Hari-hari berjalan dengan cepat dan setengah bulan ini cukup sulit untuk dilalui keluarga Richard dan Astryd. Keduanya masih tak bisa membuat Queen untuk bicara dengan mereka, dr. Irmina sekalipun. Berbagai cara sudah dilakukan dengan lembut, namun yang ada justru kondisi Queen lebih buruk dari sebelumnya.
Sebelumnya, Queen hanya selalu diam di ranjangnya dengan tatapan kosongnya. Namun, sudah seminggu ini Queen justru mulai berperilaku sedikit mengganggu. Ia terkadang menangis keras sembari berteriak-teriak.
Bahkan, terkadang Queen juga seperti kehilangan dirinya yang asli dan mulai menginginkan boneka bayi-bayi yang akan dianggap seperti anaknya sendiri. Namun, beberapa saat kemudian dia akan menangis-nangis setelah sadar kalau itu hanya boneka. Seperti sekarang ini.
Malam yang dingin, lampu kamar Queen menyala remang-remang. Namun, Queen tak berada di ranjangnya. Ia tengah menggendong sebuah boneka bayi yang sudah ia pakaikan pakaian perempuan dengan sangat cantik.
Queen menggendong boneka bayi itu sembari menatapnya dengan penuh kasih dan menyanyikan lagu lullaby dengan sangat lembut. Ia benar-benar menganggap boneka bayi itu seperti anaknya sendiri.
Tapi, tiba-tiba saja senyumnya lenyap dengan cepat. Mata yang tadinya menatap boneka bayi itu dengan penuh sayang, tiba-tiba saja berubah menjadi tatapan terkejut bercampur kesal dan sedih.
Queen langsung membuang boneka itu dengan sedikit kasar. Detik berikutnya, ia luruh ke lantai dan meremas rambutnya dengan keras-keras. Tangisnya mulai keluar bercampur dengan teriakan yang sangat keras.
Kedua orang tua Queen yang mendengarnya pun langsung berlari ke kamar Queen. Sebenarnya, mereka sudah tak terkejut lagi dengan keadaan Queen seperti sekarang.
Satu hal yang langsung dilakukan Astryd, seperti biasanya, adalah memeluk Queen dan mengusap punggungnya dengan lembut untuk menenangkannya. Sementara Richard juga membantu mengusap kepala Queen dengan penuh sayang.
Sembari memeluk Queen, Astryd menatap Richard dengan tatapan sedihnya, sama seperti setiap harinya. Begitu pula dengan Richard yang kemudian juga tertunduk.
Selama beberapa saat, Astryd dan Richard menenangkan Queen dengan posisi yang tak berubah. Hingga akhirnya, Queen sudah mulai tenang dan ia tertidur di pelukan Astryd.
Perlahan, Richard pun mengambil Queen untuk kemudian menggendongnya dan menidurkannya di ranjang. Setelah itu, Astryd pun menyelimuti Queen. Sebelum beranjak, tak lupa mereka memberikan ciuman sayang di kening Queen.
Setelah itu, Astryd beranjak mengambil boneka bayi yang dibuang oleh Queen. Ia menatap boneka itu dengan miris dan menangis dalam diam. Jujur, hatinya terasa sangat sakit melihat anaknya yang seperti ini.
Perlahan, Astryd meletakkan boneka bayi itu ke tempatnya. Setelah itu, ia pun berjalan keluar kamar Queen menyusul Richard. Sebelum menutup pintu kamar Queen, sejenak, mereka berdua menatap Queen yang tengah tertidur dengan lelap.
"Astryd, kita tidak bisa membiarkan Paula disini terus. Dia bisa saja sembuh kalau ia dirawat di RSJ," ujar Richard pada Astryd.
Sontak, Astryd langsung menatap Richard dengan tatapan kesal. "Apa?! Anak kita tidak gila! Kau yang gila, karena mau memasukkan anak kita ke RSJ!" serunya dengan kedua mata yang sedikit melebar.
Kemudian, Astryd menatap Queen kembali dengan sendu. "Kau lihat dia? Dia baik-baik saja dan sekarang sedang tidur. Seiring berjalannya waktu, dia akan baik-baik saja, asalkan kita ada untuknya."
"Kenapa kita tidak beritahu Kynan saja?" Mendengar itu, Astryd termenung. "Sudah pasti Kynan adalah ayah dari calon anak Queen yang meninggal, dia adalah—"
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner for Life - HBS #3
Romansa(COMPLETED) 🔞 Third series of Handsome Brotherhood Seorang Kynan Roderick percaya bahwa ia tidak perlu memiliki banyak hubungan, namun cukup hanya dengan satu perempuan dalam hidupnya. Prinsip hidupnya adalah berhubungan dengan perempuan sekali seu...
