Hari sebelumnya yang dirasakan Ola serasa beda ketika pertama kalinya ia terbangun dari pingsannya sehabis mendonorkan darah. Bagaimana tidak? Ia yang biasanya selalu mendapatkan kasih sayang oleh orang sekitarnya mulai menghilang.
Keluarga yang me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
****
2 dosa yang tak termaafkan:
1. Pengkhianatan 2. Pembunuhan
Sebuah tulisan yang berupa ketikan membuat pihak ke polisi merasa sulit untuk melacaknya.
“Om Pram, gimana?” Esa yang baru saja datang langsung menemui Pram yang berada di ruangannya.
“Masih melakukan penyelidikan. Sementara ini berusaha untuk melacak keberadaan saksi pertama mengingat saksi kedua sampai sekarang belum mau angkat bicara.”
Mendengarnya itu berhasil membuat Esa menghela napas berat. Ia terduduk di atas sofa dengan menunduk karena kasus Irfan masih terlihat abu-abu.
Pram yang melihatnya pun tak tega. Ia beranjak dari duduknya lalu duduk di samping Esa.
“Kamu mending pulang dulu. Masalah ini biar kami yang mengatasinya,” ucapnya kasihan melihat Esa yang hampir setiap hari ke kantor polisi bahkan cowok itu juga ikut serta dalam membantu penyelidikan.
Sontak Esa mendongak menatap Pram dengan menggelengkan kepalanya. “Saya nggak akan berhenti, Om sampai pelaku sebenarnya ditemukan,” sahutnya bersungguh-sungguh.
“Ya, saya tahu kamu merasa bersalah atas kejadian ini. Saya ingatkan sekali lagi bahwa semua ini bukan salah kamu. Ini hanya masalah takdir saja yang membuat almarhumah tidak beruntung.”
“Meski begitu saya tetap nggak bisa tenang, Om apalagi masih dicap pembunuh.”
Baru saja Pram ingin membuka suara lagi, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi menandakan ada telepon masuk dan benar saja sebuah telepon berasal dari anak buahnya.
'Pak, kami sudah menemukannya saksi pertama.'
Sejenak Pram menatap Esa sebelum akhirnya membalas, 'Di mana dia sekarang?'
'Saya kirimkan alamatnya, Pak.'
Setelahnya sebuah notifikasi masuk berupa sebuah alamat yang dikirim membuatnya bergegas mengambil kunci mobil kepolisian.
“Saksi pertama sudah ditemukan,” ucapnya yang berhasil membuat Esa berdiri.
“Saya ikut, Om.”
Keduanya pun tergesa-gesa keluar dari kantor polisi menuju ke alamat yang lumayan jauh jaraknya hingga beberapa menit menghabiskan waktu akhirnya mereka sampai di rumah kecil yang bisa disebut rumah kontrakan.
“Pak.”
“Bagaimana?” tanya Pram kepada anak buahnya yang menunjuk seorang perempuan yang baru saja datang sambil membawa nampan berisi teh.