⚠️ Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
Happy Reading
---
Pria itu melepaskan pelukannya perlahan, senyumnya miring dan penuh teka-teki.
“Hahahahaha… itulah yang sedang ingin kuberitahu padamu, Cate.”
Lilyana menatapnya tajam, alisnya berkerut.
‘Ada apa dengan pria ini?’
Pria itu tertawa kecil, tapi matanya penuh kejengkelan.
“Aku sudah muak dengan ini semua!”
‘Siapa sebenarnya pria gila ini?!’
Langkahnya semakin mendekat. Udara di antara mereka terasa berat. Lilyana refleks mundur, punggungnya hampir menyentuh meja.
“Cate,” bisiknya rendah, hampir seperti ancaman. “Kau jangan bermain-main denganku. Aku bisa saja meninggalkannya di altar pernikahan. Dan kau tahu… betapa hancurnya dia nanti.”
Lilyana membeku.
‘Aargh… aku benci dengan semua teka-teki ini!’
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, pria itu menunduk dan mengecup keningnya lembut.
Lilyana terkejut. Matanya membulat, tubuhnya menegang.
“Aku tunggu keputusanmu, Cate,” ujarnya pelan, nyaris menggoda.
Seketika Lilyana mendorong pria itu dengan paksa dan menampar pipinya. Suara tamparan itu menggema di ruangan."Apa maksud Anda?! Saat festival, Anda jelas membenci saya! Dan sekarang Anda bertingkah seolah saya kekasih Anda?!”
Pria itu menatapnya, matanya berkilat marah sekaligus getir.
“Apa maksudmu membuka penutup wajah di hadapan banyak orang? Kau ingin memikat hati para tuan muda itu, hah?”
Ia mendekat satu langkah lagi, suaranya meninggi.
“Terutama Flynn—yang terang-terangan memperlihatkan ketertarikannya padamu!”
Lilyana tersenyum sinis.
“Wow… rupanya Anda banyak tahu tentang saya, Yang Mulia.”
Pria itu menggeram pelan. Rahangnya menegang.
“Apakah ada masalah bagimu jika banyak yang tertarik padaku?” Lilyana balik menantang, suaranya lembut tapi menusuk.
“Tentu saja ada!” balas pria itu cepat. “Karena kau adalah kekasihku!”
‘Dasar gila… Lilyana tidak memberitahuku apa-apa tentang ini! Dan sekarang aku terjebak tanpa satu pun petunjuk!’
“Kalau begitu,” ucap Lilyana tajam, “kenapa Anda tetap ingin menikah dengan perempuan lain, Yang Mulia?”
Pria itu tertawa pelan. Suaranya rendah, tapi menimbulkan bulu kuduk berdiri.
“Hahahahaha… bukankah ini semua keinginanmu, mi amore?”
Lilyana menatapnya, napasnya tercekat.
Apakah itu benar?
Ataukah ini hanya permainan licik dari pria gila yang sedang berdiri di depannya?
“Aku akan tetap melanjutkan rencana kita,” bisik pria itu lembut, hampir romantis. “Walau kau lupa ingatan, mi amore.”
Dan begitu saja… ia menghilang.
Lilyana terpaku di tempatnya, dadanya naik turun cepat.
Semua terasa seperti mimpi buruk yang baru saja menampar kesadarannya.
“Apa maksud semua ini?! Dulu aku menulis cerita ini hanya untuk menghilangkan rasa bosanku!” teriak Lilyana frustrasi, suaranya menggema di seluruh ruangan.
Sandra yang berada di luar langsung berlari masuk, wajahnya panik.
“Ada apa, Lady?”
“Aku hanya sedikit pusing…” jawab Lilyana, berusaha menenangkan napasnya.
“Saya akan ambilkan minuman pereda pusing, Lady,” ujar Sandra cepat.
Namun Lilyana tak lagi mendengarnya.
Kepalanya penuh dengan pertanyaan yang terus berputar tanpa henti.
Siapa pria itu?
Dan apa arti mi amore bagi Lilyana yang asli?
🌻🌻🌻
Sudah tiga hari Iris meninggalkan kediaman mereka. Tiga hari yang sunyi dan Lilyana belum bisa menghapus rasa bersalah yang menekan dadanya.
Hari itu ia memberanikan diri masuk ke ruang kerja sang ayah.
“Ayah…” suaranya lembut, nyaris berbisik. “Aku minta maaf… karenaku Ibu pergi.”
Alfred mengangkat wajahnya, tersenyum lemah. "Tidak apa, Lily. Ibumu hanya sedang di istana bersama Daisy. Kau tahu sendiri, Daisy tidak bisa mengurus apa pun tanpa bantuan ibumu.”
Lilyana menunduk, jemarinya meremas ujung rok.
“Ayah… apakah aku boleh tahu siapa ibu kandungku?” tanyanya hati-hati.
Belum sempat Alfred menjawab—tok tok tok.
Ketukan pintu yang tergesa memecah suasana.
Thomas berdiri di ambang pintu, napasnya memburu.
“Maaf, Yang Mulia Grand Duke!” serunya tergesa. “Lady Daisy… tidak sadarkan diri sejak dua jam lalu! Semua tabib istana sudah mencoba, tapi tak satu pun berhasil!”
Lilyana membeku.
‘Tidak… bukan lagi tragedi.’
“Ayah, aku ikut!” seru Lilyana cepat, melihat Alfred langsung berdiri dari kursinya.
“Kau berangkat dengan Gerwyn!” balas Alfred tanpa menoleh, lalu melangkah cepat keluar ruangan.
🌻🌻🌻
Perjalanan menuju istana terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung.
Setelah tiga puluh menit, mereka tiba—tapi suasananya sunyi… aneh… mencekam.
Tak ada pelayan. Tak ada musik.
Hanya udara dingin dan aroma dupa yang samar tercium.
“Kak, di mana semua orang?” tanya Lilyana, langkahnya melambat.
Gerwyn tidak menjawab. Ia hanya menarik tangan Lilyana dan menuntunnya ke aula utama.
Dan di sanalah semuanya berakhir.
Aula itu penuh orang—namun tak satu pun suara terdengar.
Semua menunduk, berdiri mengelilingi sesuatu di tengah ruangan.
Hati Lilyana mencelos. Ia tahu perasaan buruk itu benar.
“Ayah…” panggilnya pelan, suaranya nyaris pecah.
Alfred berdiri di ujung ruangan, tubuhnya bergetar.
Mendengar suara Lilyana, orang-orang membuka jalan untuknya.
Di tengah aula, sebuah peti tergeletak. Iris berlutut di depannya, memeluk peti itu erat, menangis hingga suaranya parau. Sang permaisuri berdiri di sampingnya, berusaha menenangkannya yang histeris.
“Kakak!” teriak Lilyana dan Gerwyn bersamaan, berlari ke arah peti itu.
Namun langkah Lilyana terhenti.
Dunia seakan berhenti berputar.
Di dalam peti itu… terbaring tubuh kaku Daisy, diam… pucat… dan dingin.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Исторические романыBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
