Until I Found You (31)

10.3K 459 46
                                        

"Di jemput Raka?"

Alvin menanyakan hal itu pada Alula ketika mereka sedang sarapan bersama dan adiknya itu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Kak Raka kalau pagi harus antar Kaynara sekolah, Kak. Biasanya aku selalu berangkat sendiri, kecuali kalau pulang baru bareng." Jawaban yang adiknya berikan itu membuat Alvin mengangguk faham.

"Kalau gitu mau bareng Kakak? Nanti Kakak juga akan mengantar Azura, jadi kalian bisa ketemu di sekolah."

Wajah Alula langsung terlihat bersemangat. Dia menanyakan apa boleh dan Alvin menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Gadis itu langsung bahagia sekali. Dia pun mengatakan bahwa dia akan segera menghubungi Raka dan memberitahu hal itu.

"Tante Alula pacaran sama Papanya Nara?" tanya Azura yang dari tadi diam saja.

"Eh Azura masih kecil enggak boleh tau pacar pacaran gitu," tegur Gisell yang membuat anaknya itu menyengir lucu.

Dia pun kembali memakan sarapannya. Sedangkan Alula sibuk berbalas pesan dengan Raka sambil tersenyum. Gisell yang melihat itu pun melirik suaminya lalu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan. Rupanya adik iparnya ini lagi jatuh cinta.

Setelah dua puluh menit berlalu mereka pun menyelesaikan sarapan mereka. Kemudian setelah Gisell menyiapkan semua keperluan suami dan anaknya ia mengantar mereka hingga ke depan. Alula masuk ke dalam mobil bersama dengan kakak laki-laki dan juga Azura yang sekarang duduk dipangkuannya. Sebelumnya Alula sudah menghubungi Raka dan mengatakan bahwa dia pergi bersama kakaknya dan mereka akan bertemu di sekolah Azura nanti.

"Kamu nyaman dengan pekerjaan kamu sekarang?" tanya Alvin di perjalanan menuju sekolah anaknya.

"Nyaman, aku suka kerjaan aku," kata Alula.

"Syukurlah kalau begitu," ujar Alvin.

"Makasih, Kak. Makasih karena selalu ngertiin aku dan dukung semua keputusan aku," kata Alula dengan tulus.

Meskipun mereka jarang bertemu setelah kakaknya menikah, tapi Alula sangat menyayangi kakak laki-lakinya itu. Bahkan saat kakaknya menikah dia menangis dihari pernikahannya karena membayangkan akan ditinggalkan oleh kakaknya.

Bagi seorang adik sepertinya. Ditinggal menikah oleh kakak memang sangat membuat sedih karena ia akan ditinggalkan.

Hah derita anak bungsu.

••••

Raka tersenyum ketika melihat Alula. Dia juga menatap kakak laki-laki gadis itu lalu menyapanya ketika mereka berhadapan.

Sama seperti Alvin. Raka pun mengenal Alvin meskipun mereka tidak pernah terlibat sebuah obrolan.

"Titip, Alula."

"Iya."

Setelah percakapan singkat itu Alula pun pergi menghampiri Raka. Dia melambaikan tangannya pada sang kakak ketika kakaknya itu pergi lebih dulu karena sedikit terburu-buru.

Kemudian ia bersama Raka juga masuk ke dalam mobil, tapi sebelum Raka melajukan mobilnya Alula memeluk pria itu terlebih dahulu. Perbuatannya membuat Raka tertawa dan balas memeluknya lalu mencium pipinya cukup lama.

"Sudah, ya? Nanti kita dimarah Bang Andrew kalau enggak sampai sampai," kata Raka meminta izin untuk menyudahi pelukan mereka.

Alula mengangguk singkat dan melepaskan pelukan mereka. Dia menatap Raka yang sekarang melajukan mobilnya meninggalkan area sekolah sang anak.

Di perjalanan keduanya tak banyak bicara. Alula hanya diam sambil memperhatikan kekasihnya itu. Kakaknya sudah tau dan dia lega karena mendapatkan respon positif dari kakaknya, tapi dia masih memikirkan soal orang tuanya.

Dan keluarga besarnya tentu saja. Selain itu juga keluarga Raka. Bagaimana kalau keluarga pria itu mengira jika Alula hanya ingin memanfaatkan Raka saja?

Huh ternyata hal-hal seperti ini juga tetap mengganggu pikirannya.

Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit keduanya pun sampai di kantor Zoella Management. Karena Andrew meminta Raka datang untuk membicarakan hal penting terkait pekerjaan.

Keduanya pergi ke ruangan Andrew bersama-sama. Berbeda dengan Raka yang hanya melewati orang-orang begitu saja Alula terlihat ramah menyapa orang-orang yang ia lewati.

"Nah dateng juga yang gue tunggu."

Itu adalah kalimat yang diucapkan Andrew ketika Raka dan Alula masuk ke ruangannya.

"Kenapa, Bang?" tanya Raka sambil duduk dihadapan Andrew bersama dengan Alula.

"Lo diundang ke salah satu event produk skincare," kata Andrew.

"Kapan?" tanya Raka.

"Nanti malam di bandung," kata Andrew.

"Hah?"

Bukan Raka, tapi itu suara Alula.

"Berarti nginap?" tanya Raka.

"Iya lah! Gue enggak akan biarin lo balik malam-malam, bahaya," kata Andrew.

"Malam ini banget?" tanya Raka lagi.

"Iya, cuman satu hari aja kok Ka. Lo bisa pergi siang ini dan balik ke sini besok siang atau sore," kata Andrew.

"Bisa?"

Raka bukan menjawab pertanyaan Andrew malah bertanya pada Alula yang sekarang kebingungan karena ditatap keduanya.

"Eh? Kok nanya aku? Ya, aku bisa kalau Kakak bisa. Aku, kan, ngikut Kakak," kata Alula sambil tertawa canggung.

"Betul tuh! Lo ngapain nanya Alula? Kalau lo oke, dia juga harus oke," kata Andrew aneh.

Raka hanya tersenyum saja. Kemudian dia menyetujui hal itu karena ada Alula yang akan menemaninya tentu saja.

"Jadi?"

"Yaudah balik aja siap-siap," kata Andrew.

Raka menganggukkan kepalanya singkat. Dia melirik Alula yang tersenyum padanya lalu mengikuti dia yang berdiri.

Oh satu hari berdua bersama Alula adalah hal yang menyenangkan.

••••

Raka bilang akan mengantarkan Alula ke rumah saat akan menjemput anaknya ke sekolah. Sekarang keduanya berada di rumah Raka setelah pria itu menyiapkan segala keperluannya.

Kini keduanya berada di kamar Raka. Berbaring di atas ranjang dengan Raka yang memeluk tubuh Alula cukup erat.

"Saya ngantuk."

Raka memejamkan matanya. Berada di pelukan Alula sangat menenangkan dan nyaman. Sedangkan Alula yang mendapatkan pelukan itu hanya tersenyum sambil mengusap kepala Raka.

Dia menyandarkan kepalanya di bahu Raka. Dan pria itu menyandarkan kepalanya di leher jenjangnya, mencuri kesempatan untuk sesekali menciumnya.

"Nanti lupa jemput Kaynara."

"Enggak, Kaynara masih lama pulangnya. Kita juga keluar sebelum Kaynara pulang karena saya kan harus antar kamu ke rumah," kata Raka.

Alula menganggukkan kepalanya singkat. Dia tertawa kecil ketika hidung mancung Raka menggelitik lehernya.

"Geli, Kak."

Raka tersenyum sambil mengeratkan pelukannya pada gadis itu. Tidak mau menatap Alula karena akan berakhir dengan menciumnya, jadi lebih baik begini saja.

"Love language Kakak apa?" tanya Alula.

"Apa itu? Saya enggak tau," kata Raka yang membuat Alula tertawa kecil.

"Aku physical touch."

"Mungkin saya juga," ujar Raka asal.

"Kayaknya iya. Soalnya kita pelukan sama ciuman terus."

Keduanya diam sejenak sebelum tertawa bersama-sama. Ah Raka harap hal ini tidak akan cepat berlalu.

••••

Yeeeeeee👀

Besok pagi update lagi yhhhh sekarang bobok duluuu👻

Until I Found YouTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang