⚠️Typo Berserakan⚠️
🌻Happy Reading 🌻
Jangan lupa di vote ⭐⭐⭐
Setelah makan malam berakhir, para bangsawan masih bertahan di lapangan untuk mendengar pengumuman resmi pemenang festival berburu dan pemberian sertifikat Hutan Morin.
Sorak sorai memenuhi udara saat nama Lilyana Traney disebut sebagai pemenang. Suara tepuk tangan bergema di seluruh aula—walau tidak semua tulus. Sebagian hanya basa-basi, dan sebagian lain menyembunyikan iri di balik senyum elegan mereka.
“Luar biasa,” bisik salah satu Lady, “Putri Grand Duke Alfred ternyata bisa lebih dari sekadar wajah cantik.”
Namun Lilyana tahu pujian sering kali lebih tajam dari belati.
Lilyana menegakkan punggungnya, menahan lelah. “Ayah, apakah aku bisa kembali ke tenda?” tanyanya pelan.
Alfred menatap putrinya cemas. “Kau yakin? Kau tidak apa-apa sendiri?”
Lilyana tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, Ayah. Aku hanya butuh udara segar.”
“Baiklah. Hati-hati, Lily,” jawab Alfred, meski nada suaranya masih berat.
“Selamat malam, Ayah… Tuan-tuan,” ucap Lilyana sopan, sebelum berbalik dan meninggalkan aula yang dipenuhi pandangan penuh selidik.
Di jalan menuju tenda keluarga Traney, suasana mulai lengang. Lampu-lampu minyak berkelap-kelip diterpa angin. Namun langkah Lilyana terhenti ketika tiga perempuan bangsawan mendekat dengan wajah berbinar palsu.
“Selamat malam, Lady Anna,” sapa Samantha dengan suara manis.
“Selamat malam,” balas Lilyana, bibirnya melengkung tipis—ramah, tapi matanya dingin.
“Selamat atas kemenangan Anda, Lady,” sambung Ivanka di sisi kirinya.
“Terima kasih, Lady Ivanka.”
“Lady, apakah Anda mau bergabung bersama kami?” tanya Samantha sambil menoleh ke arah meja di belakangnya, tempat para bangsawan muda berkumpul—pusat gosip kekaisaran.
Lilyana menatap arah itu sejenak. “Baiklah,” jawabnya singkat.
“Lady… apakah Anda sungguh ingin—” bisik Sandra cemas di belakangnya.
“Aku hanya ingin melihat permainan mereka dari dekat,” jawab Lilyana datar.
Begitu duduk, sambutan manis segera datang.
“Selamat atas kemenangan Anda, Lady,” ucap seorang gadis bermata biru laut. Senyumnya lembut, tapi nadanya menusuk halus.
Lilyana mengangkat alis. “Terima kasih, Lady…”
“Elizabeth,” potong gadis itu cepat, senyum kecil di bibirnya. “Elizabeth Vaelor, putri Duke Luciano Vaelor.”
Lilyana tersenyum samar. “Ah, tentu. Putri Duke Vaelor.”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
