Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Jika ada typo silakan komen atau krisar. Semoga suka 🌻
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Teriakkan itu berhasil menarik atensi beberapa murid termasuk Ola yang seketika berubah panik begitu mendengar kata ‘awas’ menandakan akan datangnya bahaya meski tak tahu tanda itu tertuju kepada siapa.
“Ola maksud gue, awas ada gue. Bukannya ada bahaya. Polos banget, sih lo!”
Begitu merasakan bahu kirinya disentuh disertai suara yang tertuju kepadanya membuat Ola sontak menoleh ke sampingnya memerhatikan sosok gadis berambut sebahu yang tengah tertawa mengejeknya.
“Apaan, sih?! Nggak lucu!” Ola yang tak kenal siswi di sampingnya itu langsung saja menjauhkan diri terlebih-lebih sosok itu sudah mempermainkannya membuat kemarahannya bertambah dua kali lipat.
“Sorry-sorry.” Begitu sadar siswi yang merangkul Ola tadi kini mulai meredakan tawanya. “Oh, ya gimana keadaan lo? Nggak demam, ‘kan?” tanyanya berturut-turut yang hendak menyentuh kening Ola guna mengecek suhu badannya, tetapi dengan cepat Ola menghindar begitu mengetahui pergerakkan gadis berambut sebahu itu.
Gadis dengan name-tag yang melekat di seragamnya itu bertuliskan ‘Ainayya’ tampak terkejut begitu mendapatkan penolakan dari Ola secara tak langsung.
“La, lo beneran nggak apa-apa, ‘kan? Atau lo marah sama gue karena udah ninggalin lo kemarin sendirian di UKS? La, Sorry banget soalnya lo tau sendiri nyokap marah besar kalau semisalnya gue terlambat pulang.” Gadis itu terus berujar tanpa henti-hentinya yang tak menyadari raut wajah ketidaksukaan Ola.
“Lo siapa, sih?! Kita aja nggak kenal.” Akhirnya Ola membuka suara setelah tadi berusaha mengingat-ingat tentang siswi di sampingnya itu yang nyatanya sama sekali tak mengenalnya.
Begitu mendengar sahabatnya tak mengenal dirinya membuat Nayya membulatkan mata sempurna. “Jangan bercanda lo, La! Gue ini Nayya sahabat lo. Masa lo lupa, sih sama gue? Kita berdua ini bestai!”
“Sahabat?” beo Ola yang semakin dibuat tak mengerti. Setahunya ia tak mempunyai sahabat modelan seperti Nayya. “Sorry, gue nggak kenal lo dan tolong jangan, sok kenal apalagi sok dekat.” Memang terdengar pedas, tetapi Ola tak peduli. Ia paling tak suka dengan orang asing yang seperti ini, SKSD Sok Kenal Sok Dekat.
“Wah, keterlaluan lo masa sahabat yang udah hampir tiga tahun nemenin lo nggak dianggap. Ya, kalau marah marah aja, Ola jangan malah giniin gue. Nggak enak tau!”
Lah? Sosok yang bernama Nayya itu semakin menjadi-jadi saja membuat Ola tak tahu harus merespons dengan apa lagi. Pasalnya ia tak mengenalnya, tetapi gadis itu tetap kukuh mengatakan bahwa mengenal bahkan bersahabat dengan dirinya. Dilihat dari cara pandang dan bicaranya sepertinya Nayya itu memang mengenalnya.
Namun, tidak dengan dirinya. Ia hanya merasa familier dengan Nayya. Serasa pernah bertemu, tetapi lupa di mata. Sekali lagi Ola memicingkan mata menatap Nayya serius dengan berusaha memutar otaknya agar bisa mengingat siapa sosok itu.