8. Messages

99 7 0
                                        

Malam datang dengan cepat di Kota Berlin. Tak banyak yang Kynan lakukan hari ini. Tadinya, setelah urusannya untuk pekerjaan barunya selesai, ia ingin mengajak bicara Queen. Tapi, ternyata Queen harus pergi ke Paris. Jadi, rencananya gagal dan dia harus berdiam diri di penthousenya sampai malam.

Setelah bermalas-malasan di penthouse, Kynan pun bersiap-siap untuk datang ke pesta penyambutannya di agensi. Walaupun ini adalah pesta kecil, Kynan benar-benar berharap untuk Queen datang. Namun, lagi-lagi ia merasa sedikit kecewa, karena Queen tidak pulang hari ini.

Awalnya, Kynan yang baru datang berusaha untuk menikmati pesta kecil yang dibuat untuk menyambutnya. Bahkan, dia sudah banyak berkenalan dengan sebagian besar karyawan kantor agensi. Tapi, entah kenapa lama kelamaan ia merasa bosan sendiri.

Alasan pertama, karena Kynan tidak terbiasa datang ke sebuah pesta sendirian. Dulu, biasanya dia akan datang bersama Keanu atau yang lainnya. Bahkan, sekarang saja Ansell juga tidak ikut. Alasan kedua, karena entah kenapa ia belum menemukan kesenangan lainnya selain keinginan untuk mengajak Queen bicara.

"Hei." Tiba-tiba seseorang menyapa Kynan dan Kynan menoleh, ternyata itu adalah Debby. "Boleh aku duduk di sini?" tanyanya menunjuk pada kursi bar di samping Kynan.

"Tentu," sahut Kynan sambil tersenyum lebar.

"Kuharap kau tidak merasa bosan di pesta yang disediakan untukmu ini," ujar Debby yang sudah duduk.

Kynan terkekeh kecil menyahutinya. "Aku baru tahu mereka punya ruangan mini bar ini," ujarnya berganti topik pembicaraan.

"Hanya digunakan untuk pesta-pesta tertentu saja, seperti sekarang," sahut Debby dan Kynan mengangguk mengerti.

"Hei, Kynan, aku tidak tahu ini mungkin terdengar tidak sopan dan pantas, tapi bisakah kita saling bertukar nomor ponsel?" pinta Debby tiba-tiba. "Maksudku, kita adalah teman satu sekolahan dulu dan sekarang kita akan sering bertemu dalam agensi. Jadi, kalau kau tidak keberatan..."

Kynan tersenyum lebar. "Tidak perlu sungkan," ujarnya dengan senyum lebarnya. "Mana ponselmu? Kumasukkan nomor ponselku."

"Benarkah?"

Debby benar-benar tak menyangka Kynan akan memberikan nomor ponselnya. Jujur saja, sudah sejak lama ia mengagumi Kynan saat dulu mereka satu sekolahan dan dulu ia tak berani mendekati Kynan, tapi sekarang situasinya berbeda.

"Terima kasih," ujar Debby bersungguh-sungguh setelah Kynan memberikan nomor ponselnya.

Namun, seketika Kynan jadi diam dengan pikirannya sendiri. Nomor ponsel? Sebuah ide muncul begitu saja di kepalanya untuk mengirim pesan pada Queen.

"Karena sekarang kau ada di Berlin, mungkin kapan-kapan kita bisa keluar bersama. Bagaimana menurutmu?"

Debby berkata dengan penuh antusias dan menoleh menatap Kynan. Tapi, senyum lebarnya perlahan luntur saat mendapati Kynan yang justru tengah asyik dengan ponselnya sambil senyum-senyum sendiri. Ia rasa Kynan tidak memperhatikannya dari tadi.

"Kynan?" Debby memberanikan diri memanggil Kynan dengan hati-hati.

Kynan pun mendongak dan seolah-olah ia menyadari keberadaan Debby. "Oh, maafkan aku. Tadi kau bilang apa?"

Debby hanya tersenyum canggung. "Maaf, kupikir kau sedang sibuk sekarang. Aku akan pergi berkumpul bersama teman-temanku lagi saja," ujarnya berpamitan sembari beranjak dari tempat duduknya.

Jujur saja, Debby berharap mungkin Kynan akan menghentikannya. Tapi, ia salah. Kynan bahkan mempersilakan Debby untuk pergi.

Walaupun kini Debby sudah beberapa langkah jauh dari Kynan, ia berbalik menatap Kynan selama beberapa saat. Laki-laki itu tengah menyibukkan diri dengan ponselnya, padahal sebelum ia datang tadi ia melihat Kynan tampak bosan. Itu yang membuat ia menghampiri Kynan untuk menemaninya. Tapi, saat ia mencoba untuk berbincang dengan Kynan, laki-laki itu justru sibuk sendiri dengan ponselnya.

Partner for Life - HBS #3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang