⚠️Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
Jangan lupa komen
Lilyana memperhatikan tamu-tamu yang menikmati pesta dalam balai megah istana Troy. Lampu-lampu gantung berpendar, gelas- gelas beradu pelan, dan tawa-tawa palsu mengisi ruang namun di balik gemerlap itu, Lilyana merasakan sesuatu yang salah. Ia bangga: telah membuat raja licik itu menuruti sedikit kehendaknya. Namun ketegasan Troy hanyalah sebuah kemunafikan; ia belum sepenuhnya percaya pada pria itu. Ada naluri yang berbisik: Troy belum benar-benar menyerah. Ia pasti merencanakan sesuatu.
Gerak-gerik para pelayan menarik perhatian Lilyana.Sebelum tiba di perbatasan ia sudah mendapat informasi dari Jane bahwa seorang bangsawan miskin dengan kekayaan kurang dari seratus koin emas, tiba-tiba menjadi perantara untuk sebuah pesanan racun senilai seribu lima ratus koin emas. Hal itu membuat rambut di belakang leher Lilyana berdiri. Siapa yang akan membayar harga setinggi itu? Dan untuk apa racun semahal itu dipesan melalui perantara murahan?
Di tengah pesta, Raja Troy sibuk memegahkan kekayaannya, menceritakan petualangan dan kekuasaan seolah-olah ia tak pernah takut. Alasdair berdiri di sampingnya tampak seperti pemenang perundingan, menerima pujian dan hormat yang mengalir. Troy berbicara panjang lebar tentang kebesaran negerinya, tentang para bangsawan yang patuh, tentang tambang berlian sebagai mahkota kemegahan dirinya.
Sejenak, Troy menghentikan ucapannya dan memberi Lilyana sebuah gelas berisi anggur.
“Silakan diminum, Yang Mulia Putri Mahkota,” katanya dengan senyum manis seperti racun.
“Terima kasih, Yang Mulia,” jawab Lilyana, menerima gelas itu sambil menahan napas. Ia memalingkan gelas ke hidungnya untuk mencium aroma gerak yang tampak sopan, tetapi juga waspada. Sekilas, aroma bunga terpancar: harum manis, memabukkan. Lilyana mengenal wewangian itu. Hemlock. Racun yang tak bertahap, tak lagi selalu pahit; Hemlock bisa terasa manis, menipu indera sebelum menutup pintu kehidupan.
Alasdair memperhatikan gerak-gerik istrinya. Ia tahu kebiasaan Lilyana bukan orang yang akan mencium minuman tanpa alasan. Ketika gelas itu hampir menyentuh bibirnya, Alasdair menyalonkan tangannya dan mengambil gelas itu dari pundak Lilyana.
Ia mengangkat gelas, mengendusnya lebih lama daripada seorang penikmat anggur pada umumnya. Wajahnya tak berubah, tetapi matanya mengerut.
“Apa kau tahu, Troy,” ucap Alasdair, suaranya dingin seperti baja, “istriku tak kuat minum. Hanya satu teguk saja, dan ia akan mabuk. Bolehkah aku menggantikannya?”
Troy menelan ludah. Senyum yang tadi merekah perlahan mengendur.
“Aaah… tidak usah, Yang Mulia. Anggur ini kadar alkoholnya sangat tinggi,” jawab Troy tergagap, suaranya mencoba menghibur, namun matanya mengisyaratkan ketakutan. Jika sesuatu sampai terjadi pada Alasdair di istananya, hukuman kaisar akan datang seperti badai.
Alasdair meletakkan gelas itu kembali di atas nampan. Ia menatap Troy lama, lalu melancarkan satu peringatan keras namun berlapis: bukan hanya dirinya yang bisa menumpahkan darah, tetapi keluarga dan sekutu Troy juga berada di bawah bayang-bayang amarah kekaisaran.
“Kau harus tahu posisimu, Troy,” ujar Alasdair, tiap katanya dingin. “Kau hanyalah mayat hidup yang dikerumuni lalat. Ketika tambangmu habis, para pelayan yang kini merayumu akan meninggalkanmu. Jangan pernah lupa: jika kau berani bermain-main dengan istriku, bukan hanya aku yang akan menghitung nyawamu. Ingat ia adalah putri kesayangan Grand Duke of Valkyria, adik panglima jenderal Gerwyn Matteo Ternay—dan kekejamannya melebihi apa yang bisa kubayangkan.”
Troy tersungkur di kursinya oleh bayangan ancaman itu. Ia mengangguk cepat, tak sanggup lagi bersikap congkak.
“Maafkan aku, Yang Mulia. Aku tidak akan mengulanginya,” desahnya, suaranya getir.
Alasdair menutup pembicaraan dengan menaruh gelas itu; nada kebijaksanaan dan amaran bersatu. Kemudian ia dan Lilyana beranjak pergi, meninggalkan Troy dalam kebingungan, menyisakan tawa renggang di antara tamu-tamu yang masih menari.
“Sebaiknya aku menuju kamar dulu, Airy. Kau boleh tinggal di aula. Mustahil kita berdua pergi bersamaan terlalu mencolok,” kata Lilyana lembut ketika mereka keluar dari ruangan.
“Apa kau yakin bisa menjaga dirimu sendiri?” tanya Alasdair, suaranya lembut namun menyimpan kekhawatiran yang nyata. Ia tidak ingin berpisah dengan istrinya, tetapi perlu memberi Troy pelajaran tentang batas kekuasaan.
“Kau pergilah. Aku bisa menjaga diriku sendiri,” jawab Lilyana mantap.
Alasdair mendekat. Di bawah cahaya lentera, ia menempelkan ciuman singkat di kening Lilyana — bukan sekadar isyarat sayang, tetapi janji yang menunggu untuk ditepati. Lalu ia meninggalkannya menuju aula, kembali ke peran yang mesti dimainkan.
Lilyana membuka pintu kamar yang disediakan untuk mereka. Tubuhnya lelah; perjalanan panjang dari ibu kota hingga perbatasan terasa menuntut setiap serat tenaganya. Ia hampir terjatuh ke atas ranjang ketika suara yang tak terduga memecah keheningan kamar.
“Apa maksudmu, Cate? Kenapa kau menghancurkan rencana yang kita susun? Bukankah itu idemu — membuat boneka-boneka di barisan belakang untuk mengelabui Alasdair?” suara itu memekik, dingin dan penuh amarah.
Lilyana berbalik. Di ambang pintu berdiri sosok bertopeng, bayangan yang menutup hampir seluruh wajahnya. Mata di balik topeng itu menyala dengan kebencian.
“Kali ini aku tidak memaafkanmu, Cate. Aku akan memastikan rencana kita berhasil—atau aku akan menyingkirkanmu!” ancam suara itu, bibirnya meliuk menampakkan deretan gigi putih.
“Siapa kau? Kenapa kau membenci Airy begitu dalam?” tanya Lilyana, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia tidak mengenal pria ini, tetapi kebencian yang terpancar membuatnya takut sekaligus penasaran.
“Jangan sebut nama lelaki sialan itu di depanku,” jawab pria bertopeng, nadanya penuh dendam. “Seandainya ingatanmu kembali, kau pasti akan membencinya. Seharusnya kau tahu itu.”
Lilyana membalas dengan amaran yang tak kalah dingin: “Aku memperingatkanmu, Cate.”
Topeng itu bergetar seolah menahan tawa yang pahit. Di luar, suara pesta masih bergulir; tetapi di dalam kamar kecil itu, benang halus konspirasi merenggang dan bahaya yang baru saja mengendus, kini menghadap mata Lilyana langsung
To be continued.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Narrativa StoricaBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
