23. Can't be Understood

46 4 0
                                        

Pagi hari, Kynan terlihat sudah menikmati kopi panas buatannya di teras penthousenya sembari membuka-buka buku resep makanan Jerman. Pasalnya, ia sangat penasaran pada Ansell yang selama mereka ada di Berlin ini pasti akan memasak makanan Jerman yang sangat lezat. Jadi, Kynan ingin mencobanya sebagai kegiatan yang baru.

"Kynan," panggil Ansell yang datang dari arah dapur. Kynan hanya bergumam kecil dan masih fokus pada buku resepnya.

"Aku dapat kabar kalau Nona Evelyne baru saja meninggalkan Berlin menuju Sydney," ujar Ansell dengan nada serius.

Dahi Kynan berkerut sedikit dan fokusnya jadi teralihkan. Memang, setelah ia mengetahui Evelyne ada disini—yang menurut Kynan itu sedikit aneh—dan bahkan tinggal di lantai apartemen yang sama dengan Queen, ia langsung meminta tolong pada Ansell untuk selalu mengawasi Evelyne.

Kini, Kynan semakin berhati-hati pada Evelyne karena alasan yang belum ia mengerti. "Apa yang ia lakukan disana? Kenapa ia selalu mondar-mandir kesana kemari?"

***

Pagi ini, Queen benar-benar dibuat heran sekaligus terkejut saat ternyata Astryd tengah berada di Berlin. Bahkan, meminta bertemu dengannya. Jadi, setelah sarapan tadi, ia langsung menuju alamat yang Astryd kirimkan untuk bertemu.

Hanya membutuhkan waktu 20 menit dengan mobil Queen dari apartemennya, kini Queen sampai di sebuah dermaga. Setelah memarkirkan mobilnya, ia pun mencari keberadaan mobil ibunya yang ternyata sedikit tersembunyi. Ia sempat mengecek apakah dirinya diikuti atau tidak, barulah itu ia masuk ke kursi belakang.

"Apa ada yang mengikutimu?" tanya Astryd dengan nada serius, alih-alih menyapa.

"Tidak," jawab Queen dengan nada yang sama. Kemudian, ia menatap Astryd dan bertanya, "Kenapa memintaku bicara disini? Dimana Dad?"

"Richard sedang berada di Indonesia," jawab Astryd, kemudian menatap Queen dengan dahi berkerut kecil. "Kenapa kau bertanya alasanku memintamu bicara disini? Bukannya bicara seperti ini adalah hal yang sudah biasa untuk kita selama bertahun-tahun ini?"

Queen tersenyum menyindir dirinya dan Astryd. "Jadi, apa yang mau Mama bicarakan?"

Astryd kembali menatap ke depan tanpa tersenyum. "Kudengar kau akan ke munich dengan Kynan. Dia jadi partner kerjamu?"

"Wahh, informasinya sampai ke Mama cepat sekali. Bahkan, aku belum pernah menyebut nama Kynan, tapi Mama sudah tahu lebih dulu." Queen menyindir Astryd yang selalu menggunakan mata-mata untuk mengetahui situasi Queen alih-alih bicara langsung.

"Gunakan waktumu sebaik mungkin." Astryd menghiraukan sindiran Queen. "Kalau kalian menikah, perusahaan kita akan semakin berkembang pesat. Orang tua kynan adalah yang paling berpengaruh di Australia dan Asia sekarang,"

Queen tersenyum miring. "Aku tidak menyukai laki-laki itu dan aku tidak akan menikah dengan laki-laki yang tidak kusukai."

"Kalau begitu, sukailah dia."

"Apa?" Dahi Queen semakin berkerut dan menatap Astryd dengan sedikit tajam setelah Astryd mengatakan hal yang baginya adalah sesuatu yang  konyol.

"Kudengar dia selalu mengejarmu," ujar Astryd dengan santai sembari menarap Queen. Sementara Queen jadi terdiam. Tidak ada yang tidak diketahui Mama, pikir Queen kesal. "Yang harus kau lakukan hanyalah manfaatkan keadaan dan taruh perasaanmu padanya. Mudah, kan?"

"Bagiku, menaruh perasaan pada orang lain tidak semudah Mama menyuruhku menyukainya," ujar Queen dengan sedikit tajam.

Astryd menoleh ke depan dan tersenyum kecil sembari memejamkan kedua matanya. "Mungkin kau bisa mengatakan itu sekarang. Tapi, siapa yang tahu masa depan?"

Partner for Life - HBS #3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang