Capture 76 end

3.7K 99 1
                                        




Sudah dua minggu Lilyana tidak kunjung sadar. Seluruh istana seolah menahan napas, berharap keajaiban akan datang. Di ranjang berhias tirai sutra, tubuhnya terbaring pucat dan lemah. Tabib serta pelayan hilir-mudik, sementara Alasdair duduk di sisi tempat tidur, menggenggam tangan istrinya erat-erat.

"Bangunlah, Lily..." bisiknya lirih, hampir tak bersuara.

Di dalam kesadarannya yang gelap, Lilyana berjalan sendirian di lorong panjang tanpa ujung. Kegelapan pekat melingkupinya sampai tiba-tiba cahaya putih menyilaukan muncul di kejauhan. Ia mendengar suara-suara samar, bergema di sekelilingnya.

Suara Alasdair terdengar lirih, bergetar, seolah datang dari kejauhan.
"Jangan pergi, Lily... bertahanlah..."

Lalu suara Gerwyn, parau namun lembut, menyusul:
"Lily... jangan tinggalkan kami..."

Namun perlahan, suara-suara itu memudar, semakin jauh. Cahaya putih itu menarik tubuhnya kuat-kuat hingga semuanya lenyap.

Ketika Lilyana membuka mata, tirai sutra dan langit-langit istana telah menghilang. Yang tampak hanyalah atap putih rumah sakit. Bau obat-obatan menyengat hidungnya. Suara mesin monitor berdetak teratur di samping telinganya.

Tangannya terasa berat. Saat ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, suara beep dari mesin berubah ritmenya. Selang infus menempel di pergelangan tangan, oksigen di hidung, dan tubuhnya kurus seolah baru kembali dari jurang kematian.

Ia menatap tangannya sendiri, pandangannya kabur oleh air mata.
"Aku... kembali? Ini... tubuh asliku..."

Air matanya mengalir deras. Di pantulan kaca jendela, ia melihat sosok berambut hitam kusut dengan wajah pucat dan mata sayu. Tak ada mahkota. Tak ada gaun hitam. Tak ada singgasana besi. Ia bukan lagi Lady Lilyana ia adalah Jasmine.

Namun di dalam hatinya, wajah Alasdair masih jelas: tatapannya, suaranya, genggamannya yang hangat. Jasmine memeluk dirinya sendiri, menahan sesak di dada.

"Alasdair... Gerwyn... Ayah... aku meninggalkan kalian?"

Tangisnya pecah, menggema di kamar yang sunyi. Rasa sakit saat pedang Ludwig menembus tubuhnya masih terasa begitu nyata.

Pintu kamar terbuka. Seorang perawat masuk, menahan napas melihat Jasmine telah sadar.
"Nona Jasmine?! Anda sadar? Saya harus panggil dokter!"

Perawat itu bergegas keluar. Jasmine masih terisak, menatap langit-langit kosong. Namun sebelum dokter datang, layar monitor medis di samping tempat tidurnya tiba-tiba berkedip. Angka-angka hilang, berganti dengan tulisan samar:

"Jangan tinggalkan aku, Lily."

Tubuh Jasmine membeku. Suara dalam hatinya bergetar—itu suara Alasdair.
Tangannya gemetar, air matanya jatuh sambil tersenyum getir.
"Jadi... kau juga masih mencariku... meski aku sudah di sini..."

Lampu ruangan berkelip sesaat, seperti dua dunia yang masih berusaha saling menjangkau.

Malam itu, rumah sakit sunyi. Jasmine tak bisa tidur. Ia menatap bulan purnama yang bulat sempurna di luar jendela sama seperti malam terakhir di istana. Tiba-tiba, monitor di samping tempat tidurnya kembali berkedip. Tulisan baru muncul:

"Jangan menyerah... aku masih menunggumu."

Air matanya kembali mengalir.
"Alasdair... itu kau?" bisiknya lirih.

Lampu bergetar sebelum kembali normal.
Tak lama kemudian, suara lembut ibunya memecah keheningan.
"Jasmine sayang, kau ingin makan apa?"

Jasmine menatap ibunya dengan senyum lemah yang menyimpan duka. Setelah ibunya pergi, ia bertanya pada dokter apakah pasien koma bisa mengalami halusinasi yang terasa nyata. Dokter hanya tersenyum bijak.
"Itu mungkin efek trauma. Mimpi panjang, tidak lebih."

Namun Jasmine tahu itu bukan mimpi. Luka pedang yang menusuk tubuh Lilyana masih terasa nyeri, meski tak ada bekas di tubuhnya. Sejak hari itu, ia mulai mencatat semua mimpi dan pesan yang muncul dari monitor medis ke dalam buku kecil di meja samping ranjang.

Suatu malam, ia terbangun karena bisikan di telinganya.
"Iris diasingkan... Ludwig telah mati ... tapi kekaisaran masih butuhmu..."

Jasmine terlonjak, matanya membesar. Suara itu nyata. Itu bukan ciptaan pikirannya.
"Kalau begitu... aku belum benar-benar meninggalkan mereka," bisiknya pelan. "Tapi... bagaimana caranya kembali?"

Saat pikirannya masih berkecamuk, pintu kamar terbuka. Seorang pria berjas gelap berdiri di ambang pintu. Wajahnya tak asing, meski Jasmine tak pernah melihatnya sebelumnya di dunia nyata.
Pria itu tersenyum tipis.

"Tuan Putri ... akhirnya kau bangun."

Beberapa bulan berlalu. Setelah masa pemulihan selesai, Jasmine mencoba kembali menjalani kehidupan normal. Namun rasa hampa terus menghantuinya. Suatu malam, saat ia membereskan kamarnya yang lama tak disentuh sejak kecelakaan, tangannya berhenti di laci meja kerja.

Di sana, tergeletak sebuah buku yang dipinggirnya bergambar  bunga lily.
Buku itu berkilau samar di bawah cahaya lampu.

Jantung Jasmine berdegup keras.
"Tidak mungkin..."

Itu buku yang terakhir kali ia genggam malam sebelum kecelakaan saat ia berkunjung ke cafe milik sahabatnya, sebelum tubuhnya di tabrak oleh mobil di deopan cafe milik Nayra. Ia yakin buku itu telah terbakar. Namun kini, buku itu ada di hadapannya, utuh dan dingin.

Tangannya gemetar saat menyentuhnya. Semua terasa sama: aroma tinta, tepi halamannya, bahkan lipatan kecil di sudut terakhir yang ia buat sendiri.

Dengan napas tertahan, Jasmine membuka halaman pertama dan tubuhnya membeku.
Tulisan di dalamnya persis seperti kisah yang ia alami sebagai Lilyana.
Namun di halaman terakhir, ada tambahan yang tidak pernah ia tulis.

Tinta di sana masih basah.
Tulisan itu berbunyi:

"Selamat kembali, Jasmine. Dunia kami belum selesai. Saat kau tersadar, buku ini akan selalu menemukanmu."

Buku itu terjatuh dari tangannya.
Jasmine menatapnya dengan mata membesar, tubuhnya gemetar hebat.
Ia tahu pastibu ku itu seharusnya lenyap bersama masa lalunya.
Namun kini, ia sadar...

Dunia itu masih memanggilnya.

Buku bersampul hitam itu tergeletak di lantai, terbuka pada halaman terakhir. Cahaya redup dari lampu kamar membuat tinta basah di atasnya berkilau aneh seolah hidup. Jasmine menatapnya lama, napasnya tersengal. Setiap huruf seperti berdenyut, memancarkan aura yang sama seperti cahaya putih yang dulu menelannya ke dunia lain.

Ia meraih buku itu perlahan, jari-jarinya gemetar.
"Selamat kembali, Jasmine..." gumamnya pelan, mengulang tulisan di halaman terakhir.
"Dunia kami belum selesai..."

Angin tiba-tiba berembus dari arah jendela yang tertutup rapat. Tirai bergetar. Lampu di langit-langit berkedip beberapa kali. Detak jam di dinding berhenti. Segalanya membeku.

Lalu dari tengah halaman, tinta hitam mulai mengalir, membentuk pusaran. Tulisan-tulisan di dalam buku bergerak huruf demi huruf lepas dari kertas, melayang di udara, menyatu menjadi cahaya keperakan yang berputar semakin cepat.

"Tidak... ini tidak mungkin..." Jasmine melangkah mundur, tapi pusaran cahaya itu menelan sebagian ruangan. Buku bergetar di tangannya, hangat, lalu membara.

Dalam cahaya yang semakin terang, suara bergemadalam, bergetar, seperti datang dari dasar hatinya sendiri:
"Lady Lilyana... waktumu belum berakhir."

Tubuh Jasmine terpaku. Air matanya mengalir tanpa ia sadari.
"Alasdair?" panggilnya nyaris tak bersuara.

Cahaya itu menjawab dengan gemuruh lembut.
"Istana terbakar... tahta kosong... dan hanya kau yang bisa memulihkannya."

Seketika, udara di sekitarnya bergetar. Benda-benda di kamar berjatuhan foto, bingkai, pena. Jasmin berusaha menutup buku, namun tak bisa. Halamannya berputar cepat, menampilkan kilasan dunia lain: menara runtuh, bendera kerajaan robek, dan bayangan seseorang berdiri di reruntuhan istana dengan mata penuh dendam.

VERNEK

Jasmine menatap ngeri.
"Tidak... aku sudah meninggalkan semua itu..."

Namun cahaya tak berhenti.
"Kau bisa memilih, Jasmine,"  bisik suara itu lagi.

"Lupakan kami, dan dunia itu akan musnah. Atau kembali dan selamatkan segalanya."**

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang