Part 42 Teror

341 13 0
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Esa semakin mendekati Beben yang sedari tadi tertunduk. Esa langsung saja menarik kerah baju Beben kuat hingga membuat sang empunya mendongak menatapnya.

“Jadi lo?!”

Bukannya merasa bersalah Beben malah tersenyum miring. “Iya, emang gue.”

Satu pukulan di rahang Beben tidak membuat Esa puas bahkan Beben yang mendapatkan pukulan itu bukannya merasa sakit malah tertawa bahagia.

“Anj***!”

“Sa, udah!” Ola berhasil menahan Esa. “Kita dengar dulu penjelasan dia,” lanjut Ola berhasil membuat Esa akhirnya terdiam.

Dengan kasarnya Esa melemparkan kertas yang bertuliskan dua dosa itu kepada Beben.

“Maksud lo apa ngasih itu ke semua korban? Dan kenapa lo dengan teganya bunuh Irfan!”

“Gue? Tega?” Beben masih tertawa seperti orang gila membuat semua orang yang berada di sana greget. “Gue cuman mau balas dendam!”

“Dendam?”

“Karena keluarganya keluarga gue hancur! Bokapnya udah ngekhianati bokap gue. Awalnya semua berjalan aman-aman aja sampai saat perusahaan bokapnya dan bokap gue yang dibangun bersama-sama maju, tiba-tiba aja dengan liciknya bokap Irfan ngambil semua aset perusahaan dan mengubah semua menjadi atas namanya. Karena itu bokap gue jatuh miskin dan karena bokap gue dikhianati oleh sahabatnya sendiri bokap meninggal akibat syok berat dan itu semua gara-gara keluarganya!”

Semuanya terdiam mendengar segala cerita Beben. Tak menyangka saja bahwa Beben ternyata memiliki dendam kepada keluarganya Irfan.

“Gue tadinya cuman pengen ngasih mereka pelajaran. Gue mau mereka ngerasain apa yang gue rasain, tapi malam itu gue dan Irfan berantem hebat dan nggak sengaja mukul dia pakai batu. Meski begitu gue nggak akan menyesal karena udah melakukan itu.” Sekali lagi Beben tertawa terbahak-bahak.

Ola yang melihatnya saja bergedik ngeri merasa bahwa sekarang Beben adalah seorang psikopat yang membunuh siapa saja tanpa adanya rasa kasihan.

“Brengsek lo!”

Esa siap memukul Beben hingga cowok itu habis di tangannya, tetapi sayangannya polisi lebih dulu membawa Beben keluar dari hutan untuk dibawa ke kantor polisi sekarang juga.

“Kita bisa lanjut di kantor polisi nanti,” ucap Pram menepuk sebelah bahu Esa.

Kini Esa dan Ola hanya terdiam dengan pikiran berkecamuk. Sejenak Ola menatap Esa yang sedari tadi terdiam dengan tatapan kosong membuatnya menghela napas berat mengerti dengan perasaan cowok itu.

Ternyata maksud dari tulisan dua dosa yang tak termaafkan adalah yang pertama pengkhianatan. Karena bokap Irfan mengkhianati bokap Beben, dan kedua pembunuhan. Secara tak langsung bokap Irfan sudah membunuh bokap Beben dan karena itu Beben tidak bisa memaafkan dua dosa yang dilakukan oleh bokapnya Irfan.

Bukan Antagonis! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang