"Yang terbaik dimata Papi bukan berarti sama dimata Alula."
Alvin menemui sang ayah pagi ini setelah sang ibu menghubunginya. Dia sudah mengetahui apa yang terjadi saat makan malam antara orang tuanya dengan kekasih dari adiknya.
Sebenarnya Alvin tidak ingin melakukan ini. Berdebat dengan sang ayah yang cukup keras kepala itu sangat melelahkan dan mudah membuatnya terpancing emosi. Tapi, dia tidak ingin adiknya mengalami nasib yang sama sepertinya.
"Enggak cukup Papi maksa aku? Aku udah nurutin semua keinginan Papi. Aku menikah dengan orang yang sama sekali enggak aku cintai demi Papi, tapi aku enggak mau Papi ngelakuin hal yang sama ke Alula. Aku enggak mau Papi maksa dia seperti Papi maksa aku dulu." Alvin berusaha berbicara atau lebih tepatnya membujuk sang ayah.
"Mungkin aku bisa nerima hal itu sekarang, tapi apa Papi tau gimana susahnya aku menerima itu semua di awal-awal pernikahan? Aku enggak mau Alula juga mengalami hal yang sama dan Papi enggak mau melihat dia masuk rumah sakit lagi, kan? Papi tau dia nekat. Papi juga tau kalau Alula pernah masuk rumah sakit hanya karena putus dari kekasihnya dan Papi mau hal itu terjadi lagi?" tanya Alvin.
Edgar menghela nafasnya panjang. Dia hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk anaknya. Mungkin memaksa Alvin menikah dengan anak dari temannya adalah hal yang ia sesali.
Meskipun Edgar bersyukur karena seiring berjalannya waktu dua orang yang terpaksa menikah itu sudah mulai menerima satu sama lain, tapi tetap saja tidak menutup fakta bahwa keduanya pernah tidur di kamar yang berbeda selama satu tahun. Bahkan Alvin pernah memutuskan untuk pisah rumah dan memilih tinggal di apartemen sendirian.
Dalam pandangannya Alula mungkin akan sulit menerima, tapi dia pasti akan bisa menerimanya seperti Alvin dulu.
"Papi tau gimana sulitnya kita menghibur Alula sampai dia kembali seperti biasa lagi. Alvin juga enggak menutup mata dari semua masa lalu Raka, tapi kita juga enggak bisa kayak gini, Papi. Menjadikan masa lalu pria itu sebagai alasan untuk menolak hubungan mereka itu jahat." Alvin menatap ayahnya dengan senyuman tipis.
Sekali lagi Edgar menghela nafasnya. Kini pria paruh baya itu menyandarkan tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya.
"Papi tidak melarang mereka untuk berpacaran..."
"Tapi, Papi mengharapkan mereka putus dan Papi mengatakannya di depan Raka," kata Alvin.
"Papi hanya ingin yang terbaik untuk adik kamu. Papi enggak mau dia menjadi omongan orang karena menikah dengan Raka. Papi enggak mau adik kamu disakiti," ujar Edgar sambil menatap anaknya.
"Yang Papi lakukan sekarang juga udah menyakiti Alula," kata Alvin yang membuat Edgar terdiam.
Alvin benar. Apa yang dia lakukan sekarang memang sudah menyakiti anaknya. Dia tau dan sangat menyadari hal itu.
Tapi Edgar tidak bisa berhenti atau belum bisa.
••••
"Udah, Ka. Lo udah habis lima anjing! Jangan nyari penyakit."
Alaska merebut bungkus rokok yang ada di meja ketika temannya itu ingin mengambil lagi. Raut wajah pria itu tidak bisa dibohongi. Dia benar-benar terlihat kacau sekarang hingga sepulang dari taman Raka mengantar sang anak ke rumah orang tuanya.
Nantinya dia juga akan menginap di rumah orang tuanya. Sekarang Raka tengah bersama dengan Alaska di rumah pria itu. Lebih tepatnya di halaman belakang rumah.
"Lo jangan terpengaruh sama omongan Caitlyn. Ayolah, Ka. Dia sengaja kayak gitu," kata Alaska.
Raka mengusap kasar wajahnya. Dia benar-benar tidak bisa berfikir dengan baik sekarang. Semua perkataan Caitlyn mempengaruhinya dan membuat dia kembali diselimuti dengan rasa penyesalan.
