••••

••••
"Kita cuman mau diem-diem aja? Kak Raka enggak mau bicara sesuatu?"
Setelah lebih dari lima belas menit duduk berdampingan dengan Raka yang hanya diam. Alula akhirnya bersuara hingga membuat pria itu menoleh dan menatapnya dengan sendu.
Sepertinya ada banyak sekali hal yang selama ini Raka pendam sendirian. Alula pun tersenyum lalu meraih tangan Raka untuk dia genggam.
"Kak Raka masih khawatir sama Kaynara?" tanya Alula dengan penuh kelembutan.
Raka tak menjawab. Dia malah mendekat dan memeluk Alula dengan begitu erat. Alula tidak mau menanyakan apapun, dia takut salah berbicara, jadi yang bisa Alula lakukan sekarang hanya membalas pelukan itu. Berusaha memberikan ketenangan melalui pelukan.
Hingga perlahan Raka melepas pelukannya. Raka kembali menatap Alula tanpa mengatakan apapun. Dia bingung, apakah dia harus menceritakan semuanya pada Alula? Apakah Alula masih bisa menerimanya?
"Alula."
"Iya, Kak."
"Apa yang kamu ketahui tentang masa lalu saya?" tanya Raka sambil menatap Alula yang terlihat kebingungan dengan pertanyaannya.
"Saya yang batal menikah atau pernikahan saya yang hanya bertahan sebentar?" Raka malah bertanya lagi tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kak."
Panggilan itu membuat Raka membuang pandangannya. Dia menunduk. Suara nafasnya terdengar berat hingga Alula menatapnya khawatir.
"Setelah hari itu hidup saya berantakan, Alula. Pernikahan saya batal karena kebodohan saya sendiri. Dulu saya benci kehadiran Kaynara, dulu saya pernah meminta Caitlyn untuk menggugurkan kandungannya." Pengakuan itu berhasil membuat Alula terkejut bukan main. Dia tidak bisa mengatakan apapun hingga dia hanya bisa diam.
"Tapi saya bersyukur karena saya tidak benar-benar melakukan itu. Meskipun awalnya saya melakukan itu karena terpaksa, tapi kelahiran Kaynara sudah merubah banyak hal dalam hidup saya. Pernikahan saya dan Caitlyn tidak bertahan lama, hanya satu setengah tahun. Caitlyn selalu mengabaikan Kaynara sejak dia masih bayi bahkan dia selalu menyalahkan Kaynara karena tidak bisa bebas untuk pergi bersama teman-temannya. Padahal dulu dia yang bersikeras untuk mempertahankan anak kami."
"Setelah bercerai, hidup saya hanya untuk Kaynara. Saya menutup hati saya untuk siapapun. Saya selalu menekankan pada diri saya sendiri kalau saya tidak pantas untuk menjadi pasangan hidup seseorang. Terlalu banyak kesalahan dan dosa yang saya lakukan di masa lalu, Alula." Raka menghela nafasnya panjang. Alula dapat melihat jika pria itu kini sedang menahan tangisnya, lagi.
"Apa yang terjadi pada Kaynara hari ini membuat saya begitu ketakutan karena hanya dia yang saya miliki. Hanya dia yang menjadi satu-satunya alasan untuk pria bodoh ini tetap hidup," kata Raka pelan.
