dear diary ....
Waktu itu aku baru aja pulang dari sekolah dan mama tiba-tiba aja narik aku masuk ke dalam kamar. Mama ternyata udah tau kalau nilai matematikaku turun dan ketauan bolos les karena itu aku dipukul. Rasanya sakit ..., tapi mama nggak peduli dia tetap pukul aku.

Bukan Antagonis! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang