Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Mahkluk mitologi.
Begitulah yang Ola ketik di kolom pencarian goggle. Saat menekan enter semua hal mengenai mahkluk mitologi muncul satu persatu lengkap dengan gambarnya.
Mulai dari mahkluk yang bernama Medusa, Hydra, Cyclops, dan masih banyak lainnya. Ia hanya ingin mengetahui Keen itu sebenarnya mahkluk apa.
“La, ke kantin, yuk!” ajak Nayya usai menutup laptopnya.
Merasa tak ada respons membuatnya perlahan mendekat menatap isi laptop Ola yang berisikan gambar-gambar serta penjelasan mengenai mahkluk mitologi.
“Sejak kapan lo tertarik sama mahkluk kayak gitu?” tanyanya.
“Sejak gue nonton drakor.”
“Gue kirain apa. Yuk, ah ke kantin. Laper gue,” ucap Nayya menjauh dari Ola.
Masih fokus dengan layar lebar di depannya itu Ola menyahut, “Lo aja, Nayy gue masih kenyang.
“Kenyang makan makhluk mitologi maksudnya?” sindir Nayya beranjak dari duduknya. “Ya, udah gue ke kantin. Kalau lo mau nitip kabari gue aja.”
Kini tinggal Ola sendirian di kelas dengan masih sibuk berkutat dengan laptopnya sesekali membaca informasi mengenai mahkluk mitologi yang membuatnya tertarik.
“Minotaur. Tubuhnya mirip manusia, tapi berkepala banteng dan tanduknya kuat ditambah tajam.”
Sejenak Ola berpikir membayangkan Keen berubah memiliki tanduk membuat Ola seketika menggelengkan kepalanya. Mana mungkin! Jelas-jelas Keen hanya mengeluarkan kekuatan dan cowok itu sama seperti manusia pada umumnya.
Jadi, mahkluk apa Keen itu? Alien? Malaikat? Peri? Atau bahkan Dewa?
“Ola.”
Suara Esa terdengar membuat Ola cepat-cepat menutup laptopnya begitu cowok itu masuk ke kelas.
“Mulai sekarang lo nggak boleh jauh-jauh sama gue,” putus Esa dengan nada seriusnya.
“Maksud lo?”
Esa menghela napas berat. Masih teringat jelas bagaimana Ola diculik dan itu semua gara-garanya yang tidak becus menjaga Ola. Untung saja gadis itu pulang dengan selamat. Andai tidak mungkin ia tidak akan memaafkan dirinya untuk kedua kali.
Karena itu ia tidak akan mengalami hal yang sama lagi. Dirinya akan tetap berada di samping gadis itu. Menjaganya dengan benar-benar serius.
“Gue nggak mau kejadian kemarin kembali terjadi,” ucap Esa yang akhirnya mengeluarkan hal yang selalu menghantuinya.
“Itu, nggak akan terjadi. Lo tenang aja.”
“Tapi, gue khawatir.”
Mendengarnya membuat Ola yang niatnya ingin menyimpan laptopnya seketika terdiam ketika mendengar Esa mengkhawatirkan dirinya.