Balairung itu bergemuruh oleh bisikan dan tuduhan. Ludwig berdiri tegak, penuh percaya diri. Daysi tersenyum licin di balik kipas ungu tuanya, sementara Lilyana berdiri anggun dengan tatapan tenang — meski seluruh tuduhan diarahkan padanya.
Kaisar tampak muram, sementara Alasdair, sang Putra Mahkota, sudah hampir meledak oleh amarah.
Tiba-tiba, suara berat dan penuh wibawa menggema menembus hiruk-pikuk itu.
“Cukup!”
Semua mata berbalik. Grand Duke Alferd Ternay berdiri dari kursinya. Mantel bulu hitamnya menjuntai hingga menyentuh lantai marmer. Tongkat kayu hitam berukir naga menghantam lantai, memantulkan gema yang membuat setiap orang terdiam.
Sorot matanya tajam, penuh kuasa seorang bangsawan senior yang dihormati.
“Sebagai ayah dari Putri Lilyana dan Lady Daysi,” suaranya menggema lantang, “aku tidak bisa diam melihat anakku dipermalukan di hadapan istana — dengan tuduhan yang lebih mirip intrik politik daripada kebenaran.”
Balairung seketika hening.
Alferd menatap Ludwig dengan dingin.
“Grand Duke of Black, kau datang membawa bukti? Topeng dan catatan lusuh? Barang-barang itu bisa ditanam siapa saja. Kau pikir kekaisaran akan runtuh hanya karena kotak kayu berisi benda usang yang kau bawa?”
Ia melangkah maju, jubahnya berdesir lembut tapi menggetarkan.
“Dan kau, Daysi…” suaranya merendah, namun setiap katanya menggigit. “Putriku yang manis. Lidahmu lebih tajam dari pedang. Kau berani mengadu domba adikmu sendiri dengan dalih melindungi kehormatan keluarga? Padahal jelas, kau hanya ingin mencabik nama Lily agar singgasana tampak lebih dekat padamu.”
Nada suaranya makin dalam.
“Sedari kecil, kau memaksa Lily menutupi wajahnya dengan kain — karena kau tahu, bahkan saat itu, dia lebih cantik darimu.”
Daysi tersenyum kaku. Kipas di tangannya bergetar halus.
“Ayah, aku hanya—”
“Diam!” bentak Alferd. “Aku mengenalmu sejak kau lahir. Kau hidup dari iri hati terhadap adikmu, dan kini kau menyalakan api di balairung Kaisar. Jangan kira aku buta terhadap niatmu!”
Bisikan para bangsawan makin ramai ada yang mulai meragukan Daysi, ada yang justru menunduk hormat pada Alferd.
Alferd menoleh pada Kaisar, membungkuk dengan elegan namun penuh wibawa.
“Yang Mulia Kaisar… tuduhan ini berbahaya, benar. Tapi jika kita gegabah mempercayainya tanpa bukti yang tak terbantahkan, maka kita bukan hanya menghancurkan kehormatan Putri Lilyana, tapi juga merusak martabat Putra Mahkota Alasdair pewaris tahta yang Anda pilih sendiri.”
Ia mendongak, menatap langsung ke mata Kaisar.
“Jika ada penyelidikan, biarlah dilakukan dengan terhormat. Bukan dengan teriakan, intrik, dan bukti murahan yang bisa dipalsukan. Jangan biarkan istana dipermainkan oleh ambisi.”
Kaisar terdiam, menatap satu per satu, Ludwig, Daysi, lalu Lilyana yang berdiri tenang di tengah badai tuduhan.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Fiksi SejarahBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
