20. What's Wrong?

64 5 0
                                        

Kedua kelopak mata Queen bergerak-gerak disaat ia mendengar sayup-sayup suara berisik di sekitarnya. Mau tak mau, ia terpaksa membuka kedua matanya, walaupun ia malas bangun dari tidur lelapnya.

Bangun-bangun, satu hal yang Queen cari bukanlah suara bising yang menggaggu tidur lelapnya. Melainkan sosok yang semalam menemaninya. Ia menurunkan kedua kakinya dan berjalan dengan langkah gontai untuk keluar kamar.

Namun, baru beberapa langkah Queen keluar kamar, tiba-tiba saja ia berhenti melangkah dan menatap sekitarnya. Ia meremas sedikit rambutnya dan terlihat seperti orang linglung. Setelah itu, ia menoleh menatap pantulan dirinya di cermin yang ada di tembok di sampingnya dengan tatapan terkejut pada dirinya sendiri.

"Queen, apa yang terjadi padamu?" Queen bertanya pada pantulan dirinya di cermin dengan nada ketakutan dan kedua bola mata yang melebar. "Kenapa kau mencari Kynan? Tentu saja dia sudah pulang!" serunya dengan dahi berkerut keheranan pada dirinya sendiri.

Di tengah-tengah kekacauan kecil dalam diri Queen, ia mendengar ponselnya yang berdering keras. Ia pun kembali ke dalam kamar dan melihat teleponnya yang ternyata dari Astryd.

Selama beberapa saat, Queen terdiam berpikir apa mungkin ibunya meneleponnya karena khawatir setelah mengetahui kejadian kemarin? Tapi, ia juga tidak ingin berharap banyak.

"Pagi, Mama," sapa Queen sedetik setelah ia mengangkat teleponnya.

"Kudengar kemarin kau hampir dicelakai oleh penguntitmu," ujar Astryd dengan datar tanpa membalas sapaan Queen.

"Apa Anitta memberitahumu?" tanya Queen.

"Kudengar laki-laki anak temanku yang kukenalkan padamu itu masuk ke agensi yang sama denganmu. Jadi, kalian sudah saling dekat?" tanya Astryd mengabaikan pertanyaan Queen sebelumnya.

Queen terdiam sejenak. Tidak mungkin Anitta memberitahu itu semua, karena Anitta bahkan tidak tahu tentang pertemuan Queen dan Kynan malam itu.

"Cepat sekali Mama mendengar kabarnya." Tiba-tiba saja Queen tersenyum miring. "Apa Mama memata-mataiku?"

"Bagus sekali kalau kalian sudah dekat. Kurasa aku bisa menghandalkanmu." Lagi-lagi Astryd mengabaikan perkataan Queen.

"Apa Mama akan terus mengabaikan perkataanku?" tanya Queen kesal.

"Pertahankan hubunganmu dengan laki-laki itu. Aku ingin ada perkembangannya." Setelah mengatakannya dengan cepat dan tegas, Astryd langsung memutuskannya sepihak.

Queen terkekeh sinis pada dirinya sendiri. Ia melempar ponselnya ke kasur dan berkacak pinggang. "Sebenarnya ada apa denganku pagi ini? Mengharapkan Mama akan khawatir padaku? Tidak akan pernah terjadi!"

***

Queen terlihat berjalan keluar dari apartemennya sembari menenteng tas tangannya. Sembari menunggu lift terbuka, ia melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 09.37. Tidak terlalu pagi dan tidak terlalu siang untuk Queen menuju kantor agensinya sekarang.

Tak lama kemudian, pintu lift pun terbuka. Queen segera masuk dan menekan tombol lantai yang hendak ia tuju.

"Tunggu!" Tiba-tiba, seseorang berteriak dan masuk tepat sebelum pintu lift tertutup. "Hai, Queen!" sapanya kemudian dengan senyum lebarnya.

"Hai, Eve," sapa Queen balik sambil tersenyum manis.

"Berangkat kerja?" tanya Eve berbasa-basi.

"Ya." Queen mengangguk sambil masih tersenyum.

Evelyne mengangguk mengerti. "Oh, iya. Aku sudah lama ingin bertanya ini," ujarnya lagi sambil menatap Queen lekat-lekat. "Kau kenal dekat dengan Kynan, ya?"

Partner for Life - HBS #3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang