Debby benar-benar terkejut setelah ia mendapati ayahnya ada di depan pintu apartemennya. Kondisinya tak terlihat bagus. Ia datang dengan pakaian rumah sakitnya dan tak beralaskan kaki. Bahkan, rambutnya tak disisir rapi dan pandangannya terlihat kosong. Sudah jelas Debby tahu kalau ayahnya, Dominic, lari dari rumah sakit.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Kini, Debby tengah dalam perjalanan di mobil untuk membawa ayahnya kembali ke RSJ.
Dua puluh menit kemudian, mobil Debby sampai di RSJ. Terlihat sudah ada dua perawat laki-laki yang menunggu kedatangannya setelah tadi mendapatkan kabar dari Debby. Dua perawat laki-laki yang menyadari kedatangan Debby pun langsung menghampiri mobil Debby dan membawa Dominic bersamanya. Sementara Debby berjalan di belakang mereka.
Saat para perawat tadi membawa Dominic ke ruangannya, Debby berbelok langsung menuju ruangan dr. Irmina. Ia sudah meneleponnya kalau ia akan kemari menemui dr. Irmina. Jadi, saat ia masuk, dr. Irmina menyambutnya dengan ramh dan tidak perlu berbasa-basi lagi.
"Kenapa bisa ayahku keluar dari sini?" tanya Debby keheranan. "Bahkan, dia juga tahu alamat apartemenku. Bagaimana bisa itu? Apa itu artinya dia sudah sembuh?"
"Aku masih belum bisa memastikannya." dr. Irmina menghela napas panjang. Kemudian, ia mengambil secarik kertas dan menaikkannya supaya Debby dapat melihatnya dari jauh. "Ini adalah dokumen lengkap tentang walinya, alias ini adalah profil lengkapmu."
"Kemarin, aku mengunjungi ruangan Dominic sembari membawa dokumen-dokumennya dan dokumen profilmu juga kusatukan dengan profil Dominic. Tapi, baru kusadari tadi pagi kalau kertas profilmu hilang. Aku mencarinya di ruanganku tidak ada dan saat aku ke ruangan Dominic, aku dapat melihat kertas itu di atas tempat tidurnya yang kosong," jelas dr. Irmina yang membuat Debby terkejut, karena itu jelas-jelas berarti ayahnya yang mengambilnya.
"Kami sempat mencari ayahmu di seluruh lingkungan RSJ, tapi tidak ketemu. Lalu, kau meneleponku mengatakan kalau ayahmu ada di apartemenmu. Itu sangat mengejutkanku. Setelah itu, aku langsung menuju ruang CCTV untuk melihat bagaimana ia bisa keluar dari sini."
"Bagaimana?" tanya Debby tak sabaran.
"Sederhana," jawab dr. Irmina sembari mengendikkan kecil bahunya.
"Saat istirahat makan siang, kami memperbolehkan para pasien untuk berkeliling taman untuk mendapatkan udara segar. Saat itu, untuk yang pertama kalinya setelah sekian lama, ayahmu keluar dari kamarnya. Ia benar-benar berjalan tanpa ada orang yang mengetahuinya. Setelah itu, kau tentu tahu kemana ia pergi."
Debby tercengang mendengar penjelasan dr. Irmina. Perasaannya campur aduk sekarang. "Apa itu berarti dia mengingatku?" tanyanya menatap dr. Irmina lurus-lurus. "Apa itu berarti ayahku sudah lebih baik?"
"Kami belum bisa mengetahuinya. Kami perlu mengecek beberapa hal. Aku juga sudah meminta suamiku kemari untuk membantuku memeriksa kesehatan ayahmu," jawab dr. Irmina. Suaminya adalah seorang dokter ahli saraf, jadi terkadang ia meminta bantuan pada suaminya untuk bekerja sama.
Di tengah-tengah perbincangan dr. Irmina dengan Debby, tiba-tiba saja telepon di atas meja kerja dr. Irmina berbunyi keras. "Kurasa kau sedang sibuk sekarang?" ujar Debby tersenyum kecil.
"Akan kukabari setelah aku mendapatkan hasil dari pemeriksaan ayahmu," sahut dr. Irmina dan Debby mengangguk. Setelah berpamitan, Debby pun keluar dan barulah dr. Irmina mengangkat teleponnya.
"Halo," sapa dr. Irmina dengan lembut.
"dr. Irmina? Ini aku, Genovefa, mamanya Paula," sapa penelepon yang ternyata adalah Astryd.
"Oh, selamat sore, Mrs. Genovefa. Bagaimana kabarmu?" tanya dr. Irmina dengan ramah.
"Tentu baik, seperti biasanya," jawab Astryd sembari terkekeh. "dr. Irmina, aku ingin bertanya tentang Paula anakku."
KAMU SEDANG MEMBACA
Partner for Life - HBS #3
Romance(COMPLETED) 🔞 Third series of Handsome Brotherhood Seorang Kynan Roderick percaya bahwa ia tidak perlu memiliki banyak hubungan, namun cukup hanya dengan satu perempuan dalam hidupnya. Prinsip hidupnya adalah berhubungan dengan perempuan sekali seu...
