Capture 5

5.6K 286 0
                                        

⚠️Typo berserakan ⚠️

Jangan lupa vote

🌻 Happy Reading Guys 🌻


 

 


Sudah hampir satu jam Lilyana menyusuri hutan.
Angin membawa aroma tanah basah dan dedaunan tua yang mengering di bawah langkah kudanya.
Sejauh ini, hanya seekor rusa dan beberapa burung yang berhasil ia temukan terlalu sedikit untuk memenangkan kompetisi berburu.

“Lady, apakah kita tidak beristirahat dulu?” tanya salah satu kesatria yang mengikutinya, suaranya berat tapi terdengar cemas.

“Baiklah,” jawab Lilyana singkat.

Ia turun dari kuda, membuka kantung air, dan meneguknya pelan. Embusan napasnya berpadu dengan hawa lembab hutan yang sunyi. Setelah beberapa menit, ia kembali berdiri  wajahnya kini dipenuhi tekad.

“Kalian tunggu aku di sini,” ujarnya sambil menggenggam busur dan pedangnya. “Jika dalam tiga jam aku tidak kembali, kalian harus keluar dari hutan ini. Segera beritahu Ayah dan Kak Gerwyn.”

“Tapi, Lady—”

“Ini perintah,” potong Lilyana tajam. “Lakukan saja apa yang kuperintahkan.”

Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah menembus rimbunnya pepohonan. Suara ranting patah di bawah sepatunya mengiringi tiap langkah.
Ia tahu arah yang ditujunya—ke bagian hutan yang disebut terlarang. Tempat di mana batas dunia manusia dan sesuatu yang lain menjadi kabur.
Ia butuh kemenangan, meski harus menembus bahaya.

Namun langkahnya terhenti ketika suara dalam nada tenang terdengar di belakangnya.

“Apa yang Anda lakukan di tepi hutan terlarang, Lady?”

Lilyana tidak menoleh. “Hewan buruanku masuk ke dalam.”

Suara itu kembali terdengar, sedikit lebih dekat.
“Hewan buruanmu masuk ke hutan terlarang… atau kau sedang memastikan sesuatu?”

Kali ini Lilyana berbalik cepat.
Sosok pria berpakaian serba hitam berdiri tak jauh darinya, wajahnya tertutup kain. Tapi mata itu… ada sesuatu yang familiar.

“Hewan buruan saya memasuki hutan terlarang,” ujarnya datar, berusaha mengabaikan rasa was-was yang mulai merayap di dadanya.

“Saya tahu semua tentang Anda, Lady,” balas pria itu sambil melangkah mendekat.

“Berhenti bicara omong kosong, Tuan!”

“Justru Anda yang harus berhenti,” katanya tenang, namun kini jaraknya hanya sejengkal dari Lilyana. Tangan pria itu terulur cepat dan menangkap pergelangan tangannya.

Refleks, Lilyana menendang, meninju, mencakar  apa pun untuk melepaskan diri. Tapi pria itu menangkis semuanya, gerakannya terlalu terlatih.
Senyum samar muncul di balik kain penutup wajahnya.

“Masih sekuat dulu rupanya,” desisnya.

“Lepaskan aku!” Lilyana memutar tubuh, berusaha meraih pedang yang terjatuh di tanah.

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang