"Saya tidak papa."
Jawaban sok tegar yang Raka berikan itu membuat hati Alula terasa sakit. Dia yakin kalau Raka tidak baik-baik saja setelah mendengar perkataan itu. Jauh di dalam hati pria itu pasti dia kembali menyalahkan dirinya dan merasa tidak pantas untuk bersamanya.
Setelah memaksa sang ibu untuk menceritakan kejadian ketika ia pergi ke kamar mandi bersama Kaynara. Akhirnya Alula mendapatkan jawabannya. Jawaban yang entah harus ia sesali atau tidak ketika mendengarnya.
Mengingat kembali Raka yang berusaha bersikap biasa saja dan menutupi semuanya membuat Alula termenung sambil memandangi wajah pria itu.
"Saya tidak papa, Alula. Apa yang Papi kamu katakan kemarin tidak ada yang salah. Saya berusaha untuk mengerti jika sebagai orang tua.. mereka pasti ingin yang terbaik untuk kamu dan dimata mereka saya mungkin jauh dari kata itu," kata Raka sambil tersenyum tipis.
Dia mengusap pipi Alula dengan penuh kelembutan tanpa mengalihkan pandangannya bara satu detik pun.
"Saya berusaha memahami hal itu. Mungkin tidak akan mudah, tapi saya akan buktikan pada orang tua kamu. Meskipun saya bukan yang terbaik, tapi akan saya buktikan pada mereka jika saya pantas." Raka mendekatkan wajahnya dan mencium kening Alula untuk waktu yang cukup lama.
Alula tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu. Dia memberikan pelukan hangat untuk Raka sambil menyandarkan kepalanya di bahu pria itu dengan manja.
Baiklah mungkin dia akan beranggapan sama seperti Raka jika perkataan Papinya adalah suatu hal yang wajar sebagai bentuk kekhawatiran mereka terhadapnya.
Tapi, tetap saja hatinya terasa sakit ketika melihat Raka yang sok tegar di depannya.
"Maaf."
Raka tiba-tiba bergumam pelan. Dia melepaskan pelukannya dan menatap Alula dengan sendu.
"Maaf karena harus dicintai oleh bajingan seperti saya."
Perkataan penuh penyesalan itu membuat Alula menatapnya untuk waktu yang lama. Kini giliran dia yang mengusap pipi pria itu sambil tersenyum manis.
"Kak Raka jangan bilang kayak gitu," pinta Alula.
Gadis itu cemberut sambil menatap Raka yang memandangnya dalam diam. Raka yang mengatakan itu, tapi Alula yang sakit hati ketika mendengarnya.
Dia tidak tau seberapa besar penyesalan Raka tentang semua perbuatannya di masa lalu. Dia juga tidak tau berapa lama Raka bisa berdamai dengan segala penyesalannya.
Dia tidak tau apapun tentang hal itu.
"Maaf..."
"Ihh udah enggak usah minta maaf mending kita ciuman lagi aja," kata Alula yang membuat Raka melotot.
"Alula.."
"Apaaa? Kak Raka duluan tadi yang cium aku katanya kangen. Udahan maaf maafannya kita ciuman lagi aja," kata Alula lagi.
Raka tertawa kecil. Dia menarik pinggang Alula hingga wanita itu semakin mendekat padanya.
Kedua kaki Alula melingkari pinggangnya dan kedua tangan yang melingkari lehernya. Hal itu membuat Raka tertawa sambil menggelengkan kepalanya pelan.
Dia tidak habis pikir dengan tingkah laku Alula. Entah dari mana gadis itu mendapatkan keberanian. Pasalnya bukan satu dua kali dia terus terusan menggodanya dan masih belum kapok meskipun mereka hampir berakhir melakukan itu
"Kamu enggak ada habisnya godain saya, ya. Kayaknya kita enggak bisa terlihat percakapan serius karena selalu berakhir dengan kamu yang godain saya," kata Raka sambil mencapit gemas hidung Alula.
