Malam menggantung kelam di langit Quuenrensia. Paviliun barat, tempat hukuman para bangsawan jatuh dari rahmat, sunyi dan lembap. Hanya suara rantai dan angin yang berdesir di sela-sela jendela besi.
Daysi duduk di lantai batu yang dingin, mengenakan gaun lusuh berwarna abu-abu yang dulunya milik pelayan istana. Rambutnya terurai berantakan, wajahnya pucat namun matanya masih menyala api yang belum padam. Ia menatap ke luar jeruji, bibirnya bergetar menahan tawa getir.
"Jadi begini rasanya jadi pengkhianat?" bisiknya pelan. "Lucu... karena semua dari mereka juga sama busuknya."
Langkah kaki terdengar di luar. Dua penjaga sedang berjaga di depan pintu, berbicara pelan sambil meneguk anggur murah yang mereka bawa sembunyi-sembunyi. Salah satu tertawa, suara tawanya menggema menembus dinding batu.
"Kasihan Lady Daysi," ucap salah satunya. "Dulu cantik, sekarang seperti tikus."
Tawa kecil menyusul.
Daysi memejamkan mata, menahan amarah. Tapi sebelum kata-kata keluar, suara lembut muncul dari kegelapan di luar jeruji.
"Tidak pantas mempermainkan seorang wanita, bahkan jika ia telah kehilangan segalanya."
Kedua penjaga langsung menoleh. Dari bayangan, seseorang melangkah keluar tinggi, berjubah hitam, dengan mata kelabu yang berkilat di bawah cahaya lentera.
"Siapa kau?" seru salah satu penjaga, menegakkan tombaknya.
Namun sebelum mereka sempat bergerak lebih jauh, pria itu menepuk tangannya dua kali. Dari balik pepohonan di luar tembok, suara lembut terdengar sebuah siulan panjang. Lalu tiba-tiba, kabut tebal menyelimuti area paviliun, disusul suara keras ssstt!
Kedua penjaga terhuyung, napas mereka tersengal sebelum akhirnya jatuh terkapar tanpa suara.
Gas tidur.
Daysi menatap sosok itu dengan mata terbelalak.
"Ludwig..."
Pria itu tersenyum samar, menurunkan tudungnya.
"Sudah lama, Lady Daysi."
Daysi menatapnya dengan campuran lega dan curiga. "Aku pikir kau sudah pergi. Setelah semua gagal—"
"Aku tidak meninggalkan sekutuku," potong Ludwig tenang. Ia mengambil kunci dari pinggang salah satu penjaga dan membuka gembok selnya. "Aku hanya menunggu waktu yang tepat. Istana kini sibuk dengan kemenangan semu Lilyana. Tidak ada yang memperhatikan paviliun di barat."
Pintu berderit terbuka. Udara malam yang dingin langsung menerpa wajah Daysi. Ia menatap langit, menghirup napas dalam-dalam, seolah baru saja hidup kembali.
"Jadi... kau datang menjemputku?" suaranya bergetar, nyaris tak percaya.
"Tidak," jawab Ludwig pelan. "Aku datang menepati janjiku. Dunia ini masih butuh orang seperti kita."
Ia menyerahkan jubah hitam padanya. "Kenakan. Jalan keluar sudah dijaga anak buahku."
Daysi menatap jubah itu, lalu tersenyum miring. "Aku kehilangan segalanya, Ludwig. Gelar, keluarga, bahkan wajahku di mata dunia. Tapi kau... kau masih datang."
Ludwig menatapnya lama, lalu berbisik dingin, "Kau tidak kehilangan segalanya, Daysi. Kau hanya kehilangan ilusi. Kini saatnya kau hidup dengan kebencian yang sesungguhnya."
Mereka melangkah keluar bersama, menembus kabut pekat yang menyelimuti paviliun.
Suara rantai yang terseret di tanah menjadi musik terakhir malam itu.
Di belakang mereka, dua penjaga terbaring tak sadarkan diri. Di atas, bulan merah menggantung saksi bisu dari kelahiran kembali dua jiwa yang dibakar oleh dendam.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Replacement Lady (End)
Fiksi SejarahBagaimana jadinya jika seorang pengangguran semenjak lulus kuliah tiba-tiba masuk ke dunia novel yang sudah 3 tahun lalu tak sengaja ia tulis, sialnya novel itu belum selesai ia tulis karena tiba-tiba ide ceritanya hilang entah kemana? Kesialan be...
