Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
“Papi?”
Sontak Ola berlari memeluk papinya yang sudah lama tak ia lihat.
“Ola kangen,” ucapnya disela-sela pelukan.
“Pa–maksudnya papi juga kangen sama Ola.” Prabu mengelus puncak kepala Ola dengan penuh sayang.
Ola lantas mendongak menatap papinya yang terlihat kelelahan. “Papi kapan pulangnya?”
“Papi baru aja pulang.”
“Berarti Papi akan di rumah terus dong?” ucap Ola tersenyum bahagia membuat Prabu yang melihatnya merasa kasihan.
“Papi cuman sebentar di sini, Sayang setelah itu Papi harus kembali ke Singapur.”
Mendengarnya membuat Ola melepaskan pelukannya. “Apa nggak bisa bulan depan aja, Pi?”
“Nggak bisa, Sayang. Banyak proyek pembangunan di sana yang harus papi awasi secara langsung.”
Hal itu berhasil membuat Ola semakin sedih. Papinya itu sulit berada di rumah jadi, jarang bahkan tidak ada sama sekali waktu untuk liburan bersama. Ia sangat bersyukur karena rupanya sang papi tidak berubah, papinya masih menyayanginya.
“Papi janji setelah pekerjaan papi selesai papi akan segera pulang dan ajak Ola liburan. Kamu boleh liburan ke manapun yang kamu mau.”
“Beneran, Pi? Ke manapun?” Mendapati papinya mengangguk membuat Ola berjingkrak bahagia dan kembali memeluk sang papi. “Makasih, Pi.”
“Oh, iya kata dokter Ana kamu nggak pernah lagi datang ke kliniknya.“
Ola berbalik membelakangi Prabu dengan melipatkan kedua tangannya. “Dokter Ana aneh, Pi. Ola nggak suka.”
“Loh? Bukannya dulu kamu suka sekali pergi ke sana? Bahkan seminggu kamu datang empat kali dan bisa menghabiskan waktu berjam-jam.”
Sejenak Ola berbalik dengan wajah cemberutnya. “Itu, dulu. Sekarang Ola nggak suka, Pi. Pokoknya aku nggak mau ke sana lagi. Titik!”
“Oke-oke, papi ngerti.” Lantas Prabu membalikan tubuh Ola menghadap ke dirinya. “Ya, udah kalau gitu papi ke kamar dulu, ya. Badan papi pegal-pegal.”
“Mau aku pijitin, Pi?”
Prabu menggeleng kepalanya sambil tersenyum lembut. “Nggak usah, Sayang. Mending kamu istirahat juga. Papi tau kamu pasti capek dari sekolah.”
Usai obrolan singkat itu, Prabu melangkah keluar dari kamar putrinya tak lupa menutup pintu.
“Bi Siang benar, Ola lagi-lagi tidak mengingat semuanya,” gumam Prabu sendu menatap pintu cokelat di depannya itu.
***
Seperti pagi biasanya Ola berangkat ke sekolah, tetapi kali ini di antar oleh sang papi yang tentu saja membuat Ola senyam-senyum di sepanjang koridor yang masih tampak sepi.