Part 41 Pelakunya

365 13 0
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

“Jadi, aku ada karena Mami pinjam rahim?” tanya Ola perlahan melangkah mendekat membuat ketiganya sontak menoleh menatap Ola dengan terkejut, tidak menyangka jika Ola mendengarnya.

Akhirnya pun Qiana menyerah dengan mengangguk pelan. “Kalian duduk dulu. Biar mama ceritakan semuanya.”

Akhirnya mau tak mau Farel, Ferel, dan juga Ola mulai duduk di sofa ruang tengah menatap Qiana dengan serius begitu wanita paruh baya itu menceritakan semuanya.

Selesai mendengarnya membuat Farel beranjak dari duduknya melangkah menuju kamarnya.

“Aku sama Farel butuh waktu, Ma.” Ferel pun beranjak dari duduknya menyisakan Ola yang masih terdiam mencerna semuanya.

Tak menyangka bahwa abang twins bukanlah abang kandungnya. Ya, kalau ia lahir karena sang mami meminjam rahim dirinya tak masalah karena ia tetap anak dari maminya, tetapi kedua abangnya?

Jelas mereka kecewa apalagi ibu kandung mereka adalah ibu Frea juga yang notebenenya cewek yang mereka dua sukai. Jadi, ceritanya mereka menyukai adiknya sendiri?

Ia saja pusing apalagi kedua abangnya itu. Tanpa mengucapkan apapun Ola berniat untuk beranjak saja, tetapi tak jadi begitu Qiana memanggilnya.

“Ola ... mama minta maaf selama ini udah banyak nyakitin kamu,” ucap Qiana ikut berdiri menatap sang putri dengan tatapan penuh penyesalan.

Setelah kejadian ia menampar putrinya sendiri saat itulah ia banyak merenung di kantor memikirkan semua sikapnya selama ini.

“Selama ini mama egois. Mama nggak tau kalau sikap mama itu buat kamu tersiksa. Sebenarnya mama melakukan itu semua karena takut kamu akan mengalami hal yang sama seperti mama dulu. Karena mama dulu dimanjakan membuat mama akhirnya tumbuh sebagai anak yang bodoh, tidak bisa menjaga diri sendiri, dan sering mempermalukan keluarga karena itu mama sering diejek bahkan dikucilkan. Maka dari itu mama mengusahakan banyak hal buat kamu. Biar kamu nggak mengalami hal yang sama seperti yang mama alami.”

“Tapi, Mami salah. Justru karena itu, aku terluka, Mi,” balas Ola tak mau menatap Qiana. “Aku juga perlu waktu, Mi,” lanjutnya meninggalkan sang mami sendiri.

Ia menghela napas berat. Ia tahu maminya itu melakukan semuanya hanya demi dirinya, tetapi entah mengapa ia sulit memaafkan setelah kemarin ia ditampar bahkan dimarahi habis-habisan.

Saat akan menuju kamarnya tanpa sengaja ia melihat Farel yang tengah terduduk di bawah bersandar di ranjang yang kebetulan sekali pintu abangnya yang satu itu tidak tertutup.

Melihat abangnya yang hanya terdiam dengan tatapan kosong ke depan membuat Ola perlahan melangkah mendekat. Ia sempatkan mengetuk pintu, tetapi tak ada sahutan membuat Ola akhirnya memberanikan diri masuk.

“Ola tau apa yang Abang pikirkan.” Ia membuka suara sambil duduk di samping abangnya yang masih saja tak mau menoleh bahkan bergerak pun tidak. “Aku tau Abang kecewa bahkan nggak bisa nerima fakta bahwa sebenarnya Abang ... Abang bukan anaknya Mami. Meski kayak gitu aku yakin Mami masih menganggap kalian, Bang Farel, Bang Ferel sebagai anak bahkan Ola aja masih menganggap kalian berdua Abang Ola,” lanjutnya tersenyum tipis.

Bukan Antagonis! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang