53. The Bullet

36 3 0
                                        

Dua puluh empat jam yang lalu.

Debby terlihat merapatkan mantelnya setelah keluar dari mobil yang ia parkir di tepi jalan. Kemudian, ia menyeberang jalan dengan cepat untuk menuju sebuah toko senjata api. Ia mengenal toko ini dari website dan toko ini memang terletak jauh dari kota.

Saat Debby masuk ke toko, ia dapat melihat berbagai macam senjata api, mulai dari senjata api berlaras pendek sampai yang berlaras panjang. Jujur, ini adalah pertama kalinya ia mati-matian memberanikan dirinya untuk masuk ke toko penuh senjata api.

"Apa yang kau cari?" tanya seorang perempuan yang penuh tato di sepanjang lengan kirinya dan hidungnya bertindik dua.

"Aku mencari senjata api," jawab Debby yang entah kenapa menjadi gugup.

"Nona muda, kau bisa menemukan banyak senjata api di toko ini," sahutnya dengan geli menyadari ini pasti pertama kalinya Debby mencari senjata api. "Jadi, senjata api apa yang kau cari? Untuk berburu? Pistol? Sniper? Atau yang lainnya? Kami punya semuanya disini."

Debby mengikuti perempuan bertato itu. Ia memperlihatkan banyak senjata api yang ada di toko. Sesaat, ia merasa kagum dan kebingungan memilih, seperti kebingungan memilih baju apa yang harus ia beli.

"Apa ini pertama kalinya kau memakai senjata api?" tanya perempuan bertato tadi.

"Iya," jawab Debby yang sedikit malu entah kenapa.

Perempuan bertato tadi mengangguk mengerti. "Karena kau adalah warga sipil, kurasa kau mencarinya untuk pertahanan dirimu, bukan?" tanya perempuan itu lagi dan Debby hanya tersenyum tanpa menjelaskan keperluannya untuk mendapatkan senjata.

"Pertama, kau harus tahu kalau kriteria pistol bela diri untuk orang sipil adalah ringan, ringkas, efisien, dan cepat," terang perempuan bertato tadi.

"Pistol jenis H&K USP itu dirancang untuk militer dan kepolisian, jadi agak berat. Jenis Glock 19 yang lebih ringan dari mereka pun juga bisa membuat tanganmu pegal. Selain itu, untuk warga sipil, tidak perlu pistol dengan manual safety, karena itu hanya akan memperlambat." Perempuan tadi menerangkan sembari menunjuk ke beberapa pistol yang tadi ia sebutkan, sementara Debby diam memperhatikan.

"VP9 bisa lebih cocok sesuai dengan kriteria," ujar perempuan bertato itu sembari menunjuk ke pistol yang dimaksud. "Tapi, kurasa SIG P365 lebih cocok," ujarnya lagi sambil mengambil pistol yang ia maksud dan memberikannya pada Debby.

"Panjangnya 5,8 inci, beratnya kurang dari 18 ons, dan pelurunya 9 mm dengan 11 kali putaran. Ringan, ringkas, efisien, dan cepat," jelas perempuan bertato dengan ringkas saat Debby sedang melihat-lihat pistol yang ia pegang. "Jadi, bagaimana?"

Debby terpana melihat pistol yang ada di tangannya. Ini pertama kalinya ia memegangnya, tapi entah kenapa ia merasa bangga. "Perfect."

***

Siang hari di musim dingin, Debby tengah berdiri di tengah-tengah lapangan yang luas jauh dari perkotaan. Tidak ada apapun di sekitarnya selain hanya ladang dan lapangan luas. Di tempat ini, Debby tengah memegang pistolnya dan beberapa peluru yang sudah ia dapatkan tadi pagi. Sekarang, ia berniat untuk latihan terlebih dahulu sebelum hari yang ia nantikan tiba.

Beberapa meter di depan Debby sudah ada papan yang ia buat sendiri untuk latihan. Debby menatapnya lurus-lurus dan perlahan, ia memposisikan pistol di tangan kanannya dan diarakah lurus ke papan di depannya.

Sejenak, Debby memejamkan kedua matanya untuk mengosongkan pikirannya yang lain kecuali tujuannya semenjak lama yang akan ia capai tak lama lagi. Saat ia membuka kedua matanya, ia membayangkan tujuannya sudah ada di depan mata dan kali ini dia sendiri yang akan menghabisinya.

Partner for Life - HBS #3Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang