Typo Berserakan ⚠️
Jangan lupa Vote
🌻Happy Reading 🌻
Jangan lupa komen
Kereta-kereta berhias lambang keluarga bangsawan meluncur perlahan menyusuri jalan menuju Terraverda, kota hijau yang terletak di timur Kekaisaran **Queenrensia**, wilayah kekuasaan **Grand Duke of Black**. Angin membawa aroma tanah lembap dan bunga liar, sementara rombongan para lady muda tampak berbincang riang di balik jendela kaca kereta masing-masing.
Perjalanan kali ini bukan sekadar rekreasi.Mereka semua tengah menuju acara amal kerajaan bagian dari tradisi penting sebelum debut sosial mereka.
Para lady debutante akan mengajar di sekolah rakyat, mengunjungi desa-desa tertinggal, dan berpartisipasi dalam kegiatan amal. Bagi bangsawan muda, ini bukan sekadar ujian kecantikan dan sopan santun, melainkan ujian hati dan kepedulian.
Lilyana mengingat jelas, bertahun-tahun lalu ia juga mengikuti kegiatan serupadan kala itu, Natasha keluar sebagai pemenang.
Sebelum dikenal sebagai penyihir Queenrensia, Natasha adalah lady yang paling diidamkan seluruh bangsawan: cantik, lembut, sopan, dan terlahir dari keluarga ningrat dengan harta melimpah. Mahar yang ditawarkan jika ia menikah bahkan konon berupa ladang luas dan tambang berlian.
Namun semua citra sempurna itu lenyap setelah satu hal—ia jatuh cinta pada Ludwig, sang Grand Duke of Black.
Sejak itu Natasha berubah.
Ia menjadi sosok yang menakutkan, seorang wanita yang tak segan menghina dan menyakiti siapa pun yang berani mendekati pria itu.
Dan kini, ia kembali ke kota di mana segalanya berawal.
---
“Sebenarnya aku tidak ingin menginjakkan kaki ke kota itu lagi, Lily,” ujar Natasha untuk kesekian kalinya, matanya menatap jauh ke luar jendela. “Aku tidak ingin bertemu dengan Ludwig sialan itu.”
Lilyana terkekeh pelan. “Bukankah dulu kau sangat tergila-gila padanya?”
Natasha memutar bola matanya dengan malas. “Bukankah kau yang menunjukkannya padaku saat acara debut kita dulu? Kalau saja aku tak mendengarkan ucapanmu bahwa dia terlihat seperti pria yang baik aku tak akan menerima lamarannya! Aku tak akan jadi seperti ini!”
Lilyana mengangkat alisnya. “Jadi kau menyalahkanku?”
Natasha menggeleng pelan, lalu tersenyum getir.
“Tidak. Aku akui, Ludwig memang menawan... bahkan mungkin lebih menawan daripada suamimu itu.”
Lilyana menatapnya, pura-pura tersinggung. “Tidak. Suamiku jauh lebih menawan daripada mantan tunanganmu itu.”
Natasha tertawa keras, lepas dan getir. “Hahaha! Setidaknya pangeran mahkota tidak sebajingan Ludwig walaupun mereka kakak beradik.” Ia mengalihkan pandangan, suaranya menurun lirih. “Kau beruntung, Lily. Dicintai pria sesempurna Pangeran Mahkota.”
Lilyana menghela napas panjang.
Tak ada yang tahu sifat asli bajingan itu, pikirnya. Semua orang menganggap Alasdair sempurna pangeran mahkota yang bijak dan mempesona. Hanya Lilyana yang tahu, di balik senyum lembutnya tersimpan kegelapan yang bahkan ia sendiri tak berani sentuh.
“Coba kau lihat itu,” ujar Natasha sambil melongok ke luar. “Pangeran Mahkota ikut mengawal kereta yang kau tumpangi. Lihat, betapa besar cintanya padamu!”
“Hahaha... tentu saja. Siapa yang tidak terpikat oleh kecantikanku?” jawab Lilyana ringan, menutupi pikirannya yang bergejolak.
Ia harus tetap bersikap manis pada Natasha. Gadis itu adalah salah satu kunci dari rencana besar Lilyana.
Natasha adalah kelemahan pria bertopeng itu dan selama Natasha berdiri di pihaknya, Lilyana yakin tak seorang pun akan berani melawannya.
“Aku iri padamu, Lily,” ucap Natasha tiba-tiba. “Kau punya segalanya.
Paman Alferd yang menyayangimu tanpa syarat, Kak Gerwyn yang selalu membelamu, bahkan Bibi Iris yang benar-benar peduli padamu…”
Suaranya perlahan meredup, seperti nyala lilin yang hampir padam.
“Sedangkan aku… aku hanya alat bagi keluargaku. Sejak kecil aku harus menjadi sempurna. Saat aku bertunangan dengan si bajingan Ludwig, mereka memperlakukanku seperti dewi. Tapi ketika ia mencampakkanku… mereka kembali menyiksaku.”
Lilyana menatap sahabatnya itu dengan iba, tapi ia tak bisa berbuat banyak. Dalam pikirannya terlintas satu kalimat yang getir.
“Setiap orang adalah antagonis dalam cerita orang lain, dan protagonis dalam kisahnya sendiri.”
Bukankah ada aku?” kata Lilyana lembut. “Kau akan baik-baik saja, Natasha.”
Natasha tersenyum, menahan air mata yang hampir jatuh. Ia memeluk Lilyana erat. “Aku bersyukur kau ada di hidupku. Kau satu-satunya yang tak pernah meninggalkanku.”
Lilyana tersenyum kecil, memeluk balik.“Sudahlah,” ujarnya ringan. “Aku sedang tidak ingin menangis. Kita harus bersenang-senang di sini!”
-m🌻🌻🌻
Sesampainya di Terraverda, para ladydi sambut megah di kastil tua peninggalan Grand Duke.
Mereka mendapat kamar yang telah diatur oleh permaisuri sendiri dua orang sekamar, hanya ditemani satu pelayan, tanpa kesatria, tanpa perhiasan berlebih.
Kegiatan ini dimaksudkan untuk menguji ketulusan, bukan kemewahan.
Selain Lilyana dan Natasha, Permaisuri juga ikut serta dan menjadi juri utama.
Lilyana serta Natasha hadir sebagai juri tambahan Lilyana karena statusnya sebagai Putri Mahkota, dan Natasha karena ia adalah pemenang tahun sebelumnya.
Menang dalam acara ini bukan hal sepele.
Selain gelar kehormatan Lady of the Year, pemenangnya seringkali dilirik oleh keluarga kerajaan bahkan bisa menjadi tunangan pangeran, atau selir kaisar. Sebuah kehormatan yang mampu mengangkat seluruh keluarga ke puncak kejayaan.
🌻🌻🌻
Sore itu, saat Lilyana berjalan santai di taman untuk mencari udara segar, ia tanpa sengaja mendengar percakapan dua lady muda yang duduk di bangku batu.
Suara mereka terdengar jelas dalam ketenangan taman.
“Kau tahu, Sofia?” suara yang satu terdengar tajam dan penuh ambisi. “Aku yang akan menjadi pemenang debutantevkali ini. Aku akan menyingkirkan Putri Lilyana dari posisinya dan merebut perhatian Pangeran Mahkota, apa pun yang terjadi.”
Lilyana terhenti. Bibirnya membentuk senyum tipis.
Natasha, yang berjalan di sampingnya, hampir saja melangkah maju dengan marah.
“Apa kau tidak akan melakukan apa pun, Lily?” bisiknya geram. “Aku sangat ingin mencambuk dua perempuan tak tahu malu itu!”
Lilyana terkekeh lembut. “Aku rasa, aku tak perlu membuang tenagaku untuk dua lalat yang berisik itu. Tapi… aku penasaran dengan rencana mereka.”
Mereka berdua bersembunyi di balik semak mawar, mendengarkan.
“Apa kau sudah punya rencana, Charlotte?” tanya Sofia dengan nada cemas.
“Bukankah kakakmu, Lady Elizabeth, gagal mengalahkan Putri Lily dulu? Reputasi keluarga Duke Luciana bahkan hancur! Aku tidak yakin kau bisa memenangkan kompetisi ini.”
Charlotte tersenyum penuh percaya diri, dagunya terangkat tinggi.
“Jika aku menang, aku akan otomatis berada di bawah bimbingan Permaisuri. Dan saat itulah aku akan menghasut beliau untuk memaksa Pangeran Mahkota menikah denganku. Apalagi sekarang Putri Lilyana belum juga hamil!”
Nada puas dalam suaranya membuat Natasha mengepalkan tangan.
Sementara Lilyana tetap diam senyumnya dingin, seperti permukaan es.
“Dan jika aku berhasil mengandung anak Pangeran Mahkota,” lanjut Charlotte, “aku akan menyingkirkan gadis manja itu untuk selamanya.”
Angin berhembus pelan, menggoyang daun-daun mawar di sekitar mereka.
Natasha menatap Lilyana dengan mata berkilat, menunggu reaksi.
Namun Lilyana hanya berkata lirih, dengan nada yang bahkan lebih dingin dari sebelumnya:
" Kalau begitu… permainan baru saja dimulai.”
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Historical FictionBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
