Capture 18

3.8K 164 2
                                        

⚠️Typo Berserakan ⚠️

Jangan lupa Vote

🌻Happy Reading 🌻

 


  

Perjalanan menuju Utara memakan waktu lima hari. Ini adalah perjalanan terjauh yang pernah Lilyana tempuh sejak ia memasuki duni ini, dan sejujurnya perjalanan itu sama sekali tidak nyaman. Setiap guncangan akibat jalanan yang tidak rata membuat tubuhnya serasa diperas dari dalam.

“Yang Mulia, bisakah aku naik kuda saja? Aku tidak nyaman berada di dalam kereta ini!” keluh Lilyana untuk kesekian kalinya.

Alasdair menghela napas pelan, matanya menatap lurus ke depan.
“Tidak bisakah kau bertindak layaknya seorang tuan putri?”

“Pangeran, bukankah kita akan melewati hutan?” tanya Lilyana lagi, nada suaranya setengah memohon.

Alasdair menoleh, satu alisnya terangkat curiga.
“Bolehkah aku naik kuda saja sepanjang hutan? Aku sudah muak di dalam benda kotak ini!” lanjut Lilyana kesal.

Senyum miring tersungging di bibir Alasdair. Ia lalu mengetuk dinding kereta tiga kali. Rombongan segera berhenti.
“Turunlah,” ucapnya singkat.

Tanpa pikir panjang, Lilyana langsung melompat turun. Ia menghirup udara dalam-dalam, seolah paru-parunya baru saja bebas dari penjara. Udara segar yang menusuk kulit terasa seperti anugerah.

“Ada apa, Yang Mulia?” tanya Arthur dengan nada cemas, melihat sang pangeran tiba-tiba berhenti.

Lilyana menatap Arthur sekilas. Ada sesuatu yang membuatnya kagum—gerak-geriknya sigap, pandangannya jernih. Ia tahu Arthur adalah putra ketiga dari seorang Viscount, tak akan mewarisi gelar, sehingga memilih mengabdi pada Pangeran Mahkota.

“Siapkan kuda untukku,” perintah Alasdair tenang.

Arthur langsung membungkuk dan bergegas menuruti perintah itu.

“Pangeran,” sela Lilyana dengan nada menggoda, “jika kau tidak membutuhkan Arthur lagi, berikan saja dia padaku!”

Tatapan Alasdair langsung menusuk tajam, membuat Lilyana refleks menelan ludah.

“Kudanya sudah siap, Yang Mulia!” seru Arthur setelah kembali.

“Arthur,” ujar Alasdair tanpa mengalihkan pandangannya dari Lilyana, “mulai sekarang, jangan pernah muncul di hadapan Putri Mahkota.”

Lilyana menatap Alasdair tak percaya.
“Baik, Yang Mulia,” jawab Arthur singkat, lalu menyingkir.

Tanpa peringatan, Alasdair mengangkat tubuh Lilyana dan menempatkannya di atas kuda.
“Aku bisa naik sendiri!” protes Lilyana, wajahnya memerah. “Kenapa kau juga naik ke sini?”

“Diamlah, dan nikmati perjalananmu,” balas Alasdair datar.

Lilyana akhirnya pasrah. Ia terdiam, membiarkan angin dingin menampar wajahnya. Jalan yang mereka lalui begitu indah—pepohonan tinggi berdaun perak, cahaya matahari menembus sela ranting seperti benang emas.

The  Replacement Lady (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang