Part 9 Sebuah Halusinasi

702 29 0
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

Pagi itu cuaca amat cerah, sinar surya menampar jendela kaca kamar seorang gadis yang masih terlelap dalam tidurnya meski beberapa kali cahayanya menipis pelupuk mata tetap tak membuatnya terbangun. Alam bawah sadar lebih indah dari pada kenyataan, ya meski pada akhirnya tidur sosok itu terusik dengan perlahan memaksakan kedua netra untuk terbuka.

Samar-samar ia menatap dinding kamarnya yang bercat putih itu sesekali menguap dengan rasa kantuk yang belum sepenuhnya menghilang. Sejenak terdiam untuk menetralkan perasaannya agar lebih enakkan hingga beberapa menit barulah Ola memutuskan beranjak dari kasur kesayangannya.

Tepat pada saat itu Ola tanpa sengaja menatap dirinya lewat pantulan cermin yang memang menghubungkan langsung dengan letak ranjang yang saling berhadapan. Melupakan niat awalnya untuk mengambil baju mandi ia lebih memilih mendekati cermin besar itu dengan masih serius menatap dirinya seolah-olah ia baru pertama kali melihat dirinya sendiri secara langsung.

Rambut sepunggung terurai, bola mata berwarna hitam serta wajahnya yang terlihat seperti biasanya membuat Ola menghela napas dengan kedua tangannya yang sedari tadi sibuk meraba wajahnya mencari hal yang berbeda di sana kini mulai turun. Lagi-lagi dirinya beranggapan bahwa ini semua bukanlah nyata atau ini semua bukanlah dirinya, tetapi tetap saja semuanya sama. Ini adalah dirinya sendiri.

Sepertinya ia sudah gila hanya karena perubahan orang-orang sekitarnya. Ola menghela napas berat hingga akhirnya melangkah pelan ke arah kamar mandi.

Usai bersiap-siap dengan seragam khas Starling Ola langsung saja berjalan santai seperti biasanya ke arah meja makan dengan senyuman yang sedari tadi tak pernah luntur dari bibirnya itu membuat siapa saja melihatnya mungkin akan berpikiran hal yang sama, apa bibirnya itu tak pegal?

Namun, sesampainya di meja makan seperti kemarin dirinya tak melihat keberadaan kedua orang tuanya bahkan kedua kakaknya pun juga tak ada. Di sana pun juga tidak ada bi Siang, Nana, atau pun Cindy. Entah ke mana mereka semua pergi yang pasti Ola hanya sendirian di ruang makan yang luas itu dengan berbagai hidangan sudah tersedia di atas meja. Tinggal duduk tenang dan menikmatinya saja.

Dengan malas Ola menarik salah satu kursi yang berada di tengah sebelah kiri yang memang sedari dulu merupakan tempat favoritnya. Meski ia benci dengan suasana sepi apalagi dengan makan sendirian dirinya tetap berusaha untuk mengabaikannya yang terpenting sekarang perutnya terisi mengingat sedari tadi perutnya itu terus-menerus bergemuruh minta untuk di isi.

“Permisi, Non.”

Ola yang tadinya sedang mengoleskan kaca ke rotinya sontak mendongak begitu mendengar suara dari bi Siang.

“Bi Siang!” Betapa bahagianya Ola dengan melihat satu penghuni rumah sudah menampakkan dirinya. “Bi, ayo ikut serapan bareng Ola! Nggak enak kalau sendiri, sepi,” lanjutnya melebarkan senyumannya yang sempat menghilang.

“Anu, Non.” Tampak bi Siang menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Meski ragu wanita paruh baya itu tetap membuka suara, “Ini, ada titipan dari nyonya.”

Bukan Antagonis! [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang