Part 46 Kehancuran

339 14 0
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

“Lanjutkan sesuai rencana sebelumnya.”

Ola yang berdiri belakang Malik mengernyit. Rencana? Ia penasaran rencana apa yang dimaksud? Dan siapa sosok yang berada di telepon seberang sana.

Merasa tak berhak ikut campur dengan urusan cowok itu, Ola berdeham keras membuat Malik seketika mematikan sambungan begitu saja dan berbalik menatapnya yang seolah habis ketangkap basah.

“Lo ngapain ke sini?!” tanya Malik ngegas.

Jika bukan karena dompetnya yang ketinggalan di mobil Esa kemarin mungkin ia tidak akan datang ke basecamp Bruiser untuk kedua kalinya.

Sialnya Esa malah bolos seharian sehingga ia tidak bisa memintanya di kelas dan dengan terpaksa ia datang ke tempat cowok itu daripada ia tidak makan siang.

“Bos lo di mana?” tanyanya yang mendapatkan tunjukan tangan dari Malik ke dalam seolah mengatakan Esa ada di dalam basecamp.

“Lo tadi nggak denger sesuatu, 'kan?”

Pertanyaan itu, tiba-tiba berhasil membuat Ola cengengesan. “Sorry. Gue nggak sengaja dengar lo ngomong rencana, tapi sumpah cuman bagian itu yang gue dengar!”

Bukannya merespons ucapannya Malik malah lebih dahulu masuk ke dalam basecamp membuat Ola hanya mengedikan bahu tak terlalu memedulikan sikap tak sopan cowok itu.

“Sa, lo sama Via putus, ya?” Tiba-tiba Nabil mendekat ke Esa yang tampak duduk sendirian di pojok. “Gue dengar dari Bita gitu soalnya.”

“Ngomong-ngomong Yuda juga udah jarang datang ke sini.” Agam juga ikut bergabung sambil membawa segelas teh hangat buatannya. “Ya, kalau masalah tentang Via pasti Yuda tanpa berpikir panjang datang ke sini marah-marah dan langsung hajar Esa, tapi sampai sekarang dia nggak pernah nongol, tuh.”

“Udah, tobat kali,” timpal Nabil lalu tiba-tiba saja heboh sendiri. “Sa, Sa si antagonis datang!”

Benar saja Ola langsung memasuki markas mereka dengan masih memakai seragam Starling mengingat jaraknya juga tidak cukup jauh.

“Sa, dompet gue,” ucap Ola tanpa berbasa-basi.

Ia merasa risih begitu masuk semua tatapan hanya mengarah kepadanya. Seolah-olah tidak pernah melihatnya saja.

“Santai dong, Mbak!” celetuk Nabil seperti biasanya.

Esa yang tanpa banyak bicara langsung beranjak mengambil tasnya lalu mengeluarkan dompet Ola.

“Lain kali jangan ceroboh,” tukas Esa.

“Lain kali jangan bolos,” balas Ola langsung berbalik pergi begitu mendapatkan dompetnya.

Saat berada di ambang pintu ia melihat Via datang dengan seragam yang sama dengan dirinya. Mengabaikannya Ola tetap kembali berjalan.

“Sa, Via,” bisik Agam menyenggol lengan Esa membuat sang empunya yang tadinya sibuk bermain game sontak mendongak menatap Via yang berjalan ke arahnya.

Bukan Antagonis! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang