Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Karena sudah dipanggil oleh Farel untuk ke bawah terpaksa Ola menyimpan kembali buku diary bersampul biru di tangannya itu ke atas meja belajar, lalu mulai melangkah ke kamar mandi.
Lain kali saja ia membaca isinya lagi pula ia masih banyak waktu. Setelah bersih-bersih ia langsung bergegas turun ke bawah takut mereka menunggunya terlalu terlama.
“Happy birthday!”
Ola seketika dibuat terkejut dengan kejutan yang diberikan. Pasalnya mereka semua langsung berteriak happy birthday saat baru saja tiba ditambah lagi maminya membawa sebuah kue coklat berukuran sedang.
“Selamat ulang tahun, Sayang,” ucap Qiana tersenyum melangkah mendekati Ola memeluk sang putri dengan penuh kasih sayang.
“Ini? Padahal ulang tahun Ola masih besok,” sahut Ola yang tentu saja heran. Ia mana mungkin lupa dengan hari kelahirannya yang bertepatan besok.
“Nggak pa-pa. Lebih cepat ngerayain lebih bagus. Soalnya besok ada pesta, ya nggak, Pa, Ma?” Ferel bersuara mendapatkan anggukan kepala dari Prabu dan Qiana.
“Pesta? Nggak usah. Lagian Ola senang kalau cuman dirayain bareng kalian,” tolak Ola tentu saja karena selama ini jika hari ulang tahunnya tiba biasanya akan merayakan bersama keluarga saja, misalnya pergi piknik, jalan-jalan.
Tak pernah sekalipun membuat pesta karena baginya itu hanya membuang-buang duit lagi pula ia juga sudah besar tak pantas merayakan pesta ulang tahun di usianya yang sekarang.
“Nggak pa-pa, Sayang. Ini juga sebagai permintaan maaf kami karena selama ini nggak pernah peduli sama hari ulang tahun kamu bahkan nggak pernah rayain.” Qiana mengelus rambut Ola yang tampak terdiam.
“Lagi pula papa dan mama nggak merasa berat. Ini sebagai cinta kami buat kamu. Jadi, terima, ya?” tambah Prabu tersenyum membuat Ola yang melihat mereka yang tetap kekeuh akhirnya mengangguk.
Ola pun akhirnya menatap kue di depannya yang bertuliskan angka 18 tak lupa ada namanya di sana.
Sejenak Ola menutup kedua matanya berdoa semoga keluarganya dalam keadaan sehat dan ia bisa bahagia bersama mereka, lalu ia membuka kedua matanya langsung meniup lilin membuat mereka bertepuk tangan dengan meriah tak lupa senyum bahagia terpancar dari wajah mereka.
Melihat keluarganya yang begitu bahagia hanya karena hal kecil membuat Ola turut merasakannya. Akhirnya keluarga Ola di sini juga sudah hidup harmonis.
“Nyonya, makanannya udah siap.” Bi Siang datang mengucapkan hal itu.
“Ya, udah sekarang waktunya untuk makan!” seru Qiana membuat mereka lagi-lagi berteriak heboh tak terkecuali Farel dan Ferel yang begitu bersemangat.