⚠️Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
Detik terasa panjang. Kaisar berdiri dari singgasananya — wajahnya tegang, matanya menyala penuh murka. Tongkat emas di tangannya menghentak lantai hingga suara dentumannya memantul ke setiap sudut balairung.
“Raline. Iris.”
Suaranya berat, seperti palu pengadilan.
“Kalian tidak hanya melukai darah daging sendiri. Kalian telah meracuni istana ini dengan ambisi buta. Kalian pikir kalian bisa mengatur garis keturunanku? Kalian pikir kalian lebih tinggi dari hukum Kekaisaran?”
Semua bangsawan menunduk ketakutan.
Permaisuri Raline berusaha tetap tegak. Suaranya lantang, meski tubuhnya bergetar.
“Aku hanya ingin melindungi tahta, Yang Mulia—”
“Diam!”
Bentakan Kaisar mengguncang ruangan. Raline tersentak, langkahnya goyah.
“Melindungi tahta? Atau melindungi ambisimu sendiri?”
Tatapannya lalu beralih pada Iris, yang kini berlutut, wajahnya banjir air mata.
“Aku... aku hanya ingin keluarga Ternay aman dari bangsawan yang ingin menghancurkan kami... aku hanya ingin yang terbaik untuk keluarga kami…”
Kaisar mengangkat tangannya, menghentikan semua suara.
“Cukup. Dosa kalian sudah jelas. Kalian merencanakan pembunuhan terhadap keluarga kekaisaran sendiri. Itu adalah pengkhianatan tertinggi.”
Balairung menjadi hening. Semua menahan napas, menunggu vonis turun.
Kaisar mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, lalu menghantam lantai dengan dentuman keras yang memekakkan telinga.
“Mulai hari ini, Permaisuri Raline dilucuti dari segala gelarnya. Kau bukan lagi permaisuri. Kau akan dikurung di Menara Selatan tanpa hak bicara dalam urusan istana — hingga ajal menjemputmu.”
Raline terbelalak. “Yang Mulia tidak! Aku permaisurimu! Aku mendampingimu selama puluhan tahun!”
Namun Kaisar tak menoleh. Sorot matanya dingin seperti baja.
“Dan sekarang, kau hanyalah tahanan Kekaisaran.”
Bisikan ketakutan bergulir di antara para bangsawan. Ada yang terkejut, ada pula yang diam-diam lega.
Kaisar menatap Iris.
“Dan kau, Iris. Atas kejahatanmu terhadap putri kandungmu sendiri, atas pengkhianatanmu terhadap darah kekaisaran… kau dibuang. Malam ini juga, kau akan dikawal ke kuil terpencil di Utara. Kau tidak akan pernah kembali.”
Iris menjerit, berusaha merangkak mendekati Kaisar.
“Yang Mulia, ampun… aku mohon…!”
Tapi para prajurit sudah menyeretnya keluar. Jeritannya menggema di sepanjang lorong balairung, namun Kaisar tak bergeming.
Hening panjang menyelimuti ruangan.
Kaisar berdiri tegak, menatap semua bangsawan.
“Biarlah ini menjadi peringatan. Istana ini bukan tempat untuk ambisi pribadi. Siapa pun yang berkhianat — akan dihancurkan. Bahkan jika itu darah daging sendiri.”
Di sisi ruangan, Lilyana berdiri di samping Alasdair. Wajahnya tenang, tapi dalam hatinya ia tahu satu hal:
musuh-musuh lama telah tumbang — namun badai politik baru akan segera bangkit.
🌻🌻🌻
Kabar tentang kejatuhan Permaisuri Raline dan pembuangan Iris menyebar seperti api. Istana bergolak. Ada yang ketakutan, ada pula yang mulai mencari pelindung baru.
Di ruang pribadinya, Ludwig menatap peta istana yang terbentang di atas meja. Jemarinya mengetuk perlahan, penuh perhitungan.
“Permaisuri tumbang. Iris dibuang. Itu artinya… ruang kosong kekuasaan terbuka.”
Ia mencoret nama-nama bangsawan yang dulu setia pada Raline, lalu menandainya dengan tinta merah.
“Mereka butuh pelindung baru. Dan siapa yang lebih layak dari Grand Duke Ludwig — pangeran yang bersih dari tuduhan, yang berani membongkar kegelapan pasar gelap?”
Senyum licin merekah di bibirnya.
“Lilyana mungkin menang hari ini. Tapi besok… setiap bangsawan yang gentar padanya akan berlari padaku. Dan dengan mereka di sisiku, aku bisa menjatuhkannya tanpa harus mengotori tanganku.”
🌻🌻🌻
Di kamarnya, Lilyana duduk bersama Alasdair. Api lilin menari di matanya, memantulkan kilau dingin.
“Raline dan Iris sudah jatuh,” ucapnya pelan. “Tapi itu belum cukup. Ludwig tidak akan tinggal diam. Ia akan meraup semua bangsawan yang kehilangan tempat berpijak.”
Alasdair mengepalkan tangan. “Kalau begitu, kita harus mendahuluinya. Kita perkuat dukungan.”
Namun Lilyana tersenyum samar.
“Tidak… biarkan dia bergerak. Biarkan ia merasa menang. Dan saat ia sudah menjerat dirinya sendiri dengan para bangsawan… saat itulah kita patahkan semuanya sekaligus. Sekali tebas, tanpa sisa.”
Ia menatap Antoni, panglima bayangan yang baru saja kembali dari pasar gelap.
“Sebarkan desas-desus bahwa Ludwig hanyalah boneka yang dulu dipakai Permaisuri dan Iris. Biarkan ia tampak sebagai pewaris racun mereka. Saat keraguan tumbuh — aku yang akan menuai.”
Antoni menunduk dalam-dalam.
“Perintahmu adalah bayangan kami, Yang Mulia.”
🌻🌻🌻
Beberapa hari kemudian, di jamuan anggur para bangsawan, nama Ludwig kembali dibicarakan.
Duke Rhenald menunduk dan berbisik pada Countess Elvira.
“Katanya, Ludwig bukan benar-benar yang membongkar pasar gelap itu. Ia hanya melanjutkan permainan Permaisuri Raline dan Grand Duchess Iris.”
Elvira terkejut. “Kau yakin? Bukankah ia sendiri yang berdiri di balairung menuduh Lady Lilyana?”
Rhenald menyesap anggurnya perlahan.
“Dari mana ia tahu semua rahasia itu? Hanya Permaisuri dan Grand Duchess yang punya akses. Mungkin… Ludwig hanyalah boneka terakhir mereka.”
Bisikan itu menjalar cepat, seperti api menyambar jerami kering.
Pintu terbuka. Ludwig masuk dengan jubah hitam kebesarannya. Semua menunduk hormat, namun ada jeda jeda yang membuat udara terasa dingin.
Ia merasakan jeda itu. Senyumnya hampir retak, tapi ia tetap melangkah ke meja utama.
“Saudaraku dan sahabatku,” ucapnya lantang, “hari ini kita menulis halaman baru sejarah Kekaisaran. Dengan Permaisuri tumbang, mari kita bersatu demi kejayaan Quurenesia!”
Namun tatapan yang menyambutnya tak lagi hangat.
Countess Elvira bertanya halus tapi tajam, “Yang Mulia Grand Duke… ada yang berbisik bahwa semua langkah Anda hanyalah warisan dari Permaisuri. Bahwa Anda sekadar meneruskan rencana mereka. Apakah itu benar?”
Ruangan menjadi hening. Semua mata menatap Ludwig.
Ia menarik napas panjang lalu tersenyum tipis.
“Fitnah belaka. Jika aku hanya boneka, aku takkan berani menentang Permaisuri di hadapan Kaisar, bukan?”
Beberapa bangsawan mengangguk pelan, tapi banyak yang tetap ragu.
Di sudut ruangan, seorang pelayan agen bayangan Lilyana berbisik ke telinga seorang baron “Katanya, segel yang digunakan Ludwig untuk membuka gudang pasar gelap dulu milik Grand Duchess Iris. Bagaimana mungkin ia memilikinya tanpa warisan dari mereka?”
Bisikan itu kembali menyebar. Kali ini lebih cepat, lebih tajam.
Ludwig menatap sekeliling. Ia bisa merasakan kepercayaan yang dulu kukuh kini mulai retak.
Senyumnya tetap terjaga, tapi jari-jarinya mengepal di balik meja.
“Tenanglah,” katanya akhirnya. “Aku akan buktikan dengan tindakanku bukan dengan kata-kata.”
Namun ketika ia meninggalkan ruangan, tatapan para bangsawan yang mengikutinya bukanlah kagum...
melainkan penuh curiga.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Ficción históricaBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
