Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Seperti biasanya Ola kembali menunggu pak Tio menjemputnya di halte bus. Hari ini ia benar-benar kesepian, apa-apa harus pergi sendiri mengingat Nayya yang masih belum masuk begitu pun dengan Ken yang entah kapan pulangnya.
Saat memandangi jalanan di depannya sambil melamun, tiba-tiba saja setangkai bunga warna biru terlihat di depannya membuat ia berkali-kali mengucek mata lalu mendongak menatap Keen.
Keen! Saking tak percayanya ia tak sadar jika Keen sudah duduk di sampingnya. Padahal tidak ada dua puluh empat jam cowok itu sudah kembali.
“Lo, kok cepet banget pulangnya?” tanyanya.
Keen menaikkan alisnya. “Nggak suka?”
Dengan cepat Ola menggelengkan kepalanya takut cowok itu salah paham. “Bukan gitu. Gue kira bakal sampai berhari-hari.”
“Urusan gue di atas udah selesai dan sekarang tinggal urusan gue di sini,” ucap Keen membuat Ola tak mengerti dengan apa yang dibicarakan Keen. “Oh, ya buat lo.”
Bunga yang sempat Ola lihat kini sudah berada di tangannya begitu Keen memberikannya. Ia menatap lekat-lekat bunga biru itu yang terlihat sangat cantik bahkan ia tidak pernah melihat bunga seperti itu.
“Itu, bunga dari Istana Langit.”
Mendengarnya membuat Ola mengangguk tersenyum senang. Ini pertama kalinya ia melihat bunga yang langsung diambil dari langit.
Keen mengangguk ikut bahagia. “Bunga itu biasanya dipetik oleh para dewa untuk diberikan kepada gadis yang dicintainya atau saat ingin menyatakan cinta mereka biasanya memberikan bunga mawar biru itu.”
Mendengar cerita Keen membuat Ola semakin mengerti saja bahwa bunga di tangannya ini ternyata bunga spesial.
“Terus, kenapa lo kasih ke gue?” tanyanya menoleh menatap Keen.
Bukannya mendapatkan jawaban Keen malah mengedikan bahunya. “Cari aja sendiri.”
Ola tak terlalu peduli dengan respons Keen yang terpenting ia benar-benar begitu bahagia hanya karena cowok itu memberikan setangkai bunga.
Keen yang berada di sebelah Ola beberapa kali ingin membuka suara, tetapi selalu saja gagal. Ucapannya hanya tertelan di tenggorokannya itu.
“La, gu—”
“Keen, gue duluan, ya!” potong Ola begitu mobil hitam berhenti di depan mereka yang merupakan mobil jemputannya. “Sampai jumpa besok, dah!”
Bahkan saat Ola pergi Keen masih saja betah terdiam. Padahal ia ingin membicarakan ini karena sangat penting. Namun, entah kenapa ia ragu-ragu untuk mengatakannya.
Takut membuat gadis itu marah, tetapi harus ia katakan. Mungkin besok saja.
***
Dengan perasaan gembira Ola memasuki rumah dengan sesekali bersenandung memerhatikan bunga cantik di tangannya itu.