Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Ada typo? Ada kritik dan saran? Boleh komen karena sesungguhnya manusia tak ada yang sempurna. - Semoga tetap suka, ya sama ceritanya 🌻
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Kedua mata Ola berputar malas begitu sosok Edgar yang tengah menghalangi jalannya. Semenjak ucapan pedas cowok itu di UKS membuatnya seketika menjadi sensi begitu melihatnya. Untung saja dirinya mendapati segerombolan cowok berjalan tak jauh darinya.
“Esa!” teriaknya sembari melambaikan tangan yang berhasil membuat para cowok itu sontak menoleh ke arahnya begitupun dengan Edgar yang sempat melirik segerombolan cowok itu.
Mencuri kesempatan untuk kabur itulah yang sekarang dilakukan Ola. Demi menghindari cowok bermulut pedas itu ia berjalan mendekati perkumpulan cowok itu lebih tepatnya sang ketua dari mereka dengan langkah tergesa-gesa seperti dikejar setan.
Ola tersenyum dengan tatapan yang hanya terlempar di satu titik saja, Esa. Cowok itu alasannya tetap tersenyum, tetapi belum sempat dirinya membuka suara tiba-tiba saja Esa terlebih dahulu pergi dengan menarik sosok gadis yang baru saja tiba sama sepertinya.
“Esa!” teriaknya yang tak dipedulikan Esa bahkan para anggota cowok itu pun mulai melangkah menyusul sang ketua menyisakan Ola yang masih tak bergeming di tempatnya.
Lagi-lagi perasaan Ola terasa sesak di bagian dadanya begitu melihat orang yang ia cintai malah mengabaikan keberadaannya bahkan terang-terangan menggandeng tangan cewek lain yang merupakan sahabatnya sendiri. Meski belum yakin apa ini dunianya atau bukan, tetap saja rasa cemburu selalu hadir di dalam hatinya.
Bermaksud ingin memastikan semuanya, tiba-tiba saja pergelangan tangannya ditahan oleh sebuah tangan kekar membuatnya mau tak mau mendongak menatap sang pemilik tangan.
“Jangan pernah ganggu Via lagi.”
Hal yang pertama keluar dari mulut Edgar berhasil membuat Ola beberapa kali menghela napas berat. Segitu jahatnya ia di mata cowok itu? Sampai-sampai untuk menemui sahabat sendiri diancam.
“Apaan, sih?!” Dengan kuat ia melepaskan tangan Edgar yang masih setia memegang pergelangan tangannya. “Gue mau ketemu Via bukan urusan lo. Lagian ini hak gue, hak asasi manusia!” tekannya melotot menatap cowok di depannya itu.
“Belum cukup gue peringati lo waktu di UKS? Apa perlu gue ulangi lagi?”
Wajah songong milik Edgar berhasil membuat darah Ola mendidih. Bisa-bisanya sepupu sahabatnya itu semenyebalkan ini padahal jika disandingkan dulu cowok itu sangat baik bahkan ramah kepadanya.
“Gue nggak budek! Minggir!” Ola berniat menyenggol bahu Edgar, tetapi hal itu terhenti begitu tak sengaja pandangannya menunduk dengan kedua bola matanya menatap sebuah bekas luka di tangan kiri cowok itu persis yang dirinya lihat di tangan dewa penolongnya.
“Lo—”
“Olaaaaa.”
Suara cempreng itu berhasil membuat fokus Ola buyar yang sempat menoleh menatap sosok Nayya tengah berlari kencang ke arahnya bahkan disaat dirinya belum sempat menatap sosok Edgar di depannya Nayya sudah terlebih dahulu merangkul lehernya.